
Anak menepuk-nepuk punggung William, mencoba menenangkannya.
"Santai aja, Le. Masih banyak waktu buat kenalin dia ke kita-kita. Momen baik gak akan datang sekali saja, kok," ucapnya dengan penuh pengertian.
Algo yang sedari tadi hanya diam memperhatikan, kini mengangguk menanggapi," ya. Mungkin dia benar-benar terjebak sama pekerjaan."
William sebenarnya merasa lega. Dia tahu teman-temannya tak akan mempermasalahkan hal sekecil itu. Hanya saja, dia lebih khawatir jika bosnya yang gila itu mempersulit atau bahkan menyakiti Karina lagi. Hatinya tak akan berhenti gelisah sebelum dia bisa memastikan keadaan kekasihnya.
Robby hanya menyimak, tidak berkata apa-apa. Sementara itu, Ginan yang sedari tadi diam-diam mencerna percakapan mereka, mau tak mau mengutarakan apa yang sedari tadi mengganjal di benaknya.
"Apa pekerjaan wanitamu itu, Le?"
William berpikir sejenak. "Dia belum mengatakannya dengan pasti. Mungkin, staf hotel?" jawabnya ragu.
Sebagai orang yang sudah banyak berpengalaman dalam mengenali bermacam jenis kolega, Ginan mencibir dalam hati.
"Kenapa loe tidak berpikir bahwa--"
"Will!"
Bahwa dia mungkin seorang pekerja malam ....
Perkataan yang hendak Ginan lontarkan tiba-tiba terpotong oleh suara merdu seorang wanita. Kelima pemuda itu menoleh, tatapan mereka jatuh pada sosok wanita cantik yang tengah berdiri menghadap William.
Gaun tipis merah menyala itu melekat pas ditubuhnya, lekukan-lekukan indah terpapar dengan jelas memanjakan setiap pasang mata. Kulit putihnya terlihat lebih halus ketika diterpa cahaya lampu. Rambut ikal sebahu, leher jenjang, tubuh langsing serta wajah ovalnya yang cantik membuatnya terlihat semakin seksi dan menarik. Belum lagi, perona merah di bibir serta sepatu high heels sepuluh senti yang membuatnya semakin memikat. Seakan, dia memang sengaja diciptakan Tuhan untuk menggoda setiap mata adam yang melihatnya.
Wanita itu tersenyum lembut pada William, tanpa malu menghampiri lalu memeluknya. William menyambut kedatangan Karina sembari mendesah lega.
Semua itu tidak ada yang luput dari pandangan Ginan. Sebagai orang yang sudah sangat berpengalaman mengenal banyak tipe, juga sebagai orang yang turut berkecimpung dalam dunia malam, dia bisa menebak Karina wanita seperti apa.
Kamu terlalu buta, Le! umpatnya.
Dia tidak mengatakannya. Memilih menyimpan hal itu untuk dirinya sendiri, karena tak ingin menimbulkan perseteruan di antara mereka.
Dia yakin suatu saat nanti William pasti akan mengetahuinya sendiri, dan biarkan alam yang mengambil jalan untuknya.
"Sorry, Will. Aku telat," sesal Karina dengan tatapan bersalahnya.
William mengecup puncak kepala Karina untuk menenangkannya, dia menatapnya dengan lega. "It's oke. Asal kamu baik-baik saja, Baby."
Mereka berpelukan kembali, seakan saling menumpahkan kerinduan lewat tindakan masing-masing.
"Terima kasih sudah menyempatkan untuk datang, Baby," ucap William dengan tulus.
Dia berpikir bahwa saat ini Karina pasti sudah sangat lelah dengan pekerjaannya. Namun, alih-alih pulang untuk beristirahat, dia justru menyempatkan diri untuk menepati janjinya.
Saat itu hati William terasa menghangat, tidak tahu akan hal yang sebenarnya.
Karina mengerucutkan bibirnya, masih merasa tak enak hati." Dan aku membuatmu menunggu lama."
__ADS_1
William terkekeh mendengar gerutuannya. Dia mengusap lembut kedua pipi Karina, melihat jejak tamparan sebelumnya yang ternyata sudah tak ada. Entah itu karena pengaruh make up-nya, atau memang sudah benar-benar sembuh.
Seakan-akan telah mengetahui isi pikiran William, Karina menggenggam lembut jemari yang masih menempel di pipinya itu, berkata untuk meyakinkan. "Tidak apa-apa, Will. Ini benar-benar sudah sembuh."
William tak menyahut. Dia tenggelam dalam fantasinya, menatap wanita cantik di depannya dengan linglung. Seandainya mereka tidak berada di tempat umum, dia yakin dia pasti sudah kehilangan kendali!
Benarkah saat itu dirinya benar-benar mencintai Karina? Atau sebatas terpesona semata?
"Ekheem!" Deheman serempak itu membuyarkan tatapan keduanya.
Karina tersipu, menatap satu persatu teman William dengan senyum canggung. William dengan ekspresinya yang biasa, maju untuk memperkenalkan wanita itu pada teman-temannya.
"Dia ... kalian pasti sudah bisa menebak," katanya dengan bangga. "My Girl Friend, Karina."
Algo mengangguk, mengajukan diri untuk membuka perkenalan.
"Hai Karina. Perkenalkan. Gue Algo."
"Hai, Algo," balas Karina, masih tersenyum.
Robby pun mendekat, mengulurkan tangan padanya yang langsung disambut sopan oleh Karina. "Gue, Robby," katanya singkat.
Karina mengangguk," senang bertemu denganmu, Robby".
Matanya lalu beralih pada Ginan, yang dia sadari sedari tadi telah menatapnya dengan cara berbeda. Tatapannya membuat Karina gugup, tatapi dia tetap memberanikan diri untuk mengulurkan tangan.
"Hallo," sapanya ramah.
"Hai, Karina. Panggil gue Ginan. Ginanjar Wibisana, pemilik Violet Bar," tekannya di akhir kalimat.
Tubuh Karina seketika membeku. Bukan hanya karena kata-katanya, tetapi juga karena tatapannya yang terlihat menohok. Dia telah menerka makna dari sikapnya itu, dan menyimpulkan bahwa Ginan sedang memberi sebuah peringatan untuknya.
'Apa ini karena hubunganku dengan William?' Hatinya berdebar penuh tanda tanya.
Beruntung William tak terlalu memperhatikan sikap keduanya, juga tidak menyadari raut berbeda dari wajah Karina. Dengan itu, Karina berusaha menekan kegelisahannya dan dalam sepersekian detik dia berhasil mengembalikan dirinya pada keadaan semula.
Setiap perubahannya itu jatuh pada mata tajam Ginan, membuat seringai tajam sekilas menghias sudut bibirnya.
'Kuharap kamu paham maksudku, Nona Katrina! Jangan mencoba bermain-main dengan orang-orangku!'
Ginan merasakan jemari Karina menjadi dingin dan agak gemetar. Dia lalu melepasnya, menepuk dua kali punggung lebar William sebelum pergi.
"Aku akan berbaur dengan mereka." Dia menunjuk para tamu. "Lain kali, berpikir lagi saat memilih," sindirnya.
William yang tak pandai bermain kata-kata hanya menatap bingung punggung sahabatnya yang telah berlalu itu. Dia mengerutkan kening, mencoba mencerna maksud dari ucapannya.
Karina memperhatikan itu dan menggigit bibir dalamnya, mulai merasa cemas.
"Le!" Tepukan dari Robby menyadarkan William.
__ADS_1
"Ya."
"Nikmati waktu kalian. Kita berkeliling dulu," pamit Robby.
William mengangguk.
"Nan, pergi bersama?" tawar Algo sebelum pergi.
Anan membuka mulutnya hendak menjawab, tetapi William langsung menyahut.
"Dia sama gue!"
"Oke. Hati-hati jadi roda ketiga!" seru Algo sembari merangkul bahu Robby.
"Kalian pasangan yang serasi!" William balas mencemoohnya.
Algo dan Robby terkekeh mengetahui nada kesal itu dan membalas dengan lambaian tangan. Setelah ketiganya pergi, pandangan William jatuh pada Anan yang sedari tadi terlihat melamun.
"Mikirin apa?" Anan gelagapan dengan tepukan yang tiba-tiba mendarat di lengannya.
"Oh, enggak. Itu. He he." Anan menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Cewek loe cantik," kilahnya kemudian untuk menutupi isi pikirannya.
William tertawa. "Seleraku bagus bukan?"
"Hem. Tentu," jawabnya singkat.
"Itu saja?" William kesal karena Anan terlihat tak acuh pada penilaiannya.
"Apa?" Anan sendiri bingung, tidak merasa telah melakukan kesalahan.
Wajah William tertekuk. Dia merangkul pinggang Karina dan memperkenalkan Anan padanya.
"Oh, Baby. Dia orang spesial yang waktu itu berhasil membuatku meninggalkanmu," ucapnya santai.
Anan memelototinya tetapi William berpura-pura tidak melihatnya.
Kata-kata William mengingatkan wanita itu pada penelpon di malam panas beberapa hari lalu. Wajah Karina berubah muram.
"William! Kamu sengaja melakukannya padaku!" Karina memukul lengan William dengan kesal.
"Aduh ... aduh ...." William berpura-pura kesakitan. Sebaliknya, bukannya peduli Karina justru semakin marah.
"Kamu sengaja mempermainkanku, kan?!"
William cengengesan. Dia mengusap tengkuknya merasa bersalah.
"Sorry. He he."
"Nggak lucu, tahu. Kamu udah bikin aku mikir yang enggak-enggak, tahu nggak?"
__ADS_1
Melihat wajah sedihnya, William panik. Dia mengacungkan dua jari untuk berjanji.
"Sorry, Baby. Janji nggak akan ada yang kedua kali."