
Sinar mentari telah menyingsing di ufuk timur Seperti biasa Aisyah telah lihai bertempur di dapur. Memasak kini menjadi hobi baru baginya. Jika ada waktu senggang sering ia gunakan untuk mencoba resep baru yang ditonton melalui you tube.
Melupakan keinginan semalam yang tak kesampaian tak membuatnya larut dalam kekecewaan. Pagi ini dengan semangat ia telah menyajikan sayur lodeh dan bacem tahu tempe kesukaan sang suami. Azam yang baru saja mendaratkan tubuhnya di meja makan langsung terperanjat dengan hidangan yang sudah tertata rapi di atas meja. Terlebih makanan favoritnya juga sudah tersaji.
"Serius ini?" Sambil membolak-balikan tempe yang dipegang kemudian diciumnya.
"Ah, gak papa itu Mas. Gosong dikit." Tangan Aisyah dengan telaten mengisi piring Azam dengan nasi dan sayur. Meski tahu dan tempe terlihat gelap namun rasanya masih lumayan bisa di makan.
Aisyah melihat Azam yang ragu hendak mengigit hasil karyanya. "Tadi aku tuh kelupaan matiin kompor pas Pak Min lewat. Ya, gosong deh jadinya." kata Aisyah sambil mengedipkan kedua matanya. Azam hanya mengerutkan dahinya.
"Apa hubungan sama Pak Min?" tanya Azam penasaran. Pak Min adalah tukang bubur yang sering lewat di depan rumah. Usianya juga sudah tak muda lagi. Dan selama ini Aisyah tak pernah membeli buburnya, tetapi mengapa pagi ini tiba-tiba Aisyah membeli buburnya? Patut untuk dipertanyakan!
"Tara... bubur ayam. Tapi ayamnya udah habis jadi di ganti telur sama Pak Min." Aisyah membuka piring yang menutupi mangkoknya membuat Azam tertawa lepas.
"Sejak kapan kamu doyan makan bubur? Kalau seperti ini bukan bubur ayam, tapi telur ayam dong. Tapi gak papa, telur kan juga dihasilkan dari ayam juga," ledek Azam.
Aisyah tak menanggapi ejekan suaminya. Dirinya memilih untuk menyantap bubur telur ayam sementara dengan lahap, sementara Azam menikmati sarapannya dengan tahu tempe yang gosong. Beruntung saja masih ada sayur sehingga rasa gosong itu tidak terlalu dirasakan.
"Ais, gak ada cabe?" tanya Azam di sela-sela makannya.
"Ada Mas. Tapi aku lupa gilingnya tadi," jawaban kilat membuat Azam hanya mampu menelan kasar ludahnya.
🌺 🌺 🌺
Di kampus, sepanjang materi yang di berikan oleh dosen, Aisyah tak menyimak dengan baik. Rasa kantuk yang menyerang membuat dirinya tak bisa fokus. Namun, sebisa mungkin ia menahannya agar tidak tertidur saat materi sedang berjalan. Hingga tiba saat sesi lempar pertanyaan, Aisyah masih berjuang agar dirinya tidak tidur. Biasanya dialah yang sering mengajukan beberapa pertanyaan. Namun, untuk kali ini dirinya memilih diam, sebab materi yang telah di jelaskan panjang lebar tak ada yang nyangkut di memori kepalanya.
Beruntunglah beberapa kali Nabila menyenggol tubuh Aisyah agar tak tertidur.
__ADS_1
Karena tidak ada pertanyaan, dosen pun menganggap jika semua mahasiswa telah paham akan materi yang telah disampaikan. Maka sang dosen pun langsung memberikan tugas, membuat para mahasiswa mengaduh keberatan.
"Ngerjain tugas di rumah luh lagi ya, Ais!" ucap Alex setelah kepergian sang dosen.
"Idih... ketagihan ya?" ledek Aisyah.
"Gak tahu malu ya, sekali di kasih ijin langsung ketagihan. Huu!!!" sorak Nabila.
"Yaelah ... kalo di rumah luh kan terjamin Ais. Banyak makanan," oceh Alex lagi.
Tak ada respon dari Aisyah. Ia hanya terdiam dan berjalan pelan. Melihat tak ada ekspresi dari wajah Aisyah, Nabila merasa heran.
"Kamu sakit?" tanya Nabila untuk memastikan. Hanya gelengan pelan sebagai jawaban Aisyah jika dirinya tidak sakit.
"Lalu? Aku tahu kamu dari tadi gak konsen. Kamu itu ngantuk kan? Emang semalam lembur berapa trip sih?" Nabila mendengus kesal.
"Mentang-mentang bisa nganu tiap malem, jadi pas kuliah ngatuk terus..." ledek Alex.
Aisyah hanya menjulurkan lidahnya membuat Alex merasa geli.
Karena jam kuliah sudah habis, Aisyah lebih memilih menunggu suaminya di halte depan kampus. Sudah biasa baginya, sebab ia tak ingin ada yang tahu jika saat ini Azam adalah suaminya. Memang keduanya sudah berkomitmen untuk menyembunyikan setatus pernikahan mereka karena beberapa pertimbangan. Yang pasti bukan untuk memberikan celah pada orang ketiga.
Setelah masuk kedalam mobil, Aisyah segera memerintah Azam kayaknya seorang sopir untuk mencari tempat makan.
"Bukanya tadi udah makan?" tanya Azam dengan heran.
"Masih lapar Mas," jawabnya jujur.
__ADS_1
Tanpa menolak, Azam pun melajukan mobil dengan pelan. Sementara mata Aisyah berkeliaran keluar jendela untuk mencari tempat yang ingin disinggahi.
"Kemana kita?" tanya Agung.
"Jalan aja terus," jawab Ais dengan cepat.
Agung mengangguk menuruti perintah istrinya. Ia hanya mampu menghembuskan napas kasarnya saat Aisyah mengatakan ingan makan siomay yang berada di alun-alun kota
"Beli di simpang empat sana aja ya? Kan sama-sama siomay. Yang bener aja dong Ais, masa ke alun-alun cuma mau beli siomay aja? Kalau gak ada yang jualan gimana? Kita beli di simpang empat itu ya?" bujuk Azma dengan tangan yang menunjuk kearah depan.
Wajah Ais mendadak berubah tak bersahabat.
"Bilang aja gak mau! Udah ah turunin aku di sini, aku bisa kesana sendiri."
Sendadak Aisyah hendak melepaskan sabuk pengamannya. Azam yang panik langsung menahan tangan Aisyah. "Bukan gitu Ais. Baiklah kita kesana." Azam pun akhirnya mengalah.
Sabar Azam!
"Are you serious?" tanya Aisyah mata yang berbinar.
"Yes." Dengan terpaksa Azam mengiyakan permintaan konyol. Azam hanya membayangkan bagaimana jika yang di inginkan Aisyah tak ada lagi. Percuma jauh-jauh sampai kesana jika pada akhirnya tidak menemukan keinginannya lagi. Padahal sudah jelas disimpang empat sudah ada Pak Mamang yang mangkal disana.
"Mas, kalau ikhlas jangan ngatain aku dalam hati ya! Aku tahu apa yang sedang kamu pikirkan!" ucap Aisyah seakan tahu isi pikiran suaminya. Azam hanya tersenyum getir sambil menatap lurus jalanan yang lenggang.
Benar saja apa yang dibayangkan oleh Azam sebelumnya. Sudah lelah kaki mengelilingi sekitar alun-alun tetapi tak ada seorang pun yang menjajakan siomay di tempat itu. Mungkin waktu yang kurang tepat atau mungkin saja keberuntungan sedang tak memihak kepada Aisyah. Dengan berat hati Aisyah pun memilih mengakhiri pencariannya disana dengan sebuah kekecewaan yang bersarang di dalam hatinya lagi.
Azam hanya menatap istrinya yang terlihat lesu. Ia pun segera mengajak Ais untuk mencari di tempat lain. Meski berat hati, Aisyah tetap mengikuti ajakan suaminya.
__ADS_1
Entah sudah beberapa hari ini selera Aisyah tiba-tiba timbul begitu saja. Dan yang lebih anehnya ia menginginkan makanan yang tidak pernah disukai sebelumnya. Mungkin saja semua ini efek dari tugas yang selalu diberikan oleh dosennya. Tugas, tugas dan tugas.