Cinta Untuk Aisyah

Cinta Untuk Aisyah
08 ~ Kecerobohan Alex


__ADS_3

Alex berdecak terkagum saat memasuki rumah Aisyah, karena ini adalah pertama kalinya Alex menginjakkan kaki di rumah Aisyah. Awal mulanya ia hanya menganggap rumah sederhana itu biasa saja. Namun, saat tiba di ruang tamu dirinya di suguhi beberapa benda antik dan figura mahal bertengger di dinding rumah Aisyah.


"Sumpah gila, bapak luh pejabat ya?" tanya Alex dengan kagum. Tak hentinya Alex terus berdecak penuh kekagumannya saat disuguhi dengan barang antik yang terlihat seperti benda kuno yang bersejarah.


"Pantes aja luh selalu nolak kalau gue ngajak singgah kemari," lanjutnya lagi.


Nabila dan Aisyah tak kuat menahan gelak tawa mereka. Mau tak mau mereka meluaskan tawanya saat melihat Alex seperti yang masih terkagum-kagum dengan isi rumah Aisyah.


"Kamu lucu, Al."


Nabila baru tahu jika Alex bisa seheboh itu hanya karena sebuah perabotan rumah.


"Gue gak nyangka bapak luh tajir ya Ais. Bapak gue yang konglomerat aja kagak punya benda-benda antik kayak gini. Jadi penasaran pengen ketemu bapak luh! Pengen sungkeman siapa tau mau nerima gue jadi menantunya," oceh Alex dengan penuh percaya diri.


Seketika Nabila melempar bantal sofa kearah Alex. Pria itu hanya mengaduh.


"Jangan ngarep! Aisyah itu udah nikah. Paham!"


"Garing lelucon luh, Bil! Luh sengaja bilang seperti itu agar gue gak dekati Aisyah, kan?"


Sedikitpun Alex tak percaya jika Aisyah benar-benar sudah menikah.


Ditengah-tengah kesibukan mereka mengerjakan tugas, suara mesin mobil berhenti di halaman rumah, pertanda jika ada seseorang yang datang.


"Aku liat ke depan dulu ya," ijin Aisyah saat mendengar suara mobil.


Saat Aisyah membuka pintu, terlihat Azam baru saja keluar dari dalam mobilnya.


Aisyah pun langsung menghampiri suaminya. Seperti biasa ia mencium punggung telapak tangan suaminya sebelum sang suami mengeccup kening istrinya.


Mata Azam mengamati sebuah motor yang asing baginya.


"Maaf Mas, aku ngajak Nabila sama Alex untuk mengerjakan tugas di rumah." Aisyah menjawab rasa penasaran meskipun tak keluar dari mulut Azam.


Derap langkah kaki semakin dekat, membuat Alex menolehkan ke belakang dimana asal suara berderap.

__ADS_1


Dirinya hanya melongo saat Azam menatapnya. "Lho Pak Dosen?"


Azam langsung menghampiri Alex dan Nabila. Wajah Alex mendadak pucat saat Azam melemparkan tubuhnya di sofa. "Apakah itu tugas dari saya tadi?"


Pertanyaan konyol, masih saja bertanya. Jelas aja iya. Aisyah hanya mampu menjawab dalam hati.


"Iy- iya Pak." Alex terasa sangat gugup untuk menjawabnya. Berbeda dengan Nabila yang merasa santai karena memang Nabila sudah terbiasa dengan sikap Azam yang kadang terlihat cuek, karena Nabila sering berkunjung ke rumah Aisyah.


"Bapak ada perlu apa ya kok bisa sampai ke rumah Aisyah?" Pertanyaan bodoh itu keluar dari mulut Alex.


Azam pun mengernyit.


"Jadi kamu belum tahu siapa saya?"


"Jelas tahu lah Pak, Bapak itu dosen kami di kampus. Dan saya juga ingat jelas nama bapak itu Ibnu Azam Al-Malik. Ckckck keren banget sih namanya. Saya tak lupa kan, Pak?" celoteh Alex dengan polos.


Azam hanya menatap polos kearah manusia yang ada di hadapannya saat ini. Ini semua karena Aisyah yang menutupi status pernikahan mereka, sehingga tak ada yang tahu jika Azam adalah suami dari Aisyah.


"Eh, bapak belum jawab pertanyaan saya tadi lo. Bapak ngapain kesini? Atau bapak adalah teman bapaknya Aisyah. Tapi sepertinya bapaknya Aisyah enggak ada di rumah deh, soalnya rumahnya terasa sepi Pak," ujar Alex lagi.


"Ih, pas banget nih. Eh keluarin sekalian dong camilannya!" perintah Alex asal-asalan.


Nabila segera menyenggol lengan Alex. "Hus, gak sopan!"


Azam dan Aisyah hanya tersenyum setiap mendengar kata yang keluar dari mulut Alex. Apa jadinya jika Alex mengetahui bahwa dosen yang ada di hadapannya adalah suami dari Aisyah. Mungkin saja Alex akan salto jumpalitan karena terkejut.


Setelah mendinginkan pikirannya dengan orange jus, Azam menatap kearah Alex. "Jadi kamu mau tahu kenapa saya kesini?"


Dengan antusias Alex mengangguk.


Azam mengulurkan tangannya pada Alex. "Perkenalkan saya adalah suami dari Aisyah." Azam tersenyum sinis.


Alex yang menjabat tangan Azam mendadak ingin berhenti bernapas. Tangannya bergetar dengan kuat. Bahkan lidahnya kaku, begitu juga dengan napasnya juga terasa sesak. Apa, Suami?


"Hai... kenapa?" Azam menjentikkan jarinya di depan wajah Alex.

__ADS_1


"Ah, tidak Pak. Hanya memastikan pendengaran saya. Serius bapak suaminya Aisyah? Ini bukan prank kan, Pak?"


Sontak ketiga orang tertawa bersama Menertawakan kekonyolan Alex.


"Tumben pulang cepat, Mas?" Aisyah langsung mengalihkan suasana agar Alex tak mati kaku dengan kenyataan jika Azam adalah suaminya.


Astaga, Azam sampai lupa bahwa dirinya harus ke cafe. Niat pulang hanya untuk ganti baju dan menyicil pesanan mamanya, tetapi sampai rumah harus gagal karena kedatangan teman Aisyah. Namun, ia malah terhibur atas kicauan dari mahasiswanya yang sangat polos.


"Oh, aku hanya ingin ganti pakaian dan harus pergi ke cafe karena ada urusan di sana," ucap Azam yang baru menyadari tujuan utamanya pulang ke rumah.


"Saya jadi curiga dengan Anda Pak Dosen! Kenapa Anda merahasiakan pernikahan dengan Aisyah. Jangan-jangan Anda dan Aisyah menikah karena kecelakaan, ya!" tuduh Alex.


Aisyah dan Nabila sama-sama menepuk jidatnya, karena harus melihat Alex yang bo.doh.


Azam langsung bangkit dari sofa. "Kamu jangan bicara, ya! Mana mungkin saya menikah karena kecelakaan! jika kamu masih berpikir macam-macam tentang saya, saya pastikan minta kamu dalam mata kuliah saya berwarna red!" ancam Azam yang mencoba untuk menahan emosinya.


Mak jleb. Alex tak berkutik.


Mati kutu sudah. Alex melempar tubuhnya ke sofa menyesali setiap kata yang ia ucapkan pada dosennya tadi. Bodoh dan ceroboh.


"Kenapa kalian tak mengatakan sedari tadi? Dan kamu Ais, kenapa tak terus terang jika kamu benar-benar sudah menikah dan suamimu adalah Dosen Azam?!" protes Alex sambil membuang napas kasarnya.


"Untuk apa aku jelaskan, toh kamu gak bertanya. Lagi pula Nabila juga sudah mengatakan jika aku sudah menikah. Kamu aja yang keras kepala nggak percaya," tanggap Aisyah.


"Sebelum kita kesini, bukankah kamu sudah berjanji tak akan terkejut atau pun protes?" Nabila mengingatkan Alex.


Alex yang kalah telak tak mampu menyalahkan kedua wanita yang berada di hadapannya saat. Semua ini murni kesalahannya yang terlalu ceroboh dan sangat kepedean untuk menantang seorang dosen yang tak lain adalah suaminya Aisyah.


"Mati sudah jika pak Azam anak memberikan noda merah." Alex menepuk jidatnya dengan lesu.


.


.


...TO BE CONTINUE...

__ADS_1


...🌸🌸🌸...


__ADS_2