
Rumah orang tua Azam adalah tujuan mereka setelah mengganjal perut. Hari memang sudah hampir larut, tetapi suasana jalan masih begitu ramai. Mungkin karena ini adalah malam minggu. Malam panjang yang telah ditunggu. Malam para muda mudi untuk menghabiskan malam libur bersama pasangan mereka.
"Pasti Mama udah tidur, Mas." kata Aisyah yang berjalan di belakang Azam.
"Biarkan saja. Kalau nggak dibukain pintu, kita dobrak aja!" ucap Azam yang kini tangannya sedang memencet bel rumah.
Jika bukan anak majikan yang datang mungkin Mbak Mar sudah akan mencincang yang berkunjung ditengah malam. Bagaimana tidak tepat pukul 00.15 dini hari, bel begitu nyaring berulang ulang. Dan pelakunya adalah anak majikannya sendiri.
"Malam mbak Mar, maaf kami mengganggu," ucap Aisyah sambil tersenyum karena tak enak hati telah mengganggu waktu istirahat asisten rumah tangga Mama mertuanya. Mencoba untuk tidak peduli, Aisyah pun langsung mengikuti langkah suaminya untuk menuju ke kamar. Sudah bisa Aisyah tebak jika saat ini mertuanya pasti sudah tidur nyenyak.
Mata Aisyah pun sebenarnya tinggal lima wot lagi. Namun, mau tidak mau Aisyah harus menjalankan tugasnya sebagai seorang istri dengan memberikan Hak atas dirinya kepada sang suami.
Malam minggu, malam yang panjang untuk sepasang suami istri yang tak pernah mengenal kata lelah untuk menuntaskan hasrat mereka. Dimana pun tempat yang terpenting mereka melakukan dengan rasa ikhlas. Cinta yang Aisyah miliki untuk suaminya terlalu besar, hingga ia tak bisa marah terlalu lama.
ππ
Suara Adzan telah berkumandang. Setelah melakukan mandi junub, Azam dan Aisyah pun telah siap untuk menunaikan sholat subuh. Kali ini Azam memilih mengimami Aisyah di kamar karena letak mesjid di kompleks rumah orang tuanya jauh.
Selesai sholat, Azam menarik kembali selimutnya. Sudah menjadi kebiasaan untuknya jika hari libur dan sedang tak ada pekerjaan dia akan bermalas-malas di atas tempat tidur.
Kali ini Aisyah pun mengikuti kemalasan suaminya dan menarik kembali selimutnya. Jujur dirinya juga masih mengantuk.
"Tumben." Azam menakutkan kedua alisnya. "
"Ini semua gara-gara kamu, Mas! Aku masih ngantuk!"
"Mau ditambah?" goda Azam yang saat ini sudah menarik pinggang Aisyah untuk merapat ke tubuhnya.
"Mas, kita udah mandi jangan macam-macam ya!" ancam Aisyah.
Azam pun hanya terkekeh lalu menarik selimut hingga sampai di batas lehernya.
Kali ini Aisyah tak merasa segan bangun siang di rumah mertuanya. Percuma saja ia bangun pagi, karena dirinya tak akan pernah di ijinkan untuk menyentuh sekecil apa pun pekerjaan rumahnya.
Maya yang mendengar jika anak dan menantunya tadi malam datang pun, memilih menunggu pasangan muda itu turun dari kamarnya untuk sarapan bersama.
Memang waktu yang tepat keduanya menginap di rumah utama karena saat itu Dayuβpapa Azam juga sedang berada di rumah.
__ADS_1
Maya dan Dayu adalah orang tua Azam. Mereka hanya memiliki satu orang anak, yaitu Azam.
Keduanya telah berbincang di meja makan sambil menunggu anak dan menantunya turun. Menikmati secangkir kopi dan teh adalah pilihan mereka sebelum menyantap sarapan pagi.
"Akhirnya keluar juga pengantin lama rasa baru ini, Pah." sindir Maya.
Aisyah sudah terbiasa mendapat sambutan seperti itu. Memang begitulah mama mertuanya. Setelah salim kepada Maya dan Dayu, Aisyah pun segera ikut bergabung di meja makan. Meski sajian menu telah tertata lengkap, tetapi tak kunjung juga mereka menyantap. Itu semua hanya demi menunggu pengantin lama rasa baru.
"Apa kalian sedang bertengkar? Kenapa tengah malam kalian bisa sampai disini?" cecar Maya.
Saling menatap dan menautkan alis. "Tidak." Keduanya kompak menjawab dan menggelengkan kepala.
"Lalu hal penting apa yang membuat kalian rela malam-malam sampai sini?" Maya masih kukuh dengan kecurigaannya bahwa Agung dan Ais bertengkar lalu memilih meninggalkan rumah mereka.
"Tidak Mah, kami hanya kemalaman sepulang dari cafe dan memutuskan untuk menginap disini," jelas Aisyah.
"Ngapain di cafe sampai tengah malam? Bukannya cafe tutup jam sepuluh malam?"
Memang susah jika harus berhadapan dengan mertuanya. Menyerah adalah cara yang ampuh.
"Pulang dari cafe malam mingguan lah Mah." Kali ini Azam berkicau. Dan di situlah Maya hanya manggut-manggut sambil melanjutkan makannya yang tertunda, akibat sibuk menginterogasi anak dan menantunya.
Saat ini Aisyah benar-benar merasa lega tanpa ada tuntutan jawaban lagi. Namun, rasa itu hanya bertahan sekejap saja. Setelah siap sarapan Aisyah di todong beberapa pertanyaan yang membuatnya tak bisa harus menjawab apa.
"Bagaimana apakah kalian sudah mencetak telinga atau hidung?" Pertanyaan yang sudah sangat dimengerti oleh Azam dan Aisyah meskipun terdengar ambigu.
Keduanya kepala hanya menggeleng dengan pelan.
"Apa?! Kenapa bisa? Bukanya setiap malam kalian bercocok tanam? Lalu kemana pergi benihnya?" Maya kelepasan tak bisa menahan rasa kecewanya.
"Mah!" Dayu memberi isyarat pada istrinya agar tak melewati batas.
Baru kali ini mendengar Maya mengeluarkan nada tinggi, karena benih yang disemai setahun lalu juga belum berkembang.
Aisya menunduk merasa bersalah, tetapi bukan salahnya juga, karena Azam baru mulai menyemai benih baru beberapa bulan yang, ketika Aisyah sudah baru masuk ke bangku kuliah.
Sudah sepatutnya Maya menimang apa yang diharapkan. Namun, sampai detik ini menantunya juga belum bisa memberikannya apa yang diinginkannya.
__ADS_1
"Ini juga lagi usaha, Mah. Mama tenang aja, bibit Azam itu bibit unggul. Lagian Azam dan Ais juga baru mulai bercocok tanam beberapa bulan yang lalu. Kalaupun jadi, lagi kepalanya dulu," ujar Azam tanpa memikirkan rasa malu.
Ais segera mencubit pinggang Agung. Lelaki itu hanya nyengir menahan rasa sakit.
"Apa?!" Jadi satu tahun kalian ngapain aja?" Maya masih tak percaya dengan pengakuan Azam.
"Sudahlah Mah, meraka sudah berusaha. Tinggal kita doakan saja semoga di segerakan." Dayu mencoba menenangkan istrinya.
"Maaf, Mamah kelewatan. Mama hanya ingin segera menimang cucu seperti yang lainnya saja. Tapi semuanya memang kehendak Allah." Tak dapat di pungkiri rasa kecewa itu memang ada. Maya pun lebih memilih meninggalkan meja makan lalu di susul oleh Dayu.
Aisyah masih diam tak berekspresi.
Karena suasana hati Mamanya sedang tidak bagus, Azam memilih membawa Aisyah untuk pulang. Sepanjang perjalanan Aisyah hanya terdiam lesu tanpa kata.
"Sudahlah! Tak perlu di pikiran ucapan Mama," ucap Azam. Aisyah hanya melirik suaminya yang sedang fokus menyetir.
"Bagaimana kalau aku gak subur, Mas? Kalian pasti akan kecewa?"
"Hus, gak baik ngomong kayak gitu! Banyak-banyak berdoa dan berusaha. Kalau mau sampai rumah kita langsung bikin lagi biar cepat jadi, bagaimana?" Azam sengaja menggoda Aisyah.
"Mas...!! Dasar messum!" teriak Aisyah. Azam pun hanya tertawa melihat wajah istrinya uang mulai bersemu meskipun sedang cemberut.
π π
Dua hari telah berlalu, saat ini Aisyah sedang mengerjakan tugas bersama Nabila dan juga Alex. Kali ini Alex merengek agar mereka mengerjakan tugas di rumah Aisyah saja. Karena selama ini Aisyah selalu menolak jika rumahnya digunakan untuk mengerjakan tugas bersama
"Baik, tapi kamu harus berjanji setelah melihat ketampanan suamiku, jangan pernah kamu ceritakan pada siapapun! Jika itu terjadi ini akan melayang." Aisyah mengarahkan kepalan tangan kearah Alex.
"Janji. Suer, deh!" Alex mengangkat dua jari membentuk huruf V.
Ketiganya pun langsung meninggal kampus untuk menuju ke rumah Aisyah menggunakan kendaraan masing-masing.
Disisi lain Azam yang sudah tak ada jam mengajar berniat akan langsung meluncur ke cafe. Namun, sebelumnya ia harus pulang untuk mengganti pakaiannya dan berpamitan pada istrinya serta ingin menyicil pesanan mamanya. Berharap jika sering dicicil pesanan akan cepat jadi.
.
.
__ADS_1
...TO BE CONTINUE...
...πΈπΈπΈ...