Cinta Untuk Aisyah

Cinta Untuk Aisyah
18 ~ Drama


__ADS_3

Akhirnya menu makan rumahan telah tersaji diatas meja. Dengan bangga Aisyah segera mengambil gambar hasil masakan menggunakan ponselnya lalu segera memposting ke akun media sosialnya.


Alex yang mencium aroma menggoda segera menghampiri Nabila dan juga Aisyah.


"Widih… banyak amat?" kagum Alex pada hidangan yang sudah tersaji.


"Iya aku emang sengaja masak banyak. Nanti kalian bawa ya! Biar Abah juga mencicipi," ucap Aisyah.


Alex menggeleng takjub. Ternyata Alex baru tahu jika Aisyah cantik luar dalam. Bukan hanya parasnya yang cantik namun, hatinya juga baik. Sampai-sampai Aisyah juga memikirkan keluarga yang berada di rumahnya.


"Masya Allah Ais, baik banget sih. Sampai ingat sama Abah segala." Tak hentinya Alex memuji kebaikan Aisyah.


"Pak Dosen pasti sangat beruntung memiliki istri seperti luh ya, Ais. Kira-kira masih ada gak ya stok yang gini satu aja," gumam Alex.


"Menghayal terus…! Kuliah yang bener dulu!" sahut Nabila lagi.


"Lha… Kok elu yang sewot sih?" gerutu Alex.


"Bukan sewot, Alex! Aku cuma mengingatkan kamu saja, agar tidak lupa diri. Tampang pas-pasan kayak gini mau nyari yang seperti Ais? Mimpi aja sana!" ujar Nabila.


Aisyah memijit pelipisnya. Mendengarkan mereka berdua beradu mulut terus membuat kepalanya terasa migrain.


"Udah, ah. Makan dulu, entar sambung lagi!" timpal Aisyah ada dua orang yang tak bosan-bosannya untuk beradu mulut.


Nabila dan Alex sama sama menakutkan alisnya. "Apa yang di sambung?" Kompak mereka berdua.


Aisyah menatap kedua temannya. "Kompak amat, sih?" Kemudian Aisyah tertawa.


Tetapi tidak dengan Nabila dan Alex yang tiba-tiba terdiam. Keduanya tak berucap kembali hingga acara makan siang telah selesai.


"Aku tuh heran sama kalian! Tadi sama-sama ribut, sekarang sama-sama diam. Sehati kalian ya?" ejek Aisyah.


"Aku sehati sama dia! Amit amit, deh!" ledek Nabila sambil bergidik geli.


"Apalagi gue? Nauzubillah deh. Cerewetnya gak ketulungan kayak gitu, ogah gue!" cibir Alex.


Nabila mengepalkan tangan ke udara hendak menonjok Alex serta menghentakkan kakinya. Ingin sekali ia membogem wajah Alex, tetap langsung diurungkan.


Alex hanya menjulurkan lidahnya seolah sedang mengejek Nabila.

__ADS_1


Hari semakin sore, Alex berniat untuk pulang, ia takut jika Abah mencarinya.


"Ais, gue pamit ya." 


"Oke. Hati hati ya! Jangan lupa sampaikan salam sama Abah." pesan Aisyah.


"Siap!" 


Alex pun berlalu sambil membawa bungkusan yang diberikan oleh Aisyah. Hasil masakan rumahan untuk Abah, kata Aisyah tadi.


Alex hanya tersenyum melihat rantang yang berada di tangganya.


Selama berteman dengan banyaknya orang, baru kali ini Alex bertemu dengan orang yang masih memikirkan Abahnya. Padahal Alex juga berasal dari keluarga yang berada. Sungguh Aisyah berhati mulia.


Sepeninggal Alex, Ais sengaja melarang Nabila untuk pulang. Aisyah masih ingin bersamanya, karena Aisyah merasa malas di rumah tanpa siapapun. Nabila pun tidak merasa keberatan. Andaikan Nabila tidak pulang pun juga tidak akan ada yang mencarinya, mengingat Nabila hanya anak kost jauh dari keluarganya.


"Kamu manja amat sih, Ais?" ejek Nabila.


Kini kedua wanita itu mendekam di kamar Aisyah. Kamar yang luas, selain ada meja kerja suaminya, ada juga televisi besar di sana. 


Aisyah memutar video drama yang telah lama tidak diputarnya.


Baiklah, memang ada benarnya ucapan Aisyah. Selama ini Ais melewati harinya sendiri jika sedang di tinggal pak Azam mengajar ataupun ke cafe.


Nabila terus saja mengamati Aisyah. Dalam diam ia mengulang kembali ingatannya mengapa ia curiga kepada Aisyah. Tetapi semua ini masih dugaannya saja.


Ah, tidak mungkin! Nabila membuang jauh prasangkanya. Mungkin saja Ais memang sedang merindukan dirinya, mengingat dulu kemana-mana selalu bersama.


Keduanya menghayati drama yang mereka tonton hingga terbawa suasana. Keduanya sesenggukan, ikut menangis.


"Sedih banget sih, Bil," ucap Aisyah dengan pelan.


"Iya," jawab Nabila.


Hanyut dalam sebuah drama, membuat keduanya tak menyadari jika Azam telah membuka pintu kamar.


Merasa terkejut dengan isak tangis, Azam segera menghampiri istrinya.


"Kalian kenapa?" panik Azam saat melihat dua orang terisak. Bahkan tisu pun berhamburan di lantai.

__ADS_1


"Mas Azam." Aisyah terkejut. Begitu juga dengan Nabila yang tak kalah terkejut dari Aisyah. Saat ini Nabila benar-benar merasa malu.


"Mas Azam kenapa udah pulang?" gugup Aisyah.


Perlahan Azam mengedarkan tatapannya. Ia pun paham mengapa suara mobil serta ucapan salamnya tak terdengar, ternyata penghuni rumah sedang menghayati sebuah drama opa mereka.


Azam pun mengangguk paham.


"Ooo jadi ini alasan salam ku gak terdengar?" sindir Azam.


Aisyah tertunduk lesu. "Ia Mas, maaf ya," sesal Aisyah.


"Ya udah, karena pak Azam udah pulang aku juga pulang ya, Ais." pamit Nabila


"Maaf ya, Pak. Saya permisi." pamitnya pada Azam. 


Azam hanya mengangguk pelan sebagai tanda isyarat setuju.


"Ais, lanjutin sama pak suami ya, siapa tau entar abis ini ada adegan nganu," bisik Nabila sebelum meninggalkan Aisyah.


Aisyah langsung melotot. Ingin rasanya ia mencubit Nabila yang sudah berlalu. Awas kamu ya, batin Ais.


Aisyah pun segera menyambut kedatangan Azam. Ia mencium punggung telapak tangan suaminya seraya meminta maaf. Kemudian Aisyah memunguti tisu bekas yang berserakan di lantai. Azam memilih menjatuhkan tubuhnya di sofa sambil menonton drama yang baru saja membuat Nabila dan istrinya menangis.


Namun naas, Azam malah menyaksikan yang tak seharusnya ditonton oleh anak di bawah umur. Eh, Azam kan anak dibawah umur?


"Ais, ini tonton apa? Kalian gak takut dosa nonton yang kayak gini?" protes Azam menunjuk ke arah sebuah adegan dimana sang tokoh utama mencium lawan mainnya.


"Kan cuma nonton aja Mas. Dosa itu kalau melakukannya. Tapi… kalau kita yang melakukan gak dosa lho, Mas." kekeh Aisyah


Azam langsug mengelus dadanya.


"Sudahlah Mas Azam gak usah terkejut seperti itu. Aku tau pikiran Mas Azam itu lebih dari itu," cibir Aisyah.


Bagai sebuah pancingan, Azam mulai tertantang untuk mengerjai istrinya yang sekarang sudah pintar memikirkan hal messum.


"Daripada membayangkan sebuah drama, sini kita praktekkan aja kan pasti lebih seru," goda Azam.


Mendadak wajah Aisyah terasa panas. Tubuhnya menegang. Ia pun menggeleng serta melangkah mundur saat Azam mulai maju mendekatinya. Azam tersenyum lebar saat Aisyah telah berhasil kabur keluar dari kamar

__ADS_1


"Dasar Aisyah." gumamnya.


__ADS_2