
Karina baru saja selesai berbenah ketika mendengar suara ketukan dari pintu utama. Dahinya mengernyit heran, tidak mungkin William bisa datang secepat itu, mengingat pemuda itu baru saja menelpon beberapa menit lalu.
"Bukannya tadi dia bilang baru mau berangkat?" gumamnya, merasa ada yang aneh.
Meski merasa ada yang salah, Karina tetap turun untuk membukakan pintu. Jika itu benar William, dia tak mau membuatnya menunggu terlalu lama. Setelah pintu dia buka, mulutnya menganga tak percaya. Tak terlihat seorangpun ada di sana.
"Perasaan, aku tadi tidak salah dengar," herannya.
Di saat dia tengah termenung kebingungan, sebuah nama tiba-tiba muncul di pikirannya. Seketika itu juga jantung Karina terasa seolah akan melompat dari tempatnya. Wanita itu bergegas menutup pintu dan tak lupa menguncinya. Bersandar di balik pintu, dia terengah-engah ketakutan.
"Tidak mungkin dia!" lirihnya.
Tubuh Karina merinding. Dia mengatur napas, mencoba untuk menenangkan degup jantungnya yang berdetak terlalu kencang. Dia harus mencari kesibukan untuk menghilangkan pikiran-pikiran yang tak diinginkan. Karina memutuskan untuk pergi ke dapur dan membantu asisten rumah tangganya menata hidangan.
"Aku bantu, ya, Bik."
"Baik, Non." Asisten rumah tangga paruh baya itu tersenyum sopan.
Dalam dua puluh menit hidangan pun sudah tersaji dengan rapi. Karina membantu ayahnya berpindah dari kursi roda ke kursi meja makan. Meski sedikit kesulitan, wanita itu tetap tersenyum.
Melihat wajah merona putrinya, Bramantyo terkekeh bahagia.
"Ini pertama kalinya Daddy melihatmu begitu bahagia. Apa pemuda ini cinta pertama kamu, Karin?" tanyanya sembari tersenyum menggoda.
Seharusnya Karina malu-malu mendengar godaan dari ayahnya. Namun, senyum wanita itu perlahan justru meredup. Dia memejamkan mata, memutuskan ingin memberitahu Daddy-nya tentang kebenaran yang selama ini dia simpan, meski itu menyakitkan. "Dad, sebenarnya ...."
Tok tok tok!
Karina bernapas lega, ketukan itu akhirnya menyelamatkannya. Jika Karina benar-benar mengatakannya, daddynya tidak hanya akan kecewa. Lelaki paruh baya itu pasti akan menyalahkan diri sendiri, merasa bahwa dialah penyebab putrinya tidak bahagia. Dia tersenyum, lalu mengelus lembut pundak lelaki yang telah menjadi cinta pertamanya itu.
"Dad, sepertinya dia datang," ucapnya, meninggalkan lelaki paruh baya tersebut untuk melihat siapa orang yang telah mengetuk pintu.
Karena masih takut dengan ketukan sebelumnya, Karina memutuskan untuk mengintip terlebih dulu dari korden jendela. Setelah melihat itu benar-benar William, dengan tergesa dia pergi untuk membuka pintu. Wajahnya berseri saat menatap kekasih pujaannya itu.
"Will!" girangnya, tak bisa menyembunyikan rasa senangnya.
__ADS_1
Beberapa waktu yang lalu Karina sempat ragu, berpikir bahwa William mungkin tak akan benar-benar datang. Kini dia bisa melihat wajah kekasihnya itu benar-benar ada di depan mata, dan perasaan bahagia pun meluap seketika.
"Ada apa, Will?" tanya Karina ketika menyadari raut wajah William sedikit murung.
William mengubah mimik wajahnya, memaksakan untuk tersenyum. "Hanya merindukanmu," kilahnya. Karina bernapas lega.
Kedua orang yang masih di mabuk cinta itu pun saling bertatap mesra. Seulas senyum mekar di wajah perempuan cantik yang tengah memakai dress hitam selutut itu.
"Aku pikir, kamu enggak jadi datang," katanya sembari memeluk William dengan manja.
William tersenyum tipis, meski Karina tak dapat melihatnya. Beruntung dia tak jadi menarik keputusannya. Jika dia melakukannya, dia pasti akan melihat raut kecewa kekasihnya.
"Aku punya sesuatu buat kamu," kata william.
Karina melepas dekapannya. Matanya terkesiap saat William memberinya sebuket mawar putih.
"Ini sangat cantik," kagumnya.
Karina terpesona oleh perlakuan manis William. Dia menatap bunga itu dengan mata berbinar, tak lupa menghidu aroma wanginya. Wanita itu tidak tahu jika saat ini William sedang mati-matian menahan rasa penasarannya tentang barang yang baru saja dia temukan.
***
"Halo, Om. Saya William. Pacarnya Karina," kata William, memperkenalkan diri dengan canggung pada Bramantyo. Daddy Karina yang sedari tadi sudah duduk menunggu itu pun tersenyum sembari menerima uluran tangan dari pemuda yang dicintai putrinya tersebut.
"Pantas saja putriku begitu bersemangat ketika bercerita tentangmu. Kamu memang terlihat luar biasa, Nak," pujinya, membuat William tersenyum malu.
"Apa pekerjaan kamu?" tanyanya, tanpa basa-basi.
Selama ini Karina memang tidak terlalu terbuka padanya. Dia hanya mengatakan bahwa tengah dekat dengan seseorang, pemuda blesteran bermarga Ferdinand. Putrinya itu tidak pernah menjelaskan lebih perihal orang yang dicintainya tersebut.
"Sekarang saya hanya seorang asisten chef, Om. Tahun ini perusahaan sedang mempromosikan saya menjadi salah satu chef utama mereka," kata William penuh percaya diri.
Bramantyo mengangguk, senang dengan sikap terbuka calon menantunya. "Itu bagus. Usiamu masih sangat muda, tetapi punya bakat yang luar biasa. Putriku tidak salah pilih," pujinya dengan bangga.
Sedangkan Karina hanya bisa menunduk setelah mendengar kata-kata daddynya. Daddynya tidak tahu apa yang telah dialaminya sebelum memutuskan untuk menjalin hubungan bersama William. Dia tidak hanya telah salah memilih, tetapi juga telah salah karena menyembunyikan hal yang begitu besar dari ayahnya. Namun, dia tidak punya pilihan.
__ADS_1
"Sorry, Dad," batinnya. Saat itu hanya pilihan tersebut yang dia punya. Andai Bramantyo tahu bahwa apa yang selama ini terjadi pada dirinya ada sangkut pautnya dengan Karina, mungkin kata-kata seperti itu tidak akan terus dari bibirnya.
"Om senang akhirnya putri om ada yang jaga."
Lelaki paruh baya itu mendesah sedih, matanya yang tak lagi setajam dulu menatap kosong pada langit-langit. Dia masih sangat ingat ketika dulu Karina selalu menjadi permata bagi dia dan istrinya. Mereka selalu memanjakan Karina dan memenuhi apapun keinginannya. Sampai ketika gadis itu masuk sekolah menengah pertama, maminya di diagnosis kanker hati. Wanita pujaannya itu hanya bertahan selama empat tahun. Bramantyo sangat sedih. Dia begitu terpukul dan kehilangan, tetapi dia tahu tak akan mungkin untuk bisa melawan kehendak semesta. Meski sulit, perlahan-lahan dia mulai menerima kenyataan dan bersumpah untuk tidak akan pernah menikah lagi.
"Setelah kepergian mommy-nya, dia harus belajar untuk hidup mandiri. Dan dipaksa lebih mandiri lagi setelah aku kecelakaan dan Karina harus menjadi tulang punggung," ucapnya sendu.
Tiga tahun setelah kematian istrinya, tiba-tiba saja Bramantyo di PHK tanpa adanya penjelasan. Saat itu kuliah Karina baru memasuki semester ketiga. Seakan semesta belum merasa cukup dengan apa yang telah dideritanya, tak lama kemudian dirinya mengalami kecelakaan di saat sedang mencari informasi pekerjaan. Dia tidak bisa apa-apa selain melakukan semua aktivitasnya di atas kursi roda, setelah dokter mengatakan bahwa kakinya mengalami kelumpuhan total.
Mau tak mau Karina harus bertanggung jawab atas seluruh biaya hidup mereka. Meski hanya menggunakan satu asisten rumah tangga yang tidak setiap hari menginap di sana, serta seorang tukang kebun yang datang setiap dua Minggu sekali, nyatanya biaya hidup mereka butuh pengeluaran yang tak sedikit.
Karena tidak tahu harus berkata apa untuk menenangkan ayah kekasihnya, William lebih memilih untuk diam dan menjadi pendengar.
"Dad ...." Karina tak tahan lagi melihat mata daddy-nya yang mulai merah dan berkaca-kaca. Dia tahu daddy-nya tengah berusaha untuk tidak meneteskan air mata.
Bramantyo dulu bukan orang yang emosional. Dia membenci orang-orang yang bersikap cengeng, dan sering mengingatkan Karina untuk tidak seperti mereka. Sebelum akhirnya sedikit demi sedikit semesta mempermainkan kehidupannya, dan dia merasakan sendiri seperti apa hidup layaknya orang sekarat.
Bramantyo terkekeh melihat wajah cemas putrinya. Dia mengusap lembut pundak Karina.
"Ini pertama kalinya kamu memperkenalkan seseorang padaku. Sepertinya, William adalah satu-satunya orang yang pernah kamu cintai."
Hati Karina terasa pias. Dia menunduk, menyembunyikan kilatan rasa bersalah yang muncul dari matanya. Seandainya lelaki paruh baya itu tahu yang sebenarnya ....
"Dad, makanannya sudah mulai dingin," sela Karina sambil tersenyum. Dia tak ingin percakapan melankolis itu semakin berlarut. "Nanti tidak sedap lagi," ucapnya sembari mengerucutkan bibir.
Bramantyo tahu jika putrinya tak ingin melanjutkan percakapan tersebut. Dia mengusap lembut kepala putrinya yang tengah berjongkok di depannya itu dengan penuh kasih sayang.
"Putriku benar. Mari kita makan dulu. Nanti kita lanjutkan lagi ngobrolnya," sepakatnya.
William mengangguk, lalu duduk di kursi yang berhadapan dengan Daddy Karina. Sementara itu, Karina duduk di samping Bramantyo sambil melayani ayahnya.
Dalam sekejap ruangan itu menjadi sunyi. Hanya denting sendok serta garpu yang sesekali berbunyi memecahkan keheningan. William makan dengan tenang, dia selalu menyukai masakan rumahan karena rasanya seperti makan bersama sebuah keluarga.
Tidak ada yang tahu jika makan malam itu akan menjadi yang pertama serta terakhir kalinya untuk mereka!
__ADS_1