CINTA SANG MAFIA: Wanita Yang Kedua

CINTA SANG MAFIA: Wanita Yang Kedua
CSM5 KAMBUH


__ADS_3

William bergegas menyetarter motornya meninggalkan apartemen yang selama ini ditempati Karina. Dia melajukan kuda besi itu dengan kencang tanpa memedulikan dinginnya embusan angin malam yang terasa menelusup hingga tulang. Dia terus merutuki kebodohannya, untuk pertama kalinya tanpa sadar telah melalaikan tanggung jawabnya. Meninggalkan Anan seorang diri, padahal tahu jelas seperti apa kondisi sahabatnya itu.


"Le, aku kehabisan inhaler." Suara lemah serta napas terengah-engah dari seberang telepon masih menghantam pikirannya. Saat itu dia hanya bisa berharap agar Anan baik-baik saja, sampai dirinya kembali.


Beruntung pagi itu jalanan masih sangat sepi. Mungkin karena rintik hujan yang sedari semalam tak kunjung berhenti membasahi dan itu memudahkan perjalanannya. William menerobos jalanan dengan kecepatan lebih, hanya berhenti sejenak di apotek 24 jam untuk membeli pertolongan pertama yang Anan butuhkan.


William bernapas lega dapat sampai di indekos dalam kurun waktu lima belas menit saja. Dia memarkirkan motornya dengan tergesa, langkahnya memburu seketika. Setitik penyesalan menyeruak dalam hatinya kala mengingat hal-hal buruk bisa saja terjadi tiba-tiba pada Anan.


"****! Goblok banget sih, gue," umpatnya pada diri sendiri.


"Cinta benar-benar membuat gue gila!" Dia tertawa getir sembari meraup wajahnya dengan kasar.


Sesampainya di depan pintu kost, sesuatu yang mencurigakan menghentikan langkahnya. Dia mematung, netranya memindai pada sepasang tapak sepatu yang masih terlihat baru.


"Nan!" teriaknya, panik.


"Ananta Permana!"


William mengetuk-ngetuk pintu dengan cemas. Dia tidak tahu kenapa hari itu dia bisa sekhawatir itu. Pikiran buruk terus berkelebat di benaknya, padahal hal seperti itu tidak pernah terjadi sebelumnya.


William mengambil kunci cadangan dari bawah pot dekat kamarnya setelah tak juga mendengar sahutan dari dalam sana. Dia masuk dengan tergesa, dan benar saja. Sesampainya di dalam kamar dia menemukan Anan, sahabatnya itu sudah meringkuk di lantai sembari memegangi dada. Bulir-bulir keringat terlihat jelas dari pelipisnya.


"Nan, are you oke?" tanyanya gemetar.


Dia bergegas menghampiri Anan.


Anan mengangkat kepalanya, menatap William dengan napas tersengal-sengal.


"Tidak apa-apa. Aku di sini sekarang."


Dengan tangan sedikit gemetar dia membuka inhaler yang tadi dibelinya dan membantu Anan untuk bersandar pada tembok.


Anan mengambil inhaler itu darinya tanpa berkata-kata. Dia memandang William dengan wajah pucat, belum sanggup berbicara.


"Nan, sorry ...." ucapnya merasa bersalah.

__ADS_1


"Sorry. Gue salah udah ninggalin loe sendirian. Loe perlu ke dokter, Nan?" tanyanya kemudian.


Anan menggeleng lemah. Dia menyemprotkan inhaler itu ke dalam mulutnya sambil sesekali menarik napas, dan baru berhenti setelah merasa napasnya lebih stabil.


"Aku tidak apa-apa, Le." Anan menatap raut wajah William yang terlihat sangat cemas. "Aku baik-baik saja. Ini bukan yang pertama kalinya, tetapi kamu masih setakut itu?" cibirnya dengan suara lemah.


Bukan itu, Nan! batin William. Kali ini aku membiarkanmu kesakitan hanya untuk kepentingan pribadi. Dia mencela dirinya sendiri.


"Cukup dengan beristirahat, dan besok juga sudah membaik." Anan mencoba meyakinkan William, berharap dapat menarik kekhawatiran serta rasa bersalah yang terlintas di matanya.


"Dan loe nggak perlu minta maaf ke gue. Gue yang seharusnya berhutang maaf sama loe. Selama ini gue udah terus-terusan repotin loe." Akunya.


Anan tidak akan pernah mungkin menyalahkan William. Sama sekali tidak. Dia tahu itu bukan kewajiban William untuk terus menjaganya, dia sadar bahwa tak akan mungkin selamanya dia tetap bergantung dan mengandalkan William dalam hidupnya.


Ada masanya William harus mengejar mimpi dan masa depannya sendiri, dan William berhak untuk itu. Anan tidak ingin menjadi penghalang baginya. Sudah cukup selama ini dia selalu merepotkannya, menyita hampir setiap waktu luangnya sama seperti benalu.


Sudah saatnya kamu memikirkan masa depanmu sendiri, Le! pikirnya. Aku hanya perlu terbiasa untuk bisa melewati hari-hariku dalam kesendirian.


Anan menghela napas panjang, memikirkan kehidupannya hanya akan terasa lebih menyedihkan. Dia tidak ingin memberi harapan, bahkan meski tahu akan ada seseorang yang mencintainya dengan tulus. Anan tak ingin lebih menyakiti hati orang itu dengan hidupnya yang entah sampai kapan.


Wajah Anan murung. Dia tentu menyangkal hal itu.


"Loe tidak harus melakukannya. Bukan kewajiban loe, Le."


William menatap nyalang, tak menyukai penolakan dari Anan.


Dia ingat seperti apa mereka bertemu. Seperti apa kehidupannya dulu sebelum bertemu Anan dan keluarganya. Anan baginya adalah secercah cahaya yang menariknya dari sudut gelap, memberinya kehangatan serta kasih sayang keluarga yang seharusnya tak dia dapatkan.


William dan kakaknya, Calvin, mereka hidup terlantar di sebuah panti asuhan. Selama hidup Calvin tidak pernah menceritakan tentang bagaimana keluarganya serta asal-usul mereka. Dia hanya tahu bahwa ibunya meninggal ketika melahirkannya, sedangkan ayahnya mengirim mereka ke panti asuhan ketika usianya enam tahun, karena tak sanggup menanggung beban sebagai orang tua tunggal.


Beruntungnya mereka terlahir menjadi anak-anak yang cerdas dan memiliki tubuh yang sangat sehat, sehingga dapat mengandalkan beasiswa untuk meneruskan studi mereka.


William dipertemukan dengan Anan ketika masih duduk di bangku menengah pertama. Anan, seorang anak yang sakit-sakitan sering dijauhi oleh teman-temannya, karena dianggap sebagai beban.


William, seorang anak yatim piatu yang terbiasa menyendiri itu tak menyukai sikap mereka dan memutuskan untuk menghampiri Anan. Kedua orang yang memiliki sisi berbeda itu perlahan mulai akrab dan akhirnya berteman.

__ADS_1


Melihat keakraban di antara keduanya, orang tua Anan memutuskan untuk mengadopsi William dari panti asuhan meski mereka dalam keadaan serba biasa-biasa saja.


Saat itu tepat ketika Calvin mendapatkan undangan beasiswa untuk meneruskan kuliahnya. Mau tak mau dia harus meninggalkan William, hingga hal itu menjadi beban pikiran untuknya. Secercah cahaya muncul ketika ibu panti mengatakan padanya bahwa sebuah keluarga kecil ingin mengadopsi adiknya. Ibu panti memastikan jika mereka adalah keluarga baik-baik yang sudah sangat mengenal William.


Calvin bernapas dengan lega. Dia dapat meneruskan studinya dengan leluasa.


Tuan dan nyonya Permana merangkul bocah yang masih beranjak remaja itu, merawat dan menyayangi William seperti anak mereka sendiri. Mereka tak pernah membeda-bedakannya dengan Anan.


Ketika Calvin meninggal pun, mereka dengan murah hati membantu mengurus pemakamannya hingga selesai. Mereka tak pernah sekalipun meninggalkannya, dengan sabar menuntunnya untuk bangkit kembali dari keterpurukan.


"Jangan bantah kata-kata gue, Nan! Gue nggak suka. Gue ngerasa seolah-olah loe mau mutusin hubungan persaudaraan di antara kita."


Anan terdiam. Dia sudah cukup mengenal temperamen William dan tak ingin berdebat lagi dengannya. Dia sendiri juga sudah kelelahan karena penyakitnya yang kambuh semalam.


"Loe inget, kan, Nan. Gue pernah bersumpah sama ayah dan ibu buat jagain loe seperti gue jagain diri gue sendiri. Dan gue bakalan tepatin janji gue," tegasnya. "Untuk hari ini gue bener-bener minta maaf. Gue bakal berusaha buat nggak ada yang kedua atau ketiga kalinya."


Dia mencengkeram kedua bahu Anan, berusaha untuk meyakinkannya.


Sebelum sebuah kecelakaan yang terjadi pada kedua orang tua angkatnya merenggut nyawa mereka, William telah berjanji akan menggantikan tanggung jawab mereka pada Anan. Dia berjanji akan menjaga Anan seperti yang sudah kedua orang tua itu lakukan untuknya.


"Gue enggak pernah raguin loe, Le. Gue cuma lelah dan butuh istirahat. Loe nggak perlu terlalu khawatir atau banyak berpikir."


Anan menepuk-nepuk punggung tangan William, menenangkannya.


"Ya. Loe emang butuh tidur. Jangan banyak bicara dan cepatlah istirahat."


Anan memutar bola matanya. 'Lo yang sedari tadi banyak bicara!'


"Lo basah." Dia melirik pakaian William. "Mandi sebelum masuk angin," katanya, prihatin.


William menyunggingkan senyum nakal. "Loe khawatirin gue?"


Anan menatap wajah sumringah itu, dia mengedikkan bahu dengan santai. "Kalau Lo sakit, siapa yang jaga gue?" katanya tanpa rasa bersalah.


William merasa jengkel. Mulutnya bergumam tidak jelas, ingin sekali mengumpat orang di hadapannya jika saja tidak tahu kondisinya.

__ADS_1


"Bagus. Dari caramu berbicara, sepertinya kamu sudah baik-baik saja," ujarnya, meninggalkan Anan yang sedang terkekeh sembari memegangi dada.


__ADS_2