Cinta Untuk Aisyah

Cinta Untuk Aisyah
16 ~ Nasi Goreng


__ADS_3

Sudah satu jam berlalu, Azam pun mulai merenggangkan otot jarinya. Ia menoleh ke belakang. Dilihatnya kearah tempat tidur Aisyah sudah terlelap dengan gulungan selimut tebal yang menutupi tubuhnya.


Sekilas Azam membuang napas beratnya, kemudian berlalu meninggalkan kamar.


Bukan untuk menghindari Aisyah tetapi hanya ingin mengambil air minum karena merasa haus.


Setelah meneguk air di dalam gelas hingga tandas, mata Azam tertuju kearah meja makan. Karena aroma yang membuat cacing di perut berdemo, Azam pun berjalan kearah meja makan.


Ia pun segera membuka tudung nasi. Masakan kesukaan ternyata telah terhidang. Azam tidak bisa membayangkan bagaimana repotnya Aisyah saat menyiapkan makan sebanyak ini.


Namun, lagi-lagi Azam membuang napas kasarnya. Ia merasa sangat menyesal karena telah mengabaikan istrinya. Sudah dipastikan Aisyah pun juga belum makan malam.


Azam segera naik ke lantai atas, dimana kamarnya berada. Niatnya ingin membangun sang istri untuk makan bersama meski ia sadar waktu sudah hampir larut.


Dengan jelas, Azam bisa melihat raut kesedihan dan sisa air mata yang membekas di pipinya. Bahkan nasnya juga masih sesenggukan. Azam mengelus pelan kepala Aisyah dengan sejuta penyesalan. Tak seharusnya ia mengabaikan istrinya dalam masalah yang sedang dihadapinya


"Ais," panggil Azam dengan lirih.


Aisyah yang merasakan sentuhan di kepalanya langsung mengerjap dengan pelan.


"Mas Azam," gumam Aisyah.


Azam menatap wajah istrinya. "Maafkan aku Ais. Tak seharusnya aku kelewatan seperti ini."


Aisyah mengernyit setengah sadar. "Mas Azam kenapa?"


"Kamu pasti belum makan, ayo kita makan dulu!" bujuk Azam dengan lembut.


Aisyah hanya menggelengkan kepalanya. Selera makan sudah tidak ada lagi. Untuk apa dia makan?


"Mas Azam mau makan? Tunggu biar aku panaskan sayurnya." Aisyah pun hendak bangkit. Namun, dengan cepat Azam mencegahnya.


"Kamu marah?" tanya Azam.


Lagi-lagi Aisyah hanya mengernyit. Sebenarnya apa yang telah terjadi kepada suaminya. Perasaan tadi begitu ketus mengabaikan dirinya tetapi, mengapa sekarang berubah menjadi seperti ini?


"Aku gak marah, Mas. Aku hanya mengantuk saja." Dusta Aisyah.


Azam tak ingin memaksa Aisyah untuk mengikuti kemauannya. Ia memilih membiarkan istrinya untuk melanjutkan tidurnya kembali.


"Baiklah, tidurlah." Azam kembali merapikan selimut Aisyah. Begitu juga dengan Aisyah yang memaksakan senyum dibibirnyanya.


Azam pun juga ikut merebahkan tubuhnya di samping sang istri. Mengistirahatkan tubuhnya yang sudah terasa lelah. Memiringkan wajahnya menatap punggung Aisyah yang telah membelakanginya.


Kenapa dikasih punggung sih? Apakah Ais benar-benar sedang marah padaku? Harusnya aku yang marah karena dia telah jalan berdua dengan pria lain. batin Azam dengan helaan napas panjang.


🌺      🌺     🌺


Pagi ini Aisyah tidak memiliki jadwal kuliah alis libur. Sementara Azam sedang bersiap untuk pergi ke kampus.

__ADS_1


Saat Aisyah menuruni anak tangga, terlihat Azam dengan telaten menyiapkan sarapan pagi untuk mereka berdua.


"Ais, ayo sarapan!" panggilnya saat melihat Aisyah.


"Tumben," sindir Aisyah.


Aisyah segera menuju meja makan. Namun, saat ia melihat menu yang berada diatas meja, ia pun mengernyit kembali.


"Inikan sayur kemarin?" protes Aisyah.


"Sayang dibuang. Lagian belum basi kok."


Mau bagaimana lagi, Aisyah hanya tersenyum tipis meski sebenarnya tidak berminat untuk makan dengan menu tersebut.


Azam mengamati Aisyah yang tak kunjung mengambil nasi. "Kenapa?" tanyanya.


"Gak ada Mas, hanya saja aku belum lapar," ucap Aisyah dengan lesu.


Azam meletakkan kembali sendoknya.


"Jangan bohong! Tadi malam kamu tidak makan, dari mana jalannya belum lapar. Kamu masih marah? Oke, aku ngaku salah sudah mengabadikan kamu. Aku benar-benar minta maaf. Sekarang makan ya!" 


Aisyah menatap Azam tanpa kata sambil menggelengkan kepalanya.


"Mas, aku enggak marah dan aku memang sedang belum lapar. Aku temenin Mas Azam aja ya?" 


"Ya sudah, yang penting nanti jangan lupa makan ya!" pesan Azam. Ais pun mengangguk pelan.


Tak perlu 15 menit kedua orang yang ditelepon tadi segera hadir. Terlihat Alex membawa beberapa kantong yang berisi snack. Begitu juga dengan Nabila yang membawa buah-buahan segar. Rencananya nanti siang mereka ingin membuat rujak, mengingat suasana siang hari akan terasa panas.


"Ya ampun…" Aisyah histeris saat membuka pintu. Kedua orang yang diundang untuk membantu membersihkan rumahnya malah akan merumitkan pekerjaannya dengan buah tangan yang mereka bawa.


"Tara…" Alex memamerkan kantong plastik yang berisi banyak jajanan.


Begitu juga dengan Nabila yang membawa mangga muda. Mangga yang baru saja dipetik dari pohonnya dan juga jambu air yang memang sudah masak.


"Widih… tau aja kalau aku lagi pengen yang seger-seger." Aisyah segera meraih plastik yang dibawa oleh Nabila.


"Hei… ini untuk nanti siang!" ujarnya.


"Iya… Iya aku tahu. Ayo sini masuk dulu. Kalian udah makan belum? Kalau belum, makan gih," tawar Aisyah


Tak menunggu lama Alex yang telah mendapatkan tawaran dari tuan rumah segera menuju ke meja makan.


Matanya berbinar saat melihat sajian diatas meja. "Wah… kayaknya enak nih."


"Makan aja Al. Gak usah sungkan. Syukur-syukur kamu habisin."


Mata Alex kembali melotot. "Serius? Jangan nyesel kalau habis ya!"

__ADS_1


Aisyah mengacungkan dua jempolnya.


"Kamu udah makan?" tanya Nabila pada Aisyah.


Aisyah menggeleng dengan pelan. "Belum."


Nabila pun menautkan alisnya. "Kenapa?"


"Gak selera. Aku tuh lagi pengen makan nasi goreng masakan kamu, Bil. Buatin ya." Aisyah mengedipkan kedua matanya.


Tika tertawa. "Tumben… kayak orang ngidam aja," celetuk Nabila dengan heran.


Aisyah hanya tertawa pelan. "Ayolah… Bil." rengek Aisyah dengan manja.


Nabila membuang napas kasarnya kemudian menuruti kemauan Aisyah untuk membuat nasi goreng.


"Dasar!" ledek Nabila.


Aisyah hanya terkekeh pelan mengikuti langkah Nabila ke dapur. Sementara Alex memilih menikmati makanan yang sudah Aisyah tawarkan, tanpa ingin peduli lagi pada dua orang yang sedang sibuk di dapur.


Hampir setengah jam, Aisyah menunggu Nabila berkutat di dapur miliknya. Jangan ditanya lagi bagaimana bentuk dapur yang tadi sudah rapi, karena saat ini dapur itu sudah tak berbentuk lagi. Meskipun hanya nasi goreng, tetapi Nabila mengeluarkan banyak perkakas yang pada akhirnya membuat dapur Aisyah berserak kembali.


"Tara... sudah jadi." Nabila menyuguhkan satu piring nasi goreng buatannya dengan bangga. Hanya sebuah nasi goreng itu adalah menu yang mudah untuk Nabila buat


"Widih... nasi goreng." gumam Alex.


"Stop! Disini tidak ada bagian untukmu! Sebab kamu sudah menghabiskan makanan di meja!" Ujar Nabila pada Alex.


Alex mengangkat kedua alisnya. "Lagian siapa juga yang berminat? Aku sudah kenyang. "


"Baguslah," ketus Nabila


Aisyah tak menanggapi kedua orang yang sedang beradu mulut. Saat ini matanya sangat berbinar setelah mendapatkan yang ia inginkan. Aisyah pun segera melahab nasi goreng hingga tandas tak tersisa sebutir pun.


"Widih... habis?" Alex terkejut saat Aisyah bersendawa dengan kuat.


Begitu juga dengan Nabila yang tak kalah heran dari Alex. Ia masih melongo melihat piring Aisyah yang bersih tanpa bersisa.


"Serius kamu, Ais? Doyan atau kelaparan?"


"Nasi goreng buatan Nabila emang jos, Al. Aku saranin kamu wajib cobain. Rasanya bikin nagih."


"Eh.. boleh juga tuh ide kamu Ais." Alex terlihat bersemangat.


"Iya ide Aisyah emang bagus. Tapi mohon maaf saya tidak sudi membuatkan untukmu!" sahut Nabila dengan ketus.


.


.

__ADS_1


...TO BE CONTINUE...


...🌸🌸🌸...


__ADS_2