Cinta Untuk Aisyah

Cinta Untuk Aisyah
24 ~ Meninggalkan Via


__ADS_3

"Tadi ngotot ngajak kesini, giliran udah sampai sini malah main hp," sindir Nabila saat melihat Alex terus memainkan ponselnya.


Alex langsung mendongak. "Jadi aku harus bagaimana? Ikut komentar salah, diam main hp juga salah. Terus kamu maunya ikut mengomentari terkait kehamilan gitu? Dikasih saran pun juga salah!" gerutu Alex sambil menghela napas panjangnya.


"Tuh kan ... mulai!" sahut Nabila.


"Tapi aku seriusan loh mau nawarin produk aku kali aja bisa langsung jadi. Aku ikhlas kok dapat bekasnya pak Azam."


"Astaghfirullahaladzim, Alex! Nyebut, Lex! Ais ini Istrinya pak Dosen. Kamu yakin mau nikung pak Azam?" Nabila memperingatkan Alex.


Saat itu juga Alex langsung tertawa pelan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Aku hanya bercanda. Mana mungkin aku berani untuk menikung Pak Azam, ya meskipun ingin sih."


"Alex!" Lagi-lagi Nabila membentak satu-satunya pria yang selalu menempel padanya.


Aisyah hanya menggeleng melihat kedua temannya yang tidak bisa akur lebih lama. Dimana pun tempat jika sudah ada keduanya maka jika tidak berdebat rasanya tidak afdol.


Setelah puas bercengkerama dengan Aisyah, Nabila baru mengingat jika mereka ada tugas kampus lagi. Ia dan Aisyah pun berencana untuk mengerjakan tugas, tanpa ingin memanggil Alex yang sedang asyik bermain PlayStation.


Alex merasa heran ketika sudah tidak mendengar suara Aisyah dan Nabila yang sejak tadi cekikikan dibelakangnya. Saat Alex menoleh, ia langsung melotot kearah keduanya.


"Bagus, ngerjain tugas gak ngajak-ngajak!" sindir Alex.


"Lagian niat kita kesini itu buat jengukin Ais, bukan untuk main PlayStation," ujar Nabila.

__ADS_1


"Ya udah kalian berdua aja yang ngerjain tugas. Gue pulang aja!"


"Ya elah gitu aja ngambek! Ya udah sini Tuan Alex, kita ngerjain tugas bareng-bareng," ujar Nabila lagi.


Saat itu juga Alex langsung menghampiri dua orang yang sudah mengerjakan tugas. Dengan bibir yang mengerucut ia memilih untuk duduk di samping Nabila.


"Makanya kalau bertamu ke rumah orang itu jaga etika dan sopan santun, jangan asal-asalan!" tegur Nabila pada Alex.


Alex masih saja mengerucut. Memang benar ucapan Nabila tentang dirinya yang asal-asalan saja. Ya, semua itu Alex lakukan karena dia merasa penasaran dengan PlayStation yang ada di rumah Aisyah. Tidak ada salahnya kan untuk mencoba sebentar saja? Lagian sempat-sempatnya pak dosen memainkan PlayStation padahal jadwalnya setiap hari saja sudah padat.


"Iya-iya, aku minta maaf," ucap Alex.


Setelah mereka selesai mengerjakan tugas dan hari juga sudah sore keduanya pun pamit untuk pulang. Aisyah mengantar keduanya hingga depan gerbang. Sebelum masuk kedalam, mata melihat jalanan untuk melihat mobil suaminya yang belum juga terlihat.


Hingga pukul lima sore belum juga ada tanda-tanda sang suami pulang. Aisyah hanya berpikir positif, barangkali suaminya masih mempunyai pekerjaan yang harus diselesaikan.


Setelah selesai memasak, Aisyah segera membersihkan diri dan memilih untuk tetap menunggu kedatangan suaminya, meskipun hatinya gelisah tak.


"Ya Allah, dimana pun keberadaan Mas Azam jauhkanlah dia dari marabahaya terutama dari wanita penggoda."


🌸🌸🌸


Disebuah rungan terlihat Azam sedang menenangkan seorang wanita yang tengah dilanda ketakutan. Ya, saat ini Azam sedang menemani Via di apartemennya karena merasa ketakutan akan teror dari mantannya.

__ADS_1


"Azam, tolong jangan pergi. Aku takut," pinta Via dengan memelas.


Azam membenarkan selimut untuk menyelimuti tubuh Via. "Aku harus pulang, Vi. Di rumah Aisyah yang sudah menungguku."


Mendengar penuturan Azam membuat Via menjadi sangat kesal. Mengapa yang ada dalam pikiran Azam saat ini hanyalah wanita kampung itu. Padahal selama bertahun-tahun Via yang menemani Azam untuk berbagi suka dan dukanya. Namun, apa yang ia terima? Ia dicampakkan begitu saja setelah Azam menikahi wanita kampungan yang bernama Aisyah.


"Tapi aku takut, Zam. Bagaimana nanti kalau dia datang kesini? Aku takut, Zam."


Azam menatap Via dengan iba. Sebenarnya ia tidak ingin ikut campur dalam urusan Via, tetapi ia merasa kasihan karena Via tinggal seorang diri tanpa ada keluarga didekatnya.


"Kamu tenang aja Aku gak akan kemana mana. Kamu tidur ya. Aku akan menjagamu disini," ujar Azam.


Via pun mengangguk dengan pelan dan memejamkan matanya. Sudah cukup Azam untuk meluangkan bersama Via dan saat ini ia harus segera pulang. Karena saat ini ada istrinya yang sedang menunggu dirinya di rumah.


Dengan langkah pelan, Azam mematikan lampu kamar sebelum ia menutup pintu. Bahkan Azam tak mengucapkan selamat malam kepada Via.


Via yang hanya berpura-pura tidur merasa sangat kesal karena Azam pergi begitu saja tanpa ingin peduli pada dirinya.


Dirinya sangat murka dan memaki nama Aisyah. Via melampiaskan rasa kecewanya dengan membuang makanan yang berada di atas nakas.


"Arrgg ... lihat saja Aisyah, aku tidak akan tinggal diam! Kamu sudah menghancurkan impian dan masa depanku untuk bersama dengan Azam."


...#TO BE CONTINUE#...

__ADS_1


...Jan lupa tinggalkan jempolnya πŸ˜€...


__ADS_2