
CINTA SANG MAFIA 31
AMARAH
Perseteruan yang sama sekali tidak Anan pahami itu sudah berlangsung selama tiga hari penuh. Selama itu pula mereka hampir tidak pernah bertegur sapa. Lebih tepatnya, William seolah-olah sengaja menghindar dari Anan, tak ingin membicarakannya.
Mengapa? Pertanyaan itulah yang selalu hadir dalam benak Anan, hingga membuatnya tak tenang.
Pada akhirnya Anan mengalah, pagi itu dia memutuskan untuk bangun lebih awal dan menunggu sampai William terbangun. Tidak masalah jika dia harus bolos kerja, asal hubungannya dengan William berakhir baik-baik saja. Setidaknya, dia harus tahu di mana letak kesalahannya hingga membuat saudara angkatnya itu secara terang-terangan menjauhinya. William harus menjelaskan poin kesalahan Anan supaya dia mengerti dan bisa secepatnya memperbaiki. Hari ini dia tak akan membiarkan William menghindar lagi.
Meski tidak sehebat chef William, Anan sudah sibuk di dapur mencoba membuat sarapan untuk mereka berdua. Tak lama setelah Anan selesai membuat sarapan, pintu kamar akhirnya terbuka.
William sedikit terkejut melihat Anan yang tengah duduk di sofa dengan santai, seakan sengaja untuk menunggunya. Akan tetapi dia tetap bersikap cuek, tak ingin memedulikannya. Dia pergi ke kamar mandi tanpa sedikitpun menoleh, seakan-akan Anan tak berada di sana.
Anan mendengus sedih melihat itu semua. "Sabar, Nan. Tunggu sampai Bule selesai berbenah, baru ajak bicara," gumamnya pada diri sendiri.
"Le, bisa kita bicara dulu?" pinta Anan saat dilihatnya pemuda itu telah berdandan rapi.
William yang hendak mengambil kunci motor pun menghentikan tindakannya. Dia sebenarnya sadar bahwa sejak tadi pemuda itu memang sengaja menunggunya. William berdiri menghadap Anan dengan tangan terlipat di dada, tetapi tak mengatakan apa-apa. Seperti itu saja Anan sudah merasa cukup lega, setidaknya saudara angkatnya itu tidak lagi menghindarinya.
"Bisa kita sarapan dulu?" pintanya Anan lagi, meski kali ini dia tak terlalu berharap William akan menyetujuinya.
"Gue nggak punya waktu," jawab William dengan dingin.
Karena sudah menebak sebelumnya, Anan mengangguk, tak ingin memaksa meski menghawatirkan keadaan sahabatnya yang terlihat semakin tak terawat itu. Dia tahu William benci dipaksa, dan jika terus memaksa, Anan bisa kehilangan kesempatan terbaiknya untuk berbicara.
"Le, selama ini jika kita punya masalah, bukankah kita selalu membicarakannya baik-baik? Katakan jika gue ada salah, dan gue bakal perbaiki," kata Anan dengan bijaksana.
__ADS_1
William tersenyum mengejeknya. "Lo yakin masalah kita kali ini bisa dibicarakan baik-baik, Nan?"
Anan terkejut dengan tanggapan itu. "Le, gue bahkan nggak tahu kesalahan apa yang telah gue lakuin hingga bikin lo marah kayak gini. Kalau lo nggak ngomong, gimana gue bisa bilang yakin?"
William masih tak bergeming.
"Jika ini karena malam itu gue nggak ada pas lo lagi butuh gue, gue benar-benar minta maaf. Gue bisa jelasin ..."
"Jelasin apa!" sahutnya tak sabar, lalu melotot marah pada Anan. "Jelasin kalau lo sejak awal sudah tahu soal kebakaran di rumah Karina!" tuduhnya sembari melempar kuat asbak yang tergeletak di sebelahnya.
Prang! Asbak kaca itu menghantam tembok dan hancur berkeping-keping. Mata Anan membulat tak percaya dengan sikap William yang semakin membabi buta.
"Lo kenapa sih, Le! Ada apa dengan sikap lo ini?" Anan berdiri menghampirinya.
William pun melangkah mendekatinya, menatap tubuh Anan yang beberapa senti lebih pendek darinya itu dengan sikap mengintimidasi. Anan menelan ludah, bingung dengan apa yang sebenarnya sudah terjadi.
"Gue kasih lo kesempatan buat jujur sama gue, Nan. Di mana sebenarnya lo sembunyiin Karina!"
Anang menggeleng sedih. Dia kira hal itu sudah cukup menyakitkan, nyatanya belum seberapa jika dibandingkan dengan kalimat yang selanjutnya kembali terlontar dari bibir sahabatnya.
"Katakan di mana lo sembunyiin Karina, dan mungkin gue masih bisa anggap lo sebagai saudara," imbuhnya tanpa perasaan.
Anan merasakan tangannya semakin gemetar. Dadanya tiba-tiba saja menjadi sesak. Akan tetapi, rasa sesak kali ini berbeda dari rasa sesak yang sebelumnya sering dia alami karena penyakitnya. Dia merasa seolah-olah dirinya telah dilempar sangat jauh, lalu jatuh tertimbun di dalam tumpukan salju. Sakit dan dingin, hingga membuatnya perih dan membeku. Untuk pertama kalinya Anan benar-benar merasakan apa itu kecewa sekaligus sakit hati. Sungguh menyesakkan, hingga kini dia benar-benar tidak bisa bernapas dengan lega lagi. Tuduhan William tak berdasar, Anan tak bisa menerima.
"Lo nuduh gue, Le?" lirihnya dengan mata berkaca-kaca. Sorot matanya meredup, kekecewaan terlihat jelas dari sana.
Melihat tatapan kesakitan itu, hati William merasa tak nyaman. Tapi dia memilih untuk menghindar dan menelan bulat-bulat perasaan itu. Dia tak boleh menjadi lemah dan bersikap lunak terhadapnya. William memejam sebelum akhirnya menatap semakin tajam.
__ADS_1
"Lo bener-bener nuduh gue?" ulang Anan, masih tak percaya melihat amarah William yang sama sekali tak mereda.
"Menurut lo?" William bertanya dengan sakartis.
Anan menatap lekat kedua netra yang sudah memerah itu, mencari secuil harapan serta kepercayaan dari sana. Sayangnya, Anan tak bisa lagi melihatnya. "Le, kita kenal udah cukup lama." Dia masih berusaha untuk membujuk, meski tahu mungkin sia-sia.
Benar saja, hati William benar-benar telah buta. Nalar pemuda itu telah tertutup oleh amarah serta cintanya pada Karina. Bukannya iba atau mendengarkan perkataan Anan terlebih dahulu, dia justru semakin mencibirnya.
"Apa itu bisa dijadikan sebuah jaminan, Nan?"
Bukan tanpa alasan William bersikap demikian. Sore itu, di hari yang sama sekembalinya William kembali dari kantor polisi, dia sudah berniat akan menanti Anan untuk mendiskusikan semua masalah itu dengannya. Namun, sesampainya di depan indekost dia justru bertemu seorang kurir yang mengantar sebuah amplop padanya. Isi amplop itu sungguh mengejutkan William, membuatnya merasa sangat kecewa. William terprovokasi oleh kata-kata di dalamnya dan langsung meragukan Anan. Bukannya pergi meminta penjelasan padanya, dia justru semakin menghindarinya. William takut jika hal itu benar, dan tak siap akan konsekuensinya.
Mata Anan memerah mendengar tanggapan dari William. "Apa alasan lo nuduh gue kayak gitu, Le?"
William tertawa mencemooh. "Lo sungguh bertanya alasannya, Nan?" Dia bahkan tak peduli lagi dengan keadaan sahabatnya.
"Untuk punya keyakinan kuat dalam menuduh seseorang, bukankah orang itu juga harus memiliki alasan yang kuat, Le?" Anan masih membela diri.
William justru semakin marah melihat temannya yang berusaha untuk terus membantah. Dia menganggap Anan sengaja menutup-nutupi perbuatannya padahal sudah jelas salah. Dia hanya ingin mendengar kejujuran dari Anan, ingin tahu apakah saat ini Karina baik-baik saja.
"Alasan kuat?" William terkekeh.
Dia menundukkan kepalanya, menatap tajam pada Anan. Pemuda blesteran itu menggertakkan gigi dengan emosi.
"Katakan, Nan. Kenapa lo selalu menghilang di waktu yang tidak tepat," tanyanya dengan dingin.
Anan menggeleng pelan. "Gue nggak ngerti maksud lo, Le."
__ADS_1
"Ha ha ha!" William tertawa mencemooh. Dia membuka dua kancing baju atasnya, berusaha mengatur napasnya yang terengah-engah karena terlalu terbawa amarah.
"Lo ngilang sewaktu Algo terbunuh, dan Lo juga nggak ada di sini waktu kebakaran terjadi di rumah Karina! Apa gue nggak layak buat curiga, Nan? Apa alasan itu cukup buat lo!"