CINTA SANG MAFIA: Wanita Yang Kedua

CINTA SANG MAFIA: Wanita Yang Kedua
CSM12 ANCAMAN


__ADS_3

"Anan. Ananta Permana," ucap Anan dengan kikuk.


Semakin dekat dan semakin jelas wajah itu, Anan merasa semakin tak asing pada Karina. Rasa penasaran dalam hatinya pun kian membuncah. Dia yakin pernah melihat wajah itu di suatu tempat. Namun, di mana?


"Hai, Anan. Semoga kedepannya tidak ada kesalahpahaman lagi, ya. Maaf sudah sempat berprasangka buruk tentang kalian."


Anan tersentak. "Oh. It's oke, Karina. Nice to meet you."


Setelah tangannya terlepas dari tangan Karina, sebuah bayangan samar tiba-tiba muncul di kepalanya. Dia memejam, memaksa untuk mengingatnya dengan jelas. Namun, semakin dipaksakan, kepala Anan justru terasa berputar.


Anan menggeleng ringan, memijit pelipisnya untuk menenangkan diri.


"Nan, Lo kenapa?" Melihat itu, William panik.


Dia mendekati Anan dengan raut khawatir, menatap wajah yang sedikit pucat itu dan memintanya untuk duduk.


"Duduk dulu. Biar aku ambilin air putih," pintanya yang langsung ditolak oleh Anan.


"Le, gue baik-baik aja, kok," sangkalnya.


Dia melepaskan tangan William dari lengan kanannya, berusaha memperlihatkan wajah cerianya. "Gue ... cuma kebelet. Butuh ke kamar mandi, he he," kilahnya sembari berpura-pura meringis.


Mata William mendelik tajam. Dia merasa Anan tengah berbohong padanya. "Loe yakin?"


Anan mengangguk tegas. Dia tidak ingin William curiga dan semakin mencecarnya. Lagipula, dia memang butuh ke kamar mandi untuk mendinginkan pikirannya. "Gue ke kamar mandi dulu," pamitnya dengan tergesa.


"Kalau ada apa-apa, call gue, Nan!" William berteriak mengingatkan. Anan sedikit berlari sembari mengangkat jari tangannya, membentuk tanda oke.


Karina melihat interaksi kedua orang itu yang tidak terlihat seperti teman, tetapi lebih seperti saudara. Dari semua interaksi serta cara William yang selama ini lebih memprioritaskan Anan, dia menyadari bahwa Anan memang memiliki posisi penting dalam hidup kekasihnya.


Karina merasa dirinya lucu karena memiliki kecemburuan pada pemuda berambut sedikit ikal itu.


Anan ingin secepatnya sampai di kamar mandi. Dia tak mau temannya itu menyadari kecurigaannya terhadap Karina. Entah mengapa dia merasa bahwa Karina bukanlah wanita yang sederhana, dan apa yang ada dalam ingatannya pasti sesuatu yang sangat penting.


Dia benar-benar mengkhawatirkan William.


Sesampainya di kamar mandi, Anan langsung membasuh wajahnya dengan air keran. Dia terengah-engah, dadanya sedikit sesak karena terlalu memaksakan diri pada ingatannya tentang Karina. Anan mengatur napas, mengambil inhaler dari saku kemejanya, lalu menyemprotkannya ke dalam mulut.


"Huh!" Dia bernapas lega. "Kenapa gue harus melupakannya, sih?" gerutunya sembari mengacak-acak rambut.


***

__ADS_1


Karina malam itu sengaja mematikan ponselnya. Dia takut William menghubunginya sewaktu-waktu saat dirinya tengah bersama orang lain. Beruntung, orang yang bersamanya hanya berbaur dengan rekan-rekan pebisnis saja.


Sebisa mungkin Karina berusaha menyembunyikan diri dengan baik. Dia bahkan tidak berani untuk sekedar pergi dan menikmati hidangan di sana.


"Apa kamu tidak akan makan?" Kata-kata dingin itu jatuh pada pendengaran Karina dan mengejutkannya.


"Ak-aku ... perutku nyeri," kilahnya.


Dia tahu Karina hari ini sedang datang bulan, jadi dia percaya begitu saja. Dia berdiri, menatap tajam pada wanita yang terlihat sedikit ketakutan itu, lalu berkata untuk memperingatkannya.


"Tunggu di sini. Jangan ke mana-mana!" Karina mengangguk.


Dia menghela napas lega setelah orang itu menghilang dari hadapannya. Beruntung, hari ini dia diselamatkan oleh kondisinya. Karina melirik ke setiap sisi, mencari keberadaan kekasihnya. Di tempat yang agak jauh dia bisa melihat pemuda itu tengah mondar-mandir melirik pintu utama. Lalu mengangkat pergelangan tangan, dan tak lama kemudian memainkan ponselnya dan menempelkannya di telinga.


Karina menggigit bibir, rasa bersalah seketika menyelimuti hatinya. William pasti sedang menelponnya! Karina menunduk, mengalihkan pandangannya pada ponsel di dalam dompet yang sengaja dimatikan.


Tak lama setelahnya orang itu datang dengan beberapa hidangan. Dia membawanya ke hadapan Karina dan menaruhnya di atas meja.


"Makanlah." Nadanya sedikit melembut.


Karina mendongak, menatap wajah yang masih sedingin es itu, lalu mengangguk dan mulai mencicipi hidangan sedikit demi sedikit. Dia tak ingin menyulut amarah lelaki itu, membuatnya semakin marah.


Karina menekan diri dengan susah payah, sebelah tangannya *******-***** ujung gaun, dia gelisah.


Dia terus berusaha menenangkan diri dan bersikap sewajarnya agar orang itu tak mencurigai tujuannya. Dalam hati dia mengutuk, sesekali merapalkan doa agar semesta memberinya jalan keluar.


Dering ponsel membekukan jemari kanannya yang masih memegang garpu. Dia melirik ke samping, melihat orang di sebelahnya yang mulai terlihat gusar.


"****!" umpat lelaki tampan itu.


Karina tersenyum dalam hati, dewi Fortuna sepertinya sedang berpihak padanya. Ponsel lelaki itu terus saja berdering hingga membuatnya memutuskan untuk mengangkatnya, meski dengan wajah muram.


Orang itu melangkah meninggalkan ruangan, tanpa menoleh lagi pada Karina. Dilihat dari raut wajahnya, Karina yakin itu panggilan yang sangat penting. Hatinya bersorak gembira.


Setelah orang itu benar-benar menghilang dari pandangan, Karina meletakkan garpunya, mengambil dompetnya dan bergegas pergi ke kamar mandi.


Dia harus menelpon William, meminta maaf karena tidak mungkin untuk menemuinya.


Karina mengunci diri di sebuah toilet. Dia menyalakan ponselnya dan pandangannya seketika membeku. Dua puluh panggilan tak terjawab terpampang di layar ponsel, dan semuanya dari William.


Mata Karina tiba-tiba menjadi basah. Dia benar-benar merasa sangat bersalah. William pasti sangat mengkhawatirkannya!

__ADS_1


"Sorry, Will!" ratapnya.


Karina hendak melakukan panggilan balasan ketika layar ponselnya tiba-tiba berkedip. Dia sempat berpikir bahwa itu William yang menelponnya kembali.


Namun .... nama itu membuatnya membeku.


Karina mengusap wajahnya, memastikan bahwa tidak ada sisa air mata di sana, supaya tidak membuat orang itu curiga.


Menggeser tombol terima, seraut wajah poker yang sudah sangat familier terpampang di layar.


"Aku di toilet," ucap Karina gugup.


Lelaki itu mengerutkan dahi, nampak tidak percaya. Karina cemberut dan menunjukkan keadaan sekelilingnya. Setelah mengetahui bahwa Karina tidak berbohong, kerutan di wajah tampannya pun memudar. Karina tersenyum tipis padanya.


"Tunggu sebentar lagi, oke," bujuknya.


"Tidak perlu," tolak lelaki itu. "Aku harus pergi sekarang. Ada urusan penting. Kamu pulang naik taksi saja," katanya, langsung mematikan panggilan.


Mata sayu Karina terbelalak, masih belum sepenuhnya percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. Dia menepuk kedua pipinya dengan sedikit keras, dan menyadari bahwa itu nyata. Dia akhirnya terbebas!


Karina bernapas lega, seakan sesuatu yang sedari tadi membebaninnya lenyap seketika. Dia tersenyum bahagia. "Akhirnya ...."


Karina keluar dari toilet dan bergegas menuju wastafel. Memandang dirinya di cermin, dia nampak kusut. Karina membasuh wajah lalu merapikan riasannya. Masih dengan senyum berseri, dia bersenandung sembari menatap penampilannya di cermin.


'Sempurna!' serunya dalam hati.


"I'm coming, Will," gumamnya.


Karina yang sudah mengetahui keberadaan William bergegas ke sana tanpa peduli keadaan sekelilingnya. Dia terlalu bahagia, merasa rencananya telah berjalan sempurna, sampai tak menyadari ada ancaman yang selalu memperhatikannya.


Dari jarak yang tak terlalu jauh dia melihat William tengah mengobrol dengan teman-temannya. Namun, dari raut wajahnya, pemuda tampan itu nampak kurang bahagia.


Karina mengerutkan kening. "Apa dia sedih karena aku?"


Dia menggigit bibir, merasa terluka karena telah mengecewakan kekasihnya. Tak ingin membuat pemuda pujaannya lebih sedih, Karina bergegas menghampirinya.


"Will ...." Karina memanggilnya dengan lembut.


Pemuda itu menoleh, rautnya yang semula kusut berangsur-angsur pulih. Karina melihat tatapan terpana dari kekasihnya itu, dan dia merasa semakin senang. Dia tidak memilih gaun yang salah!


Melihat senyum yang mulai mengembang di mata kekasihnya, Karina tanpa sungkan menghambur ke dalam pelukannya.

__ADS_1


"Sorry, Will. Aku telat."


__ADS_2