
Seminggu telah berlalu. Pagi ini Aisyah mendadak tidak ingin berangkat kuliah meskipun ia sudah bersiap. Hal itu tentu saja membuat Azam terheran.
"Kamu sakit?" tanya Azam yang melihat wajah Aisyah pucat.
"Gak tahu juga sih gitu, Mas. Kayaknya masuk angin. Kepalaku juga pusing," jelas Aisyah.
"Ya sudah kamu istirahat aja di rumah aja. Jangan aneh-aneh di rumah, ya!" pesan Azam sebelum berangkat ke kampus.
Aisyah mengangguk patuh sambil mengantar keberangkatan suaminya sampai depan pintu.
"Hati hati, Mas," seru Aisyah sambil melambaikan tangannya.
Azam pun juga melambaikan tangannya sebelum masuk kedalam mobil. "Iya. Aku pasti akan hati-hati."
. . .
Tak henti hentinya Aisyah menghirup aroma minyak kayu putih. Perutnya seperti sedang diaduk-aduk ingin untuk mengeluarkan isinya. Sungguh terasa sangat mual.
Aisyah terus memijat tengkuknya, ia mencoba mengeluarkan rasa yang bergejolak di dalam perut.
Tubuh Aisyah semakin lemas, wajahnya pun sayu. Tidur pun merasa tidak nyaman.
Aisyah berjalan ke dapur untuk membuat teh hangat, berharap bisa meredakan rasa mualnya.
Aisyah pun berpikir akan makanan yang enak untuk dikunyah. Saat membuka kulkas, ia melihat buah jambu dan mangga yang dibawa oleh Nabila kemarin. Dengan cepat Aisyah segera mengeluarkan jambu dan mangga. Niatnya Aisyah ingin merujak buah tersebut. Belum juga siap, Aisy sudah menelan ludahnya.
"Nabila memang pengertian," gumam Aisyah saat mengupas kulit mangga.
Mata Aisyah berbinar saat melihat hasil racikannya telah tersaji diatas meja. Sejak tadi Aisyah sudah tidak sabar untuk bumbu yang telah racikannya dengan mangga muda yang baru saja ia kupas.
Nikmat. Satu kata yang Aisyah rasakan saat ini. Perut yang tadi bergejolak kini sudah sudah mulai tenang. Kepala yang tadinya terasa pusing kini juga sudah menghilang
Aisyah pun merasa heran saat sepiring rujak telah ludus tak bersisa. Hanya rasa pedas yang tertinggal di mulutnya.
__ADS_1
🌺 🌺 🌺
Di kampus setelah selesai mengajar dan tidak ada jadwal lagi, Azam memilih segera pulang mengingat tadi pagi Aisyah kurang enak badan. Ia takut terjadi sesuatu ada istrinya.
Dalam perjalanan pulang, ponsel Azam berdering. Tertera sebuah panggilan dari Via. Azam meragukan saat ingin mengangkat panggilan tersebut. Ia hanya membuang napas kasarnya. Mungkin keputusan yang ia ambil sudah tepat. Untuk saat ini ia harus fokus dahulu kepada Aisyah.
Karena panggilan tak kunjung diangkat, ponsel Azam terusa berdering. Nama Via terus mengambang di layar ponselnya.
"Apa sih maunya." ucap Azam dengan helaan napas panjang. Karena merasa penasaran akhirnya Azam pun mengangkat panggilan dari Via.
Terdengar sebuah tangisan dari seberang telepon, membuat Azam mendadak sangat khawatir dengan keadaan Via.
"Via, kamu kenapa?" tanya Azam panik.
Masih terdengar isak tangis Via. "Azam… tolong aku…"
"Kamu tenang dulu. Kamu sekarang dimana. Aku akan segera kesana."
Setelah panggilan terputus, Azam segera melaju dengan kencang menuju ke tempat Via berada. Harapannya saat ini segera sampai ditujuan dan Via baik-baik saja.
"Via…" panggil Azam.
Via segera menoleh dan segera menghambur ke dalam pelukan Azam sambil terisak.
Azam yang tidak mengerti dengan sikap Via hanya diam tanpa ekspresi. Tak ada niat untuk membalas pelukan dari Via hingga akhirnya Via memilih melepaskan pelukannya.
"Azam, aku takut." adu wanita itu pada Azam.
Azam menatap Via. "Kamu tenang ya, duduk sini. Ayo cerita ada apa? Kamu takut apa?"
Via kembali terisak. "Aku takut Ferdy y, terus menerorku, karena enggak terima aku putuskan. Aku takut Azam!"
Azam tak tahu harus berbuat apa. Sejujurnya ia tak tega saat melihat seorang wanita menangis didepannya.
__ADS_1
"Aku takut pulang, Azam." lanjutnya lagi.
"Vi, kamu harus bisa menyelesaikan masalahmu sendiri dengan baik. Aku rasa Ferdy punya alasan di balik itu semua." Azam menatap Via.
"Alasannya dia enggak terima putus denganku."
"Azam, kamu bisa tolong aku kan? Biarkan aku tinggal di rumahmu untuk sementara waktu. Aku takut jika sewaktu-waktu Ferdy datang dan berbuat yang tak diinginkan. Aku mohon, boleh ya. Aku gak bakalan ngerepotin kalian kok. Aku janji." Via memohon dengan iba.
Azam masih terdiam menimbang keputusannya. Ia tidak bisa langsung menyetujuinya sebab, ia juga harus menjaga perasaan istrinya. Bagaimana pun Via adalah wanita yang pernah singgah di hatinya dahulu.
"Tapi…Vi, maaf sebelumnya. Aku tidak bisa membawa kamu ke rumahku. Karena aku harus menjaga perasaan Ais. Tolong kamu mengerti, ya," ucap Azam dengan lembut.
Via terdiam kecewa. Ternyata hasilnya tak sesuai dengan yang diharapkan. Dengan terang Azam menolak keinginannya.
"Kamu tidak usah takut! Jika Ferdy tiba-tiba datang ke rumahmu, segera hubungi aku."
Via mendongak. Mungkin ucapan Azam ada benarnya. Baiklah meski ia gagal dalam misi pertamanya, ia bisa melanjutkan dengan misi kedua.
"Iya, aku mengerti kok. Maaf aku telah merepotkan kamu," ujar Via dengan rasa bersalahnya.
Azam mengangguk. Merasa tidak ada lagi yang perlu dibahas Azam pun memilih untuk pulang.
"Kamu jangan khawatir, kalau ada apa-apa segera hubungi aku. Berhubungan kamu sudah tenang, aku pulang dulu ya." pamit Azam.
Via tersenyum sambil mengangguk.
Ia menatap punggung Azam hingga tak terlihat lagi. Hatinya sakit, bak disayat sembilu saat melihat Azam lebih memilih perempuan sok alim daripada dirinya.
"Aisyah, kamu harus membayar semuanya! Harusnya aku yang bersanding dengan Azam, bukan kamu! Kamu hanya perempuan desa yang sok alim." Sorot mata Via penuh kebencian.
Bahkan dalam hati Via sudah berjanji akan membalas setiap rasa sakit yang telah menggores hatinya.
"Tunggu saja, aku pasti akan menghantui hidup kalian!"
__ADS_1
...TO BE CONTINUE...
...🌸🌸🌸...