
Jika mentari akan selalu bersinar di siang hari, maka bulan dan bintang akan menerangi gelapnya malam. Tidak mudah untuk kelainan hati jika cinta itu telah melekat dalam hati Bagaimanapun badai mengombang-ambingkan cinta Azam tetaplah untuk Aisyah.
Hampir lima 15 menit perjalanan, akhirnya Aisyah sampai juga di sebuah cafe tempat favorit mereka menghabiskan waktu. Sebisa mungkin Aisyah tetap tenang meskipun hatinya seperti tercabik-cabik.
"Ais!" panggil Azam saat melihat Ais yang baru saja masuk ke dalam cafe.
Ais pun berjalan pelan untuk menghampiri sang suami yang sudah menunggunya. "Maaf, Mas harus menunggu. Biasa jalanan tadi macet," jelas Asiyah.
"Iya gak papa. Gimana perut kamu masih sakit nggak?"
Aisyah tersenyum kecil. "Udah sembuh kok. Mas Azam ngapain kita kesini? Emangnya udah gak ada kerjaan lagi?"
Azam menatap rapat wajah sang istri yang terlihat pucat. Sejak mengajar tadi Azam selalu memperhatikan sang istri. Namun, tidak mungkin asem memperlihatkan kekhawatirannya di depan para mahasiswa.
__ADS_1
"Syukurlah. Kamu mau pesan apa?" tanya Azam dengan lembut.
"Terserah apa aja! Perutku enggak manja kok."
Azam benar-benar merasa bersalah karena masih berkomunikasi dengan sang mantan. Wanita manapun pasti akan merasa cemburu jika suaminya masih melakukan komunikasi dengan sang mantan. Jika Azzam berada di posisi Aisyah mungkin Azam akan merasakan apa yang sedang diciptakan oleh Aisyah.
"Ais, aku benar-benar minta maaf. Aku dan Via tidak ada hubungan apa-apa. Aku hanya membantunya saja, Ais. Tolong kamu percaya sama aku. Aku gak mungkin mengkhianati cinta kita."
"Bagaimana aku bisa mempercayai mas Azam jika Mas Azam memang tidak mempunyai hubungan apa-apa dengan wanita itu?" Aisyah memberanikan diri untuk mengeluarkan isi dalam hatinya.
"Aku akan memanggil Via untuk ke sini agar bisa menjelaskan kesalahpahaman ini," Ujar Azam.
Aisyah tidak keberatan dengan ide yang diberikan Azam, karena dia juga penasaran Seperti apa Via sehingga suaminya bisa kepincut dengannya.
__ADS_1
"Oke gak masalah."
Azam pun langsung menghubungi Via untuk segera ke cafe karena ada sesuatu yang ingin dibicarakan. Mendapat telepon dari Azam yang menyuruhnya untuk datang ke cafe membuat Via merasa sangat bahagia. Tanpa babibu, Via pun langsung meluncur ke cafe yang telah dikatakan oleh Azam.
Asiyah tak banyak berbicara. Dalam diam, pikiran terus berputar, mengingat dirinya yang tak kunjung hamil juga. Padahal hampir setiap malam mereka melakukan pencetakan. Aisyah sangat takut jika Azam memilih untuk mencari wanita lain untuk mengandung benihnya. Lalu jika itu terjadi, apa yang akan Aisyah lakukan?
Lamunan Aisyah tersentak saat seorang wanita telah menarik sebuah kursi di sampingnya. Namun, saat melihat bentuk bajunya Aisyah harus mengurus dada. Bagaimana bisa seorang wanita memakai pakaian setengah jadi untuk menemui seorang pria. Atau memang sengaja sedang ingin menggoda.
Via merasa sangat terkejut karena ternyata ada istrinya Azam yang sudah menunggunya. "Ini ada apa, ya?" Via bertanya karena merasa risih dengan tatapan dua insan yang ada dihadapannya.
"Vi, kenalin ini Aisyah, istriku. Ais, kenalin ini Via."
Via menelan kasar salivanya. Dia pikir Azam hanya dirinya dan Azam saja. Siapa yang menyangka jika ada wanita kampung pilihan Azam turut hadir ditempat itu.
__ADS_1