
"Anan! Di mana Anan?" seru William tiba-tiba, membuat Ginan dan Robby berjingkat kaget.
"Kalian ada yang lihat Anan, nggak?" tanyanya panik. Anan dan Robby yang awalnya mematung, kini mereka tengah mengelus dada sembari mengatur napas. Jika saja ada dari mereka yang memiliki riwayat penyakit jantung, bisa dipastikan bahwa saat ini orang itu telah mendapat serangan. Mereka merasa takjub memikirkan bagaimana Anan bisa tahan dengan sikap William yang seperti itu
Ginan dan Robby menghembuskan napas dengan perlahan. Mereka saling menatap sebelum menoleh dan menggeleng pada William.
"Lo yang terakhir sama dia, kan, Le?" Ginan mengingatkannya.
William tahu itu benar, tapi ....
"Dia pamit ke kamar mandi dan sampai sekarang belum kembali. Gue harus nyari dia! Gue takut dia kenapa-napa!" William kembali diserang panik. Dia tiba-tiba saja berdiri hendak pergi, tetapi kedua orang itu mendekat dan menarik lengannya, memintanya duduk kembali ke sofa.
"Kondisi lo sedang enggak baik, Le. Lo bakalan bikin semua orang di luar sana semakin panik!" bentak Ginan sembari mendorong pelan tubuh William sampai pemuda itu terduduk.
Ginan benar. Hanya saja, William tak mungkin bisa tinggal diam. Dia tak mau kejadian yang sama terulang lagi, terutama jika itu terjadi sama Anan. Dia tak ingin keadaan sudah terlambat ketika akhirnya dia bisa menemukannya. Tidak. Dia tak mau apa yang terjadi pada Calvin dan Algo terulang kembali. Dia tidak bisa membiarkan hal itu terjadi pada sosok yang beberapa tahun ini sudah dianggapnya sebagai saudara. William tidak bisa kehilangan Anan. Dia mondar-mandir, sesekali menjambak rambutnya dengan gusar.
"Terus, gue harus gimana? Masak iya kita cuma duduk di sini sambil nungguin dia! Gue nggak mau terjadi apa-apa sama Anan. Gue nggak bisa!"
Melihat sikap William yang masih saja ngotot, Robby yang biasanya terkesan pendiam kini tidak lagi bisa tahan.
"Diam!" bentaknya. "Lo bisa tenang dikit, nggak?" Dia mencoba menurunkan intonasinya meski dari raut wajahnya terlihat jelas bahwa dia tidak dapat menyembunyikan emosinya. "Gue telpon dia, oke." Robby memperlihatkan layar ponselnya, mengetik mencari nama Anan di sana.
Beberapa detik kemudian panggilan pun terhubung.
"Kalian di mana!" teriakan cemas di ujung ponsel membuat ketiganya bernapas lega.
***
Anan menghabiskan lima belas menit waktunya untuk mengunci diri di kamar mandi. Dia merenung, memikirkan kalimat apa yang harus dia katakan pada William atas kecurigaannya pada Karina. Dia takut salah bicara hingga membuat temannya itu kecewa dan menimbulkan perseteruan di antara mereka. Setelah berpikir panjang, akhirnya dia memutuskan untuk tidak mengatakan apa-apa. Dia tidak boleh terlalu curiga pada Karina, setidaknya sampai ingatan tentang wanita itu benar-benar kembali, dan dia memiliki bukti. Anan menutup mata, mencoba meyakinkan diri sendiri bahwa setelah ini semuanya pasti akan baik-baik saja.
Pemuda itu baru saja ke luar beberapa langkah dari kamar mandi ketika menyadari bahwa suasana di sana sudah nampak lengang.
"Sepi sekali. Ke mana semua orang?"
Dengan pandangan heran, Anan bergegas kembali ke ruang perjamuan. Sesampainya di sana dia menemukan ruang perjamuan itu telah kosong. Tak seorang pun terlihat batang hidungnya.
"Nggak mungkin pestanya tiba-tiba berakhir gitu aja, kan?"
__ADS_1
Anan mondar-mandir di ruangan besar itu, perasaannya mulai tidak enak.
"Untung anak buah Tuan Wibisana bergerak dengan cepat. Kalau enggak, pasti semua tamu undangan udah bakalan heboh dan jadi berita besar," ucap seorang pelayan.
Pelayan yang lebih tua mengangguk menimpali. "Benar. Pembunuhan di pesta ulang tahun putra keluarga besar Wibisana. Bakalan langsung menduduki rating tertinggi pencarian berita terkini. Terutama di sosmed."
"Gila, ya. Ada gitu orang yang berani letakin tangannya tepat di bawah pengawasan Tuan Wibisana. Bosan hidup kayaknya tuh orang," lanjut pelayan yang lebih muda.
"Antara sudah gila, atau merasa punya nyali yang cukup besar." Pelayan tua mencibir.
Anan terkejut mendengar percakapan kedua wanita itu. Dia memblokir salah satunya, memegang lengan pelayan itu dengan kecang hingga membuat pelayan muda tersebut meringis kesakitan.
"Hei, Nak. Apa yang coba kamu lakukan?" Pelayan tua mencoba menghentikan tindakan kasar Anan. Namun, Anan sama sekali tidak peduli. Dia hanya ingin mencari tahu maksud perkataan mereka.
"Apa yang tadi sedang kalian bicarakan? Pembunuhan? Kapan dan di mana itu terjadi?" cecarnya.
"Kam-kamar 303," jawab pelayan itu ketakutan.
Anan langsung mengendurkan cengkeramannya. Hal itu dimanfaatin oleh pelayan tersebut untuk bergegas melepaskan tangannya dari Anan, lalu keduanya melarikan diri.
"Al-Algo. Ap-apa yang ...." Pemandangan itu membuat Anan ketakutan hingga kesulitan bernapas. Ketika dia mencoba untuk lebih mendekat, tiba-tiba semua yang ada di depannya terlihat semakin samar dan berubah menjadi gelap. Anan tak sadarkan diri karena terlalu syok.
Anan mengerjapkan mata sembari memegangi dada. Pandangannya perlahan-lahan mulai pulih. Dia menatap langit-langit, memandang sekeliling dengan linglung.
Seorang petugas medis yang sedari tadi menemani mendekat, memberikan sebuah inhaler untuknya. Anan menerimanya, menyemprotkan inhaler itu pada mulutnya sampai pernapasan kembali membaik.
"Tuan, anda baik-baik saja?" tanya petugas itu.
Anan mengangguk, berusaha untuk duduk ketika menyadari bahwa dirinya tengah berbaring di sebuah ranjang besar. Dia berusaha menenangkan diri, menatap sekeliling dan tahu bahwa dia berada di sebuah kamar hotel. Anan pun menanyakan tentang keberadaan teman-temannya pada petugas tersebut.
"Apa, Anda melihat ketiga teman saya yang lain?"
Petugas itu menautkan alis tak mengerti.
"Saya baru saja sampai ketika anda datang dan jatuh pingsan. Saya langsung ditugaskan untuk menangani anda. Mungkin anda bisa bertanya pada petugas yang tadi berjaga di sini," kata petugas itu, lalu memanggil seorang bodyguard untuk Anan.
Setelah mengatakan tentang ciri-ciri ketiga temannya, bodyguard itu pun segera memahami. Dia menceritakan pada Anan tentang apa yang terjadi setelah ketiga temannya sampai di tempat kejadian dan melihat kondisi dari korban. Sayangnya, petugas tak melihat ke mana arah ketiga pemuda itu pergi setelahnya.
__ADS_1
Anan mengerti, dia mengangguk berterima kasih. Diliputi rasa cemas dan kecewa, dia bergegas pergi dan mencoba menelpon William. Hanya saja, sampai dering berulang berkali-kali, William tak juga mengangkat telepon darinya.
"Lo di mana sih, Le!" Anan tahu William pasti sedang syok berat saat ini, mengingat traumanya di masa lalu. Dia tidak bisa membiarkan temannya itu sendirian.
Saat dia sedang bingung harus bagaimana, ponselnya tiba-tiba bergetar. Itu adalah telepon dari Robby.
"Kalian di mana!"
"Kamar 305." Robby menjawab singkat.
Anan mengakhiri panggilan itu dan bergegas menuju ruangan yang ternyata hanya berjarak beberapa meter dari tempatnya berdiri saat itu. Dengan napas tersengal-sengal dan tubuh dipenuhi keringat, dia membuka pintu dengan kasar. Dia memandang ketiga orang yang ada di ruangan itu dengan sedikit rasa bersalah.
Gue panik, oke! batinnya melihat pandangan kesal dari teman-temannya.
"Lo baik-baik saja kan, Le?" Anan langsung menghampiri William dan memeluknya, lega sekaligus khawatir akan keadaannya.
"Lo bau keringat, Nan!" William cemberut melepaskannya. "Lo di kamar mandi tidur apa ngapain, sih?"
"Lo udah bikin saudara Lo itu hampir bikin kita berdua jantungan, ngerti nggak?" kata Robby dengan kesal.
"Hah?" Anan melongo tak mengerti arah pembicaraan mereka.
"Dia khawatirin Lo, bego! Dipikir Lo kenapa-kenapa!" sewot Ginan.
Anan menyengir tanpa repot-repot menanggapi kata-kata mereka.
"Kalian ada yang tau nggak, apa yang terjadi sama Algo?" Ketiganya menggeleng.
"Kejadiannya mirip banget sama yang terjadi sama Calvin, Nan," kata William dengan lesu.
Anan yang saat itu hanya sempat melihat wajah Algo pun sedikit terkejut. Dia tidak menyangka jika keadaannya bisa seburuk itu.
Anan menatap iba pada sahabat rasa saudaranya tersebut. "Lo baik-baik aja kan, Le?"
William mengangguk pelan.
Gue enggak baik-baik aja, Le! Gue ngerasa kejadian saat ini ada sangkut pautnya dengan kejadian di masa lalu!
__ADS_1