
Disisi lain Alex dan Nabila bingung mencari keberadaan Aisyah dan Reyhan. Setelah keluar kelas, mereka berdua langsung mencari Aisyah. Namun, ternyata usaha mereka tak membuahkan hasil.
"Cari kemana lagi, Al?" tanya Nabila yang sudah lelah.
"Tau ah, aku capek. Kantin yuk!" Alex melenggang menuju kantin. Di gedung seluas ini dimana mau mencari keberadaan dua orang? Tidak perlu di cari, nanti kalau sudah waktunya masuk pasti dengan sendirinya akan masuk ke dalam kelas.
Nabila pun telah menyerah. Ia ingin menggunakan sisa waktunya untuk mengisi perutnya. Jujur ia juga merasakan lelah dua kali lipat untuk mencari keberadaan Aisyah.
"Coba telepon, Bil!" saran Alex.
Dengan lesu Nabila menatap Alex. "Adah Al, tapi gak di jawab. Mungkin ponselnya mode silent," terang Nabila.
Jika sudah begitu mau bagaimana lagi selain pasrah menunggu kedatangan mereka saja.
🌺 🌺 🌺
Setelah puas membaca, Ais mengajak Reyhan kembali ruang kelas mengingat sebentar lagi akan masuk sesi selanjutnya. Dengan patuh Reyhan setuju. Ia juga tak mau terlambat untuk masuk kelas. Apalagi setelah ini adalah kelas pak Alif, dosen yang hampir dengan Pak Azam. Dosen yang tidak bisa di ajak bercanda dan negoisasi. Bawaannya selalu tegang.
"Ya udah Ais, ayo!" ajak Reyhan.
Dalam perjalanan ke ruang kelas, tak sengaja keduanya berpapasan dengan Azam.
Mata Azma dengan tajam menyorot kedua mahasiswanya yang hanya jalan berdua sambil berceloteh ria, seolah terlihat sangat bahagia.
Aisyah yang menyadari langsung terdiam. Bahkan ia tak mempunyai nyali untuk menatap dosennya tersebut.
"Darimana kalian?" tanya Azam dengan ketus.
"Kami dari perpustakaan, Pak," jawab Reyhan dengan jujur.
Azam hanya mengangguk pelan. "Lain kali kalau pergi berdua, kasih tahu temannya agar mereka tidak perlu mencari kalian!" sindir Azam yang kemudian berlalu.
Aisyah hanya mampu menelan kasar salivanya. Satu hal lagi, ia melupakan sesuatu. Lupa tidak memberikan kabar kepada Nabila bahwa ia sedang ada di perpustakaan bersama dengan Reyah.
Kalau sudah begini bakalan ribet urusannya.
Aisyah pun hanya bisa menuruti kecerobohannya.
"Kamu kenapa Ais? Udah gak usah kamu masukin hati ucapan dosen Azam. Dia memang begitu orangnya." Reyhan mencoba menenangkan Aisyah.
Ais sendiri hanya tersenyum getir. Iya, dia memang seperti itu, tetapi ini akan menjadi bencana untukku Rey.
Benar saja, tak selang waktu lama dosen Alif sudah masuk ke ruang kelas. Nabila dan Alex masih merasa kesal dengan sikap Aisyah yang membuat mereka lelah.
"Ais, kamu darimana sih? Kita berdua capek tau nyari kalian?" bisik Nabila dengan pelan.
__ADS_1
"Kamu tahu gak sih, Pak Azam tadi juga sempat nyariin kalian," lanjut Nabila lagi.
Deg!
Jantung Aisyah seakan ingin berhenti.
Apa? Jadi Mas Azam juga sempat mencari kami?
"Iya... iya maaf. Aku tadi di perpustakaan. Kamu tahu 'kan kalau di sana gak boleh ribut. Aku sengaja silent hpku," bisik Aisyah.
"Awas aja ya kalau sempat ada perang ketiga nanti, ya!" ancam Nabila.
Aisyah bergidik ngeri membayangkan bagaimana ia akan menghadapi suaminya nanti, mengingat Azan tipe orang yang sangat posesif berat.
Selama materi berjalan pikiran Aisyah sungguh tida tenang. Ingin rasanya segera pulang dan menjelaskan semuanya kepada suaminya. Namun, waktu yang ia tunggu seakan berputar sangat lama.
Saat kelas dosen Alif selesai, Reyhan segera menghampiri Aisyah untuk mengajaknya pulang bersama. Namun, dengan sopan Aisyah langsung menolaknya.
"Ais, gimana kalau kita jalan-jalan dulu gitu?" Tak habis akal, Reyhan terus memepet Aisyah.
"Rey, kamu kan tadi udah dengar kalau Aisyah udah di jemput sama sopirnya. Kamu gak kasian liat sopirnya udah lama nunggu di parkiran?" Nabila menghadang niat Reyhan, meski niatnya baik.
"Daripada Luh maksa Aisyah yang jelas-jelas gak mau, mending luh paksa gue napa? Kebetulan motor gue masih di bengkel." Rayu Alex pada Reyhan
"Iihh... najis!" Reyhan segera berlalu meninggalkan ketiga mahasiswa yang hendak meninggalkan kelas.
"Aku duluan ya." Aisyah memilih berlalu karena pikirannya sudah tidak tenang.
Seperti biasa Aisyah akan menunggu Azam di halte bis depan kampus. Jika biasanya ia hanya menunggu paling lama 10 menit, kini ia berdiri di sana hampir 2 jam lebih, tetapi mobil suaminya tak kunjung datang.
Ponsel milik suaminya pun tidak aktif sehingga Aisyah tidak bisa menghubunginya. Kali ini Aisyah merasa sangat gusar.
Karena yang ditunggu tak kunjung datang, Aisyah pun memutuskan untuk naik Busway.
🌺 🌺 🌺
Sesampainya di rumah waktu sudah Ashar. Melihat tak ada mobil Azam di depan rumah, Aisyah pun enngan memikirkan lagi keberadaan suaminya. Ia sudah yakin jika saat ini suaminya sedang berada di cafe.
Setelah membersihkan diri Aisyah segera menunaikan sholat Ashar sebelum akhirnya berkutat di dapur untuk menyiapkan makan malamnya.
Hingga pukul enam sore Azam belum juga pulang. Ponselnya juga masih sama, tidak aktif, membuat Aisyah merasa sangat panik. Untuk kali ini ia enggan untuk menyambangi suaminya ke cafe karena tubuhnya yang terasa lelah.
"Kenapa belum pulang ya?" gumam Aisyah. Dengan rasa gelisah ia menunggu kedatangan suaminya di ruang tamu sambil, berharap suaminya segera sampai di rumah.
Sajian makan malam juga sudah tertata rapi di meja makan.
__ADS_1
Hingga setelah sholat Magrib, batang hidung Azam tak kunjung terlihat. Sudah di pastikan Azam sedang marah besar kepada Aisyah karena kejadian tadi siang.
Aisyah yang tak sanggup untuk menunggu suaminya lebih lama langsung menyambar kunci motornya hendak menyusul Azam. Namun, saat ia mengeluarkan motor dari garasi terdengar suara klakson.
Chaya lampu yang menyorotinya membuat silau. "Mas Azam?" gumam Aisyah.
Aisyah pun bergegas menuju ke mobil Azam. Seperti biasa, Aisyah menyalami tangan suaminya.
"Mau kemana?" tanya Azam heran.
"Mau nyusulin Mas Azam," celoteh Aisyah.
"Kemana?" ketus Azam.
"Ya ke cafe lah."
"Emang siapa yang ke cafe?" Lagi-lagi Azam masih mengeluarkan nada ketusnya.
"Ya, Mas Azam lah."
"Sok tahu..." pungkas Azam yang kemudian memilih masuk kedalam rumah.
Meski merasa lega namun, dada Aisyah terasa nyeri bagaikan di tusuk dengan jarum jahit. Dari nada bicaranya saja sudah terdengar tidak bersahabat. Itu artinya Azam benar-benar sedang marah kepada dirinya.
Baiklah Aisyah, sabar. Kamu harus menjelaskan baik-baik. Ini hanya salah paham.
Aisyah masih menunggui Azam turun dari tangga. Niatnya malam ini ia akan makan malam bersama. Aisyah sudah menyiapkan makanan kesukaan mereka berdua, berharap ia bisa makan bersama.
Namun, karena Azam lama tak kunjung turun Aisyah pun memilih ke kamar untuk mengajak Agung makan malam.
Terlihat Azam sedang berkutat di depan laptopnya dengan serius.
"Mas, makan yuk!" ajak Aisyah.
"Kamu makan duluan aja, aku masih ada pekerjaan," jawab Azam datar.
Dengan pelan Aisyah mendekati Azam. "Mas Azam marah?" tanya Aisyah pelan.
Azam tak merespon. Tangannya masih menari diatas keyword.
"Mas!!" panggil Aisyah lagi membuat Azam langsung menoleh.
"Kamu kalau sudah lapar, makan aja dulu. Aku masih sibuk." ucap Azam yang kemudian melanjutkan pekerjaan tanpa menoleh lagi kebelakang.
Tubuh Aisyah langsung mematung. Kali ini lebih sakit daripada tusukan jarum jahit yang menusuk dadanya. Namun, sudah seperti sebuah sembilu yang mencabik-cabik hatinya.
__ADS_1
Dalam perasaan sedih dan bersalah Aisyah memilih naik keatas tempat tidur. Melupakan selera makannya. Tak terasa butiran bening lolos begitu saja. Dada Aisya naik turun menahan isaknya. Ia pun segera mengambil semilut untuk menutup tubuhnya, tanpa peduli hidangan yang sudah tertata diatas meja.
#BERAMBUNG#