
Ternyata tidak ada yang gratis di dunia ini. Setelah memakan hidangan di atas meja tadi, ternyata Alex harus membayarnya dengan cara membantu Aisyah membersihkan rumahnya.
Ini adalah sebuah trik mudah bagi Aisyah untuk mendapat bantuan. Begitu juga dengan Nabila. Meskipuni dia sudah memasakkan nasi goreng, bukan berarti dia juga tidak mendapat tugas dari Aisyah.
Tugas Nabila sangat gampang. Ia hanya cukup membereskan perkakas yang sudah ia kotori tadi serta mencuci piring kotor yang telah dikutip oleh Aisyah
Sementara itu, Aisyah sendiri malah asyik menonton televisi sambil menikmati snack yang di bawa oleh Alex
Hari ini Aisyah berhasil memanggil bala bantuan untuk membereskan rumahnya.
Alex dan Nabila sama-sama merebahkan tubuhnya di samping Aisyah setelah selesai mengerjakan tugas yang diberikan oleh Aisyah. Keduanya merasa sangat lelah karena telah dikerjai habis-habisan oleh Aisyah. Niat mereka ingin menghibur diri namun, nyatanya malah membuat sengsara diri sendiri.
"Capek ya? bentar aku buatin minum dulu." Aisyah menatap kedua orang yang sama-sama sedang lemas tak berdaya.
"Nih, jus orange. Penghilang dahaga penunda haus." Seloroh Aisyah dengan bahagia, karena pekerjaan rumahnya sudah beres.
Dengan kompak kedua orang itu meneguk jus sampai tandas membuat. Aisyah hanya bisa menggelengkan kepalanya saat melihat kedua temannya.
"Masya Allah. Kalian kehausan? Mau aku ambil lagi?" tawar Aisyah.
Alex dan Nabila sama-sama menggelengkan kepalanya pelan.
"Kalau tahu seperti ini, mending aku pergi ke sawah bantu abah nyari rumput," keluh Alex.
"Sama Al. Aku mending tidur di rumah." timpal Nabila.
Aisyah yang berada disamping mereka segera mengernyit.
"Jadi kalian gak ikhlas, nih?" sindir Aisyah dengan alis yang menaut.
"Sedikit, sih." gurau Alex.
Mendadak wajah Aisyah berubah sendu.
"Eh... buka gitu maksudnya. Kami ikhlas kok. Iya, kan Al?" Nabila memberi kode pada Alex setelah melihat perubahan pada Aisyah.
"Iya... iya ikhlas kok. 'Kan aku tuh cuma bercanda Ais. Gitu aja sensitif amat sih? Elu lagi PMS ya?"
Seketika Alex mendapat lemparan bantal sofa tepat di wajahnya membuat Alex tertawa.
__ADS_1
Aisyah pun malah ikut menertawakan aksi Alex dan Nabila yang saling lempar bantal. Siapa yang di hujat, siapa yang di serang. Begitulah dua orang yang berada di hadapannya saat ini.
Aisyah menarik napas lega. Rumahnya kini sudah bersih. Bahkan sampai taman depan pun juga ikut di bersihkan rumputnya oleh Alex.
Padahal selama ini Ais paling malas untuk membersihkan taman tersebut, tetapi itu semua Alex yang membersihkan. Aisyah merasa sangat senang dan banyak mengucapkan terima kasih kepada Alex. Taman Aisyah kini terlihat lebih rapi. Tak hanya membersihkan rumput, Alex juga menata ulang tempat bunga beserta potnya agar terlihat lebih rapi
"Ais, gue laper!" Alex mengadu.
"Tapi kamu kan udah habisin makanannya, Al." seru Aisyah.
"Elu harus tanggung jawab dong! Gue udah capek beresin rumah elu. Kalau bukan karena istri pak dosen, ogah gue bantuin elu." sunggut Alex.
"Lha... apa hubungannya dengan istri dosen, coba?" timpal Nabila
"Ya, siapa tahu entar nilai gue dapat A+, gitu." gelak tawa Alex membuat Ais dan Nabila hanya menggelengkan kepalanya.
"Mimpi kamu, Al." ketus Aisyah.
Begitulah jika mereka bertiga sudah berkumpul. Akan ada saja yang menjadi perseteruan diantara mereka namun, itu semua hanya candaan belaka.
Jika awalnya Alex mendekati Aisyah karena ia menyukainya namun, setelah mengetahui bahwa Ais telah bersuami, rasa yang Alex dimiliki perlahan memudar. Dalam sejarah hidup Alex, ia tak ingin mencintai seseorang yang telah bersuami. Pantang baginya menjadi orang ketiga, namun jika seseorang itu belum sah menikah, maka Alex akan berjuang mengejar cintanya. Begitu lah prinsip Alex.
Pantang mundur sebelum janur kuning melengkung.
"Mending kita masak bersama, mumpung ada Alex. Ya, kan Al?" seru Nabila
"Aku lagi?" gerutu Alex.
Akhirnya dengan terpaksa Alex mengikut saja kemana arus membawa dirinya. Namun, sebelum memasak ketiganya memutuskan untuk pergi ke swalayan terdekat untuk mencari bahan makanan yang akan mereka masak.
"Al, pakai mobil aja! Kamu bisa nyetir kan? Nih kuncinya!" Aisyah menyerahkan sebuah kunci mobil miliknya yang di belikan oleh mertuanya beberapa bulan setelah menikah.
"Bisa dong! Apa yang tidak bisa di lakukan oleh Alex." Sombong Alex.
Mobil segera meluncur ke sebuah swalayan terdekat. Nabila dan Ais berjalan beriringan, sementara Alex berjalan di belakang kedua wanita tersebut.
Beruntung saja ada Alex yang mau mendorong troli. Aisyah dan Nabila sibuk dengan bermacam barang yang terlihat di depan matanya. Dengan sabar Alex mengikuti langkah kedua orang tersebut untuk berpindah tempat.
"Dosa apa aku ya Allah?" gumam Alex saat kedua wanita itu masih saja berpindah-pindah rak. Padahal hasilnya kembali lagi ke tempat semula.
__ADS_1
"Udah diam aja. Dosa kamu banyak, Al!" sahut Nabila yang mendengar ucapan Alex.
Alex hanya mampu membuang nafas kasarnya. Ia tidak akan mungkin menang jika sudah melawan Nabila, wanita sejuta pesona yang. Mungkin dari sini Alex harus belajar sabar jika suatu saat ia mempunyai pasangan. Sebab, dari sini Alex sudah banyak belajar tentang kaum hawa yang banyak maunya dan pantang untuk di salahkan.
Setelah siap dan merasa tidak ada yang kurang lagi, Aisyah segera menggiring Alex untuk menuju kasir. Kini giliran Aisyah yang maju ke depan untuk menyelesaikan pembayaran.
Mata Alex melotot saat mengetahui jumlah yang harus dibayar oleh Aisyah.
"Serius Ais. Luh gak takut laki luh marah?" Alex sangat terkejut melihat nominal yang tertera di struk pembayaran.
"Ngapain harus marah?" tanya Aisyah dengan heran.
"Duit segini cuma untuk belanja seperti ini, apa gak mubadzir?"
"Kan mau kita makan, bukan kita buang 'kan?"
"Iya memang sih."
"Makanya Al. kamu kuliah yang bener, cari kerja yang bagus. Sebab dikemudian hari akan ada istri yang akan siap untuk menghamburkan hasil keringatmu!" ledek Nabila sambil tertawa.
Baiklah, dari sini Alex juga belajar bahwa wanita itu royal. Suka menghabiskan uang!
Sesampainya di rumah, kini giliran Nabila dan Aisyah yang sibuk di dapur, sementara Alex terlihat santai menonton televisi sambil menikmati camilan yang baru saja mereka beli.
"Ais, nanti pak Azam pulang jam berapa?" tanya Nabila.
Aisyah mengangkat kedua bahunya. "Entahlah."
"Lho...ok entahlah. Kalian berantam?"
Aisyah menggeleng pelan. "Tidak."
Nabila pun langsung menatap serius kearah Aisyah
"Jangan berbohong Ais! Aku tau bagaimana pak Azam. Pasti dia sedang cemburukan melihat kamu sama Reyhan kemarin?" tebak Nabila.
Lagi-lagi Ais mengangkat kedua bahunya. "Entahlah, Bil. Aku juga tidak tahu. Kemarin mas Azam sempat cuekin aku, trus habis itu tiba-tiba berubah jadi perhatian lagi. Aku tuh jadi bingung."
"Ya sudah kalau dia tidak marah. Tapi ingat, jangan pernah ulangi lagi. Kalau mau kemana-mana itu harus kasih tahu aku dulu! Biar aku gak khawatir!" saran Nabila.
__ADS_1
"Siap Ibu komandan!" ucap Aisyah dengan tertawa pelan.
🌺 🌺 🌺 🌺