
Baru saja ingin terlelap, adzan subuh telah berkumandang. Dengan terpaksa Azam harus bangkit dari tidurnya, meskipun rasanya terasa sangat berat. Setelah rapi dengan baju koko dan sarung, Azam segera membangunkan Aisyah untuk sholat subuh.
"Ais, bangun. Aku pergi ke masjid dulu ya. Jangan lupa sholat subuh," pesan Azam sebelum meninggalkan istrinya. Kepala Aisyah pun hanya mengangguk pelan, karena dirinya juga masih mengantuk.
Sepeninggal Azam, Aisyah pun malah menarik kembali selimutnya. Kali ini matanya terasa sangat lengket, entah lem apa yang telah merekatkan kedua matanya. Mungkin itu adalah tiupan setan agar Aisyah tetap tidur?
Niatnya hanya ingin mengulur lima menit saja namun, ternyata malah kebablasan hingga suaminya pulang dari masjid. Azam yang melihat Aisyah masih terbalik selimut pun melangkah pelan untuk menghampirinya. "Ais, bangun! Subuhan dulu! Kamu belum sholat kan?"
Tak ada respon dari Aisyah, Azam pun memilih meninggalkan istrinya. Pagi ini Azam berniat membuat sarapan pagi untuk mereka berdua. Jarang sekali Azam bisa mengutak-atik dapur istrinya. Selama ini Aisyah selalu rajin bangun pagi dan memasak. Namun, entah mengapa beberapa hari belakangan ini istrinya terlihat sangat malas untuk bangun pagi. Karena ada kesempatan Azam pun turun tangan untuk mengeksekusi bahan yang ada di dalam kulkas.
Cahaya keemasan menebus jendela kaca, berdosalah Aisyah kerena pagi ini ia meninggalkan subuhnya.
"Mas Azam!" teriaknya dengan keras.
Sontak Azam yang berada di dapur langsung ngacir ke kamar saat mendengar teriakan Aisyah. Ia sangat takut jika terjadi sesuatu kepada istrinya.
"Ada apa?" Napas Azam tersenggal setelah membuka pintu kamar.
"Kenapa Mas Azam gak bangunin aku?" teriak Aisyah lagi.
Azam mengernyit. Bukankah tadi sudah ia membangunkan? Dasar Aisyah saja yang tidak mau bangun.
Kata itu hanya mampu tertahan di tenggorokan karena tidak bisa dikeluarkan.
"Semua gara-gara Mas Azam! Aku gak sholat subuh, pokoknya Mas Azam harus tanggung jawab!"
Lagi-lagi Azam hanya menghela napasnya beratnya.
Jika ia meladeni amarah Aisyah, mungkin hanya ada pertengkaran setiap harinya. Namun, Azam berusaha untuk berpikir lebih dewasa karena memang dia menikahi seorang bocah.
"Lho, kok jadi aku yang disalahin? Kan Ais sendiri yang gak sholat." protes Azam.
"Iya. Kan harusnya Mas Azam bangunin aku gitu!"
__ADS_1
"Lha... tadi kan udah, Ais! Kamu-nya aja yang gak mau bangun!"
Aisyah terdiam untuk sesaat. Apa mungkin yang diucapkan suaminya benar. Bagaimana jika memang ia yang tidak mau bangun. Ah, bukankan orang tidur itu tidak sadar?
Aisya terlalu gengsi untuk mengakuinya. Jika ia memang sulit untuk dibangunkan tadi pagi.
"Tetap aja Mas Azam yang salah!" Aisyah pun berlalu menuju ke kamar mandi.
πΈπΈ
Pagi ini ia ada jadwal kuliah pagi, begitu juga dengan Azam yang juga akan mengajar di kelas Aisyah.
Menuruni anak tangga, indra penciuman Aisyah menangkap aroma yang mengggoda seleranya. Bisa dipastikan jika di meja makan telah disajikan makanan. Aisyah pun segera menghampiri meja makan
"Wah..." Aisyah merasa sangat takjub dengan menu yang telah tertata rapi.
Tak sabar, Aisyah pun segera mengambil piring lalu mengisinya dengan nasi dan lauk yang telah tersaji. Hingga ia melupakan sosok Azam yang belum keluar dari kamar.
Jika biasanya ia akan menunggu suaminya dan menyiapkan sarapan, untuk kali ini ia mengabaikan semua itu.
"Enak, Mas. Mas Azam beli sayur dimana? Kok selama ini aku gak pernah liat sayur kayak gini di depan sana?"
"Siapa juga yang beli. Ini aku yang masak sendiri," ujar Azam.
Aisyah tersenyum tipis meremehkan Azam. "Sejak kapan Mas Azam bisa masak?"
Azam hanya mendengus pelan. "Kamu aja yang gak tahu. Atau mungkin karena selama menikah aku belum pernah masak ya? Em .. tapi gak papa. sekarang kamu tahu kan jika suami kamu ini selain pandai di atas tempat tidur juga pandai di dapur," ujar Azam sambil mengolah senyum di bibirnya. "Karena aku udah masak, jadi kamu yang beresin dapur ya." Azam mengedipkan satu mata pada Aisyah.
"Serius Mas?" Aisyah masih tak percaya. "Kalau Mas Azam pintar masak, berarti mulai saat ini aku tak perlu repot-repot untuk membeli lauk di luar sana, karena di rumah telah ada tukang masak."
Meskipun masakan itu terlalu enak namun, dampaknya dapur yang biasa rapi kini telah berubah seperti kapal pecah.
Aisyah hanya menelan ludahnya sambil melihat Agung. Begitu juga dengan Azam yang menatap Aisyah dengan pandangan mengejek.
__ADS_1
Karena keduanya telah menyelesaikan serapan, maka saatnya untuk beberes. Azam segera merapikan kembali meja makan. Sementara Aisyah membereskan dapur. Mencuci perkakas yang telah di kotori oleh suaminya.
Sudah menjadi kebiasaan Azam dan Aisyah selalu membagi tugas pekerjaan rumah. Meskipun sebagai suami, Azam juga akan turun tangan membantu pekerjaan rumah. Sebab, menurut Azam pekerjaan rumah itu adalah tanggung jawab mereka berdua.
Bahkan Azam tidak akan merasa malu jika ia sering mencuci baju ataupun menjemur baju untuk membantu meringankan tugas Aisyah, mengingat keduanya tidak memiliki asisten rumah tangga.
"Mas, ayo cepat. Nanti telat!" teriak Aisyah dari halaman rumah. Sementara Azam masih membereskan perlengkapan yang akan ia bawa ke kampus.
"Lama banget sih!" gerutu Aisyah saat Azam sudah masuk kedalam mobil.
"Kamu kenapa sih buru-buru?" tanya Azam dengan napas tersengal.
"Bentar lagi kelasku masuk, Mas!" omel Aisyah.
Azam hanya mengangguk sambil melajukan mobilnya pelan.
"Mas, cepat sedikit kenapa?" protes Aisyah lagi.
Azam memicingkan alisnya melihat wajah Aisyah yang gusar, terlihat ia sedang khawatir.
"Kamu kenapa sih Ais? tegang banget mukanya?" Azam merasa penasaran.
Aisyah berdecak kesal. "Ihh... Mas Azam ini gak tahu apa pura-pura gak tahu sih? Kalau aku sampai telat lagi bisa-bisa aku di jemur lagi, Mas! Emang Mas Azam suka liat istrinya kayak ikan asin?" protes Ais.
"Kamu itu pura-pura tidak tahu atau pura-pura lupa? Dosen yang akan mengisi materi pagi ini masih disini. Kalaupun kamu telat, pasti dosennya juga telat, Ais!"
Mendengar penuturan Azam, Aisyah malah cengengesan, merutuki kecerobohannya. Ia lupa jika sopir pribadinya itu adalah dosennya juga.
.
.
...TO BE CONTINUE...
__ADS_1
...πΈπΈπΈ...