
Raut kekecewaan masih sangat jelas terlihat dalam wajah Aisyah. Selepas sholat isya' ia memilih mengurung diri di kamar. Sudah tak ada napsu lagi untuk makan malam. Azam yang memahami atas kekecewaan sang istri pun memilih untuk membawakan sepiring nasi beserta lauknya yang ia beli di pertigaan depan kompleks tadi.
"Sudah, besok kita keliling kota lagi cari siomay. Sekarang makan dulu ya!" pintanya.
Sungguh saat ini Aisyah sangat malas untuk makan. amencium aromanya saja sudah membuatnya terasa mual. Tapi, bagaimanapun perutnya juga tetap harus terisi. Jika tidak bisa di pastikan ia tidak akan bisa tidur malam ini
"Suapi," rengek Aisyah yang membuat Azam langsung mengerutkan dahinya. Sejak kapan istrinya bersikap manja seperti ini?
Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, Azam langsung menuruti perintah istrinya. Namun, saat baru dua kali suapan Aisyah berlari ke kamar mandi sambil menutup mulutnya. Di dalam sana ia mengeluarkan apa yang baru saja masuk kedalam perutnya, hingga tinggal cairan bening pun tetap keluar. Azam terus memijit tengkuk Aisyah merasa tak tega saat melihatnya Aisyah terus mengeluarkan isi perutnya.
"Ayo kita ke rumah sakit!" ajak Azam.
Aisyah hanya menggeleng lemas. Memang sudah satu minggu ini selera makannya menurun dan akan langsung muntah jika memakan nasi.
"Aku gak mau, Mas. Mungkin ini hanya masuk angin aja kok," tolaknya.
Azam segera memapah istrinya untuk keluar dari kamar mandi dan menyandarkan di tempat tidur.
"Kamu tunggu sini, biar aku ambil air hangat dulu."
Azam meninggalkan Aisyah dengan perasaan cemas. Sementara itu Aisyah masih terlihat sangat lemas sambil memegangi perutnya.
Tak menunggu lama Azam telah datang membawa secangkir air putih hangat lalu memberikan kepada Aisyah untuk diminumnya.
"Kita ke dokter ya, aku takut kamu kenapa-napa," bujuk Azam.
"Mas, aku gak papa. Mungkin cuma masuk angin biasa. Besok juga enakkan." Lagi lagi Aisyah menolak.
Malam kian larut, tetapi sepasang mata belum juga mampu untuk memejam. Berguling ke kanan dan kiri tak menemukan rasa nyaman. Matanya menatap wajah tenang disampingnya yang susah terlelap.
Sebenarnya tak tega, namun bagaimana lagi.
"Mas, bangun!" Aisyah menggocang tubuh suaminya. Perlahan Azam membuka matanya, mendapati Aisyah yang telah terduduk.
"Kamu kenapa? Apa yang kamu rasakan?" Azam menempelkan telapak tangannya di kening Aisyah.
__ADS_1
"Mas, aku gak papa. Gak ada yang sakit. Hanya saja aku ngin makan nasi gorang." Aisyah tersenyum manis sebagai tanda permohonan.
Azam melirik jam yang berada di nakas. Pukul 02.15 dini hari. Azam pun langsung teringat bahwa istrinya memang belum makan malam. Dengan berat ia bangkit dari tempat tidur dan ikuti oleh Aisyah dengan wajah berbunga bunga.
Entah bagaimana wajah Aisyah terlihat sangat imut, apalagi saat ia tak mengenakan hijabnya. Rambut hitam pekat menambah pesonanya, membuat dada Azam terus bergerumuh dan seperti ingin langsung menerkamnya.
"Mas, pakai daging sama sosis ya!" pintanya saat Azam membuka kulkas.
"Sejak kapan suka makan sosis?"
"Enggak tahu." Aisyah hanya menggeleng pelan.
"Pakai danging sama telur ya, di rumahkan gak ada sosis," saran Azam.
"Bilang aja Mas Azam gak mau buat, iya kan?" rajuk Aisyah.
Astaga, sejak kapan seorang Aisyah menjadi manja seperti ini? Bahkan selama ini memang tak ada stok sosis karena dia emang tidak menyukainya.
Sabar, ini ujian. Azam hanya mengelus dadanya dengan pelan.
"Mas Azam mau kemana?"
Azam yang telah berada di ujung pintu berbalik mengadap kebelakang. Ia terkejut saat melihat Aisyah telah sesenggukan. Karena tidak tahu apa yang sedang dirasakan oleh Aisyah ia pun memilih menghampirinya istrinya kembali.
"Kamu kenapa kok nangis? Apanya yang sakit" tanya Azam dengan panik.
"Mas ... Mas Azam jangan marah. Jangan tinggalin aku. Akuminta maaf udah buat Mas Azam marah." isak Aisyah..
Azam semakin tak mengerti dengan ucapan istrinya. Padahal niatnya hanya ingin ke swalayan yang buka 24 jam untuk membeli sosis, namun ternyata istrinyamalah ngelantur tak jelas.
"Ais, siapa yang marah? Siapa yang mau ninggalin kamu? Aku cuma mau ke Swalayan cari sosis, Kamu mau ikut? Tapi mending di rumah aja. Angin malam tidak baik untuk kesehatanmu." jelas Azam sambil tertawa pelan.
"Mas Azam kenapa tertawa, apakah lucu?" Aisyah merasa malu saat mengetahui niatsang suami hanya untuk pergi ke swalayan terdekat.
"Ya sudah, aku pergi dulu ya!" Pamit Azam. Namu, Ais segera mengambil jaket dan memasang hijabanya.
__ADS_1
"Aku ikut! Nanti kalau aku diculik gimana? Gal ada yang nemenin Mas asem tidur lagi!"
Baiklah, karena Azam tak ingin membuat istrinya menangis kembali, dengan terpaksa ia mengizinkan Aisyah ikut, meskipun sebenarnya Azam merasa sangat berat.
Azam melajukan motornya pelan, angin malam terasa menusuk hingga ketulang. Jalanan lenggang hanya satu dua kendaraan yang melintas membuat Azam merasa sedikit was-was. Takut jika ada orang jahat yang menghadangnya. Karena saat ini begal berkeliaran dengan bebas di jalanan.
Jika bukan karena rengekan sang istri, Azam enggan untuk keluar di tengah malam seperti ini. Apalagi berkeliaran di jalanan yang terasa sangat sepi.
.
Setelah puas dengan barang yang dipilih, Aisyah langsung mendorong trolinya. Bukan hanya sosis yang ia bawa, namun berbagai snack dan buah-buahan memenuhi keranjang belanjanya.
Azam hanya bis menghela napas panjangnya. Ia tak berani memberi komentar apapun, sebab ia tahu saat ini istrinya sedang dalam masa sensitif. Mungkin karena pengaruh PMS lagi.
"Mas, kayaknya ada yang kurang deh." Setelah sampai rumah Aisyah baru teringat bahwa ia lupa memasukan ice cream ke dalam keranjangnya belanjanya tadi.
Bagai di hantam sebuah meteor, Azam menepuk jidatnya. Melirik jam yang menggantung di dinding. Lagi-lagi Azam membuang napas kasarnya. Sudah pukul 03.00 dini hari. Apakah Aisyah meminta kembali ke swalayan untuk mengambil es krim yang tertinggal?
Ya Allah cobaan apa ini? Apakah hambah harus kembali lagi ke Swalayan lagi.
"Ya sudahlah besok aja kembali kesana. Tidur yuk!" Aisyah langsung menggandeng tangan suaminya menuju ke kamar. Azam merasa sangat lega setelah mendengar ucapan Aisyah.
"Loh, kan nasi gorengnya belum di buat," ucap Azam mengingatkan.
"Udah gak pengen lagi. Bobok aja yuk," rengek Aisyah seperti seorang anak kecil yang hendak tidur bersama orang tuanya.
Saat ini Azam tak bisa mencerna dengan baik kejadian yang baru saja menimpa dirinya.
Berulang kali Azam mengecek suhu tubuh istrinya. Menempelkan telapak tangan kekeninggnya, berharap istrinya sedang tak kesurupan.
Aisya terlihat berbinar. Mengelus perutnya yang mendadak terasa kenyang begitu saja. Dalam pikiran pun Aisyah merasa heran dengan perubahan yang ada dalam dirinya. Terkadang menginginkan sesuatu di saat itu juga namun, terkadang rasa itu juga hilang begitu saja.
"Dasar perut aneh!"
...TO BE CONTINUE...
__ADS_1
...πΈπΈπΈ...