
Setelah cukup puas menikmati semua pesanan, Alex dan Nabila memutuskan untuk pulang, sebab hari pun sudah beranjak malam. Aisyah pun mengantar kedua sahabat sampai diluar Cafe, karena ia belum ingin pulang. Berhubungan Aisyah ingin pulang bersama dengan suaminya, maka ia menyerahkan kunci motornya pada Nabila.
"Bawa motor ini aja! Aku gak percaya sama tampang Alex. Takutnya nanti kamu di bawa belok ke rumah tetangga, gak sampai jadi pulang ke rumah!" ucapnya sambil melirik Alex yang telah berjalan didepan kedua gadis muda tersebut.
"Sembarangan! Tetangga aja gue gak punya!" protes Alex.
Aisyah dan Nabila malah tertawa. Sedangkan Alex memilih untuk menghidupkan motornya tanpa ingin bercipaki-cipiki pada Aisyah.
"Aku pulang duluan ya, kamu baik baik! Jangan berantem!" pesan Nabila.
"Siap komandan!" Aisyah memperagakan sikap tegap dan hormat kepada Nabila sambil menahan tawanya. Nabila pun hanya menggelengkan kepalanya lalu juga menjalankan motor milik Aisyah yang telah diserahkan kepada dirinya.
Setelah Nabila tak terlihat barulah Aisyah masuk kembali ke dalam cafe untuk menemui suaminya yang berada di ruangan pribadinya.
Perlahan Aisyah membuka pintu pelan dengan. Terlihat raut lesu dari wajah sang suami. Pria itu membaca ulang beberapa lembar dokumen hingga tak menyadari kedatangan istrinya.
"Sudah malam. Kita pulang, ya!" Aisyah merangkul leher serta mengecup pipi suaminya. Seketika Azam langsung menutup dokumen untuk menatap kearah istrinya.
"Sudah mulai nakal ya?" sindir Azam. "Sudah berani untuk menggoda suami?"
Aisyah tersipu malu. Padahal hanya sebuah kecupan biasa. Bukankah wajar saja jika seorang istri mencium suaminya? Yang tidak biasa itu jika mencium suami tetangga, itu baru tidak wajar.
"Dasar messum," ejek Aisyah dengan bibir yang sudah mengerucut.
Azam hanya mengerutkan dahinya. "Lho... kok jadi Mas yang messum? Kan Ais yang tium-tium Mas duluan, berarti Ais yang messum, bukan Mas!" protes Azam.
Ya memang benar ucapan suaminya, Aisyah-lah yang mencium Azam, berarti dialah yang messum. Aisyah pun langsung memukul kepalanya dengan pelan.
"Sudah sini!"
Azam menarik tubuh ramping istrinya untuk masuk kedalam pelukan. Berharap dengan pelukan dari istrinya rasa lelah yang sedari tadi diemban akan menghilang. Azam mengelus pucuk kepala Aisyah yang terbalut dengan hijabnya lalu mengecup pelan.
Aisyah pun sangat merasa nyaman dengan perlakuan sang suami, hingga ia bisa mendengar lebih jelas suara yang gemuruh dalam dada suaminya.
"Baiklah, ayo kita pulang saja! Kita sambung di rumah"
__ADS_1
Mendadak wajah Aisyah terasa panas. Apa-apaan ini? Aisyah langsung memegangi pipinya. Niat hati ingin menenangkan tapi ujung-unjungnya malah jatuh dalam perangkapnya sendiri.
"Kamu kenapa?" tanya Azam saat melihat wajah Aisyah sudah tersipu.
"Normal." Azam menempelkan telapak tangan di dahi Aisyah.
"Apaan sih, Mas?" protes Aisyah.
Azam dan Aisyah mulai berjalan meninggalkan ruangan kerjanya. Ekor mata Aisya menyapu kesegala arah untuk mencari sosok yang ia cari. Namum, nyatanya sosok itu tidak ada.
"Huhh!" Aisyah mendengus dengan pelan.
"Kenapa?" Azam menatap heran saat sang istri menghempaskan lengannya.
"Kemana perginya cewek seksi itu?" Dengan kesal Aisyah menghempaskan tubuhnya di jok mobil depan.
"Siap yang kamu maksud?"
"Siapa lagi kalau bukan pegawai Mas yang bernama Ria itu."
Azam langsung mengernyit sambil menahan tawanya saat melihat wajah Aisyah terlihat kesal. "Ada apa mencari Ria? Dia sedang cuti."
"Angkringan lagi?" tanya Azam dengan heran. Entah mengapa selera istrinya terkesan lebih sederhana, dan angkringan adalah tempat favoritnya untuk mengganjal perut.
"Aku pengen makan sate usus, Mas." Aisyah langsung mengelus perut yang terasa sudah lapar.
Tanpa menunggu lama, Azam turun dan membukakan pintu untuk istrinya. Keduanya berjalan beriringan menuju kesebuah kursi plastik yang telah di sediakan oleh penjual angkringan tersebut. Dengan tatapan tajam mata Aisyah mengamati setiap jajanan yang disuguhkan di atas meja.
"Pak, sate usus gak ada?" tanya Aisyah sedikit kecewa, karena netranya tidak bisa menangkap sate usus tersedia.
"Waduh, Mbak gak ada. Ayam sedang langka sekarang," jelas si penjual. Dengan raut kecewa Aisyah malah pergi meninggalkan Azam yang telah menyantap nasi kucing.
Azam terheran menatap kepergian Aisyah yang tanpa sepatah kata. Tanpa menunggu lama Azam membungkus kembali nasinya lalu membayarnya.
"Ais, kamu kenapa?" tanya Azam yang baru masuk kedalam mobil dan melihat bibir Aisyah sudah bisa untuk dikuncir.
__ADS_1
Tak ada jawaban dari istrinya, Azam hanya mendessah dengan kasar. Azam tahu jika mood sang istri sedang tidak baik. Ia pun memilih kembali melajukan mobilnya tanpa banyak bertanya.
"Kita mau pulang atau singgah ke tempat lain?" tanya Azam di tengah perjalanan
"Kita cari sate usus dulu baru pulang," pinta Aisyah dengan lesu.
Azam hanya mengangguk pelan untuk mengiyakan permintaan istrinya. Sepanjang perjalanan ia mengamati setiap pinggiran jalan, berharap segera bertemu dengan sang penjual angkringan lagi. Saat netranya menangkap tenda angkringan, Azam pun langsung meminggirkan mobilnya untuk turun. Berharap di tempat ini ia menemukan apa yang diinginkan oleh istrinya.
"Tunggu di sini ya, biar Mas yang turun!" titah Azam pada Aisyah.
Aisyah hanya mengangguk pelan sambil mengamati setiap langkah tegak suaminya.
Tak hentinya Aisyah bersyukur telah disandingkan dengan pria tampan dan mapan serta perhatian meskipun masih sedikit kaku menurutnya.
Namun, wajah berserinya pupus saat melihat Azam kembali dengan tangan kosong.
"Ais, sate ususnya gak ada," ucap Azam dengan lesu.
"Ya sudahlah pulang ajalah!" ajak Aisyah datar.
"Kita cari di depan sana ya!" tunjuk Azam kearah depan dimana kang angkringan itu mangkal.
Aisyah mendessah kasar. Hatinya terasa seperti sedang patah hati yang terasa sesak saat tak mendapatkan apa yang diinginkannya. Saat ini pun dirinya sudah tak menginginkan apa-apa lagi selain ingin sampai di rumah untuk tidur.
Nasib baik kurang beruntung kepada Aisyah. Sudah beberapa angkringan yang disinggahi, tetap saja tak ada satu pun diantara mereka yang menjajakan seperti sate usus, keinginannya.
Melihat istrinya telah tertidur, Azam memilih untuk segera pulang ke rumah. Perjalanan yang memakan waktu hampir dua jam membuatnya merasa sedikit kelelahan.
Sesampainya di garasi rumahnya, Azam ingin membangunkan Aisyah. Namun, melihat Aisyah sudah terlelap dengan dengkuran napas yang teratur. Tentu saja Azam mengurungkan niatnya. Ia milih untuk mengangkat tubuh istrinya tanpa ingin membangunkannya.
"Minta permintaan kok aneh-aneh, sih?" kata Azam yang kini sudah mengangkat tubuh Aisyah untuk masuk ke dalam rumah.
.
.
__ADS_1
...TO BE CONTINUE...
...πΈπΈπΈ...