
Sudah sebulan lamanya Danish dan Sekar memutuskan untuk berpisah, bukannya Danish tak ingin memperjuangkan Sekar di depan keluarga nya, namun dia memilih waktu yang tepat dan memilih untuk menyembuhkan cidera kakinya terlebih dahulu,
segala urusan kantor Rangga bawa ke rumah untuk berdiskusi atau sekedar meminta tanda tangan Danish.
Pun dengan Sekar, dia menjalani kehidupan nya yang biasa saja, masih bekerja di butik yang ternyata milik sang mantan mertua, namu karena di rasa disanalah dia mendapat gaji yang lebih besar dari tempat lain ,serta letaknya yang cukup dekat dengan rumah nya. Sekar mencoba menghapus semuanya tentang Danish sedikit demi sedikit, satu bulan telah berlalu sejak terakhir kali dia bertemu Danish, Sekar beranggapan Danish menyerah karena tak pernah sekalipun bertamu ke rumah untuk sekedar bertemu dengan Al.
Bagaimana dengan Al? Sekar mengatakan bahwa papa kerja pengarungan i lautan , kebetulan teman bermainnya ada yang papanya kerja di kapal, hingga 3/4 bulan sekali papanya baru bisa pulang, akhirnya Al paham dan jarang menangis lagi kalo kangen semgan Al.
"Kar!! pesennanya banyak banget lho bulan ini! kita lembur lagi nih!"
"Iya gak papa, kan kalo lembur kita dapat bonus juga!"
"idihhh ngarep banget dapat bonus!"
"lho emang iya kan?"
perbincangan antara dewi, fitri dan juga Sekar disela-sela pengecekan stok barang-barang di gudang.
"kok kamu balik ke gudang lagi Kar?"
tanya Dewi.
"bukannya di depan lebih asyik! bisa tampil cantik dan kadang-kadang kita bisa dapet tips dari pelanggan"
lanjutnya.
"Enak di sini wi... santai dan tak harus menor!"
"Halah, di depan juga gak harus menor! kamu juga pake bedak biasa boleh kok!!"
"enak disini!"
jawab Sekar, sebenarnya Sekar takut bila tiba-tiba Bu Ayunda melakukan sidak ke butiknya tersebut, kalo dia di bagian gudang maka dia tidak akan bertemu langsung dengan Bu Ayunda.
Benar saja apa yang di pikirkan Sekar, desas desus dari karyawan yang ada di depan mengatakan kalo Bu Ayunda datang bersama putri bungsunya.
"Selamat datang bu"
sapa Prada, manager yang mengantikan mbak Anya yang dipindahkan ke butik pusatnya.
"Bagaimana perkembangan nya di sini Da?"
"cukup baik bu..kami mempunyai banyak pesenan bulan ini!"
Bu Ayunda mengedarkan pandangannya, dia seperti mencari seseorang, namun akhirnya dia melihat-lihat pakaian yang ada disana.
"Ma ..chika mau ini ya?"
"boleh sayang .. kamu coba aja!...ini desain baru Da?"
tanya Bu Ayunda pada prada.prada gelagapan menjawabnya, pasalnya desain ini tak pernah disetorkan dulu kepada Bu Ayunda, langsng main jahit saja karena ada yang menginginkan nya.
"ehmmmm itu bu...anu...."
__ADS_1
"bicara yang benar Prada!!"
"Itu desain salah satu karyawan disini bu, maaf kami tidak melaporkan desainnya pada ibu, karena waktu itu pelanggan setia butik kita melihat desain bajunya dan meminta untuk dibuatkan, untuk acara pernikahan putri nya....dan masih sisa 1 kami memanjang nya..maafkan kecerobohan saya bu!"
terang Prada penuh sesal.
"Saya ingin bertemu dengan karyawan itu! segera panggil ke ruangan kamu!!"
"baik bu"
Prada bergegas ke gudang belakang, dan dilihatnya ketiga karyawan sedang bekerja dengan serius.
"Sekar!!!"
"eehh copot..copot..copot!! mbak Prada ngagetin aja!!"
kata Dewi karena kaget dengan teriakan Prada.
"Ada apa mbak?"
"ikut aku yuk!!! ini gaswat!!"
"Gawat kali mbak"
Fitri menimpali nya.
"Lebih dari gawat fit,.....kalian tahu beberapa waktu lalu desain Sekar kan diminta pelanggan setia kita.. Bu tejho! ingat??"
"Ketahuan sama nyonya besar! sekarang dia ingin ketemu Sekar!!"
"aduhh mbak! ntar aku di pecat mbak!!"
ucap Sekar terlihat panik juga.
"Mbak kasih tau nyonya kalo sekar yang desain??"
tanya dewei yang terlihat ikut panik.
"Ya enggak!! cuma nyonya pengen ketemu karyawan yang desain baju itu! masa iya aku bilang Fitri yang desain!! kan itu gambar Sekar!"
"Ya udah ayuukk ditungguin tuh"
lanjut Prada.
Disinilah sekarang mereka didepan pintu ruangan kerja Prada, Prada juga gak tau mengapa dia ikut cemas, mungkin juga dia takut karena itu juga menjadi tanggung jawabnya juga.
tok..tok..tok...
"Permisi bu.....ini karyawan yang mendesain baju tadi"
"Masuk...."
Prada mengajak Sekar masuk dan berdiri di depan meja kerja Prada yang sekarang diduduki oleh Bu Ayunda, namun Bu Ayunda nampak membungkuk di seberang meja karena mengambil sesuatu disana.
__ADS_1
Ketika dia berdiri tegak dihadapan Prada da Sekar, Sekar dan bu Ayunda terlihat sama-sama kaget. namun Bu Ayunda segera menetralkan mimik mukanya, begitupun dengan Sekar yang langsung tertunduk.
"ini bu namanya Sekar dia yang menggambar baju tersebut"
"Maaf bu...karena telah lancang membiarkan pelanggan melihat desain baju itu"
Sekar meminta maaf atas kelancangannya.
"Tidak.....aku tidak marah, aku suka desain mu,kamu suka mendesain baju?"
"saya masih belajar bu....selama 2 tahun ini saya menekuninya"
"Bawa semua kamu, barangkali saya cocok,...saya bisa membeli desain kamu itu"
"Benarkah bu....tapi desain saya tidak terlalu bagus"
"Saya belum melihatnya, barang kali ini menjadi jalan jenjang karir kamu! siapa tau ya kan?"
"karena dari yang aku lihat , desain kamu itu bagus, apalagi Bu tejho yang memintanya,dia bukanlah sembarang pelanggan, dia juga orang yang pintar dalam menilai sesuatu,kalo desainmu itu saja bisa dia pakai..tidak menuntut kemungkinan yang lainnya juga bu tejho sukai"
lanjutnya.
"Baiklah bu... besok semua desain saya akan saya bawa ke butik, agar ibu bisa melihatnya"
"Besok aku akan menyuruh seseorang mengambil ke sini! atau kalau kamu bisa mengantarkan langsung ke pusat, akan aku liat secara langsung!"
"Baiklah bu besok saya sendiri yang akan mengantarkan ke pusat, gak papa kan mbak Prada besok saya ijin"
"Ya gak papa Sekar"
"Ya sudah... Prada!"
"Ya bu..."
"keluarlah sebentar, aku ingin bicara dengan Sekar"
Sekar terlihat gelisah apa yang akan dibicarakan dengan Bu Ayunda, apa dia akan meminta Al, Al yang notabenenya adalah cucunya dari anak pertamanya yang sudah meninggal.
"Ya bu....ada yang bisa saya bantu!"
"Biarkan Al bertemu Danish! Danish terlihat sangat kurus Sekar!!"
ucap Bu Ayunda terlihat sendu.
Sekar kaget ketika mendengar permintaan Bu Ayunda, dia merasa binggung harus menjawab apa, akhirnya Sekar memberanikan diri memberi jawaban.
"Biarkan semuanya seperti ini Bu,....kami harus melupakan Danish...itu jauh lebih baik! jika Danish menikah dan punya anak sendiri dia akan lupa pada Al, jadi biarkan seperti ini bu... Sekar mohon!"
ucap Sekar lirih sedikit bergetar, menandakan airmatanya tak dapat dia bendung lagi.
bersambung
#Maaf...slow up ya.... diusahakan rutin deh😀
__ADS_1