Cinta Untuk Aisyah

Cinta Untuk Aisyah
09 ~ Berkunjung Ke Cafe


__ADS_3

Wajah Ais kini hanya terlihat lesu saat Azam mengatakan ingin segera kembali lagi ke cafe. Bahkan Azam tak mengisi perut terlebih dahulu, membuat Aisyah merasa sedikit kecewa suaminya. Andaikan saja tak ada dua manusia di rumahnya, ia pasti akan ikut ke cafe untuk memantau, sebenarnya apa ada di cafe sehingga suaminya lebih memilih menghabiskan waktunya di cafe.


Diam-diam Alex dan Nabila memperhatikan perubahan sikap Aisya yang terus melamun setelah kepergian suaminya. Keduanya saling melempar pandangan sambil mengangkat bahunya.


"Gimana kalau kita susulin laki luh aja?" celetuk Alex.


"Hmm.. Ide yang bagus. Tumben otak luh encer, Al?" Nabila menimpali.


Aisyah hanya menatap kedua temannya dengan penuh pertimbangan sebelum ia memberikan jawabannya.


"Udah, kelamaan mikir. Ayo!" Kini Alex telah menenteng ranselnya. Sementara Nabila pun telah mengemasi lembar tugasnya. Aisyah tak menyangka jika Alex dan Nabila mempunyai pemikiran yang sama. Biasanya mereka akan selalu bertentangan. Apa pun yang mereka lakukan pasti akan berdebat terlebih dahulu, sebelum mencapai sebuah kesepakatan. Namun, kali ini Aisyah tak melihat itu semua. Ada apa dengan mereka?


"Baiklah, aku ambil jaket dulu." Setitik wajah mulai bersinar. Senyum tipis, yang penuh keceriaan juga terlihat sangat jelas. Kini Aisyah setuju dengan ide yang diberikan oleh Alex.


Siang yang terik, perjalanan yang masih lama membuat Alex terus saja mengeluh. Sebab ia lupa belum memberi vitamin pada cacing di perutnya. Tentu saja para cacing di dalam perut terus-menerus mendemonya.


Lampu merah adalah tempat paling sering untuk Alex mengumpat. Belum juga menikmati lancarnya jalanan tiba-tiba harus berhenti lagi karena lampu merah bersinar.


"Kalau aku menjadi pejabat negara, semua lampu akan aku ganti warnanya menjadi hijau semua," gerutu Alex yang merasa geram dengan warna lampu merah.


"Emangnya gas elpiji 3 kg?" Teriak Nabila yang berhenti disamping Alex.


Nabila dan Aisyah yang telah berhenti sejajar dengan motor Alex hanya terkekeh geli melihat Alex terus saja mendumel tak jelas sepanjang perjalanannya.


"Rusak negara di pimpin sama kamu Al," timpal Aisyah.


🌺 🌺 🌺


Sore adalah waktu paling ramai di cafe, karena letaknya yang strategis dekat dengan kampus dan pusat pembelanjaan terbesar di kota, membuat cafe menjadi padat oleh para pengunjung. Pengunjung rata-rata adalah mahasiswa karena cafe itu memang cocok untuk tongkrongan anak muda.


"Wih, keren," Alex terkagum saat masuki cafe.


"Biasa aja napa Al, jangan katrok!" cibir Nabila.


"Kita duduk disana yuk!" ajak Aisyah dengan menunjuk sebuah meja kosong di sudut sebelah kasir.


Tak lama setelah menempatkan diri, seorang pelayan datang menghampiri, kali ini bukan Ria tapi pelayan lain yang menyambut kedatangan mereka bertiga.

__ADS_1


"Kalian pesan aja sepuasnya aku yang traktir," ucap Aisyah dengan wajah yang bersinar.


"Wih, ini kesempatan langka. Mentang-mentang cafe milik suaminya. Tapi enggak apa-apa, rejeki gak boleh di tolak, pamali." Alex berceloteh ria, sambil menunjuk menu yang ingin ia nikmati.


Jarang-jarang Aisyah mau meneraktir dirinya. Mungkin karena ini adalah cafe milik suaminya, sehingga Aisyah mau bermurah hati untuk mentraktirnya. Anggap saja ini adalah rejekinya.


Bukan hanya Alex yang menunjukkan pesanannya, tetapi Nabila pun juga menyebutkan pesanannya. Namun Nabila hanya pesan secukupnya tak seperti Alex yang memesan tak menggunakan takaran.


"Oh ya Mbak, Pak Azam dimana ya?" Kali ini Aisyah memberanikan diri untuk bertanya, karena ia mengamati bahwa gadis yang berdiri di sampingnya tak mengenali dirinya.


"Oh, Pak bos. Beliau sedang ada di ruangan Pak Handoyo. Apa ada perlu dengan beliau?" tanya pelayan tersebut.


Aisyah menggeleng pelan. "Tidak."


Pelayan pun segera meninggalkan tamunya untuk mengambil pesanan mereka.


Aisyah pun segera mengambil ponsel lalu mengetik sebuah pesan kepada suaminya.


[ Mas, masih sibuk gak? Kami ada di cafe ]


"Cie yang lagi kontak-kontakkan," goda Nabila.


Sementara didalam sebuah ruangan Azam masih sibuk memeriksa dokumen yang diberikan oleh Pak Handoyo kepada dirinya. Memang sulit mendeteksi masalah yang sedang dihadapi. Ia yakin bahwa semua ini ada campur tangan orang dalam yang sudah proposional untuk melakukan kecurangan. Azam hanya bisa mendessah kasar saat belum bisa memecahkan masalahnya.


Mendengar ponsel berbunyi, Azam segera mengambil dari sakunya. Tertera dengan jelas notifikasi dari My Wife.


Azam langsung mengerutkan dahinya.


"Cari tahu sampai ke akarnya! Saya tinggal dulu!" Azam langsung keluar dari rungan Pak Handoyo. Pria tengah baya itu hanya mengangguk tanda menyanggupi ucapan bosnya.


Azam langsung mengedarkan pandangan ke setiap meja, dan berhenti di sudut sebelah kasir. Pandangannya tak lepas dari tiga remaja yang sedang menikmati pesanannya sambil bersendau gurau. Perlahan Azam menghampiri meja tersebut.


"Sudah lama?" Pertanyaan tanpa terduga membuat ketiga orang langsung mendongak.


Awalnya Aisyah mengira suaminya akan marah, namun jika dilihat dari senyumnya , sepertinya sang suami baik-baik saja, tanpa rasa keberatan dengan kedatangan mereka bertiga.


"Eh, Bapak. Belum Pak lama kok Pak." Alex dengan cepat menjawab pertanyaan Azam.

__ADS_1


Azam pun menarik kursi dan duduk di sebelah Aisyah.


"Mas kenapa kok mukanya lesu gitu?" tanya Aisyah heran.


"Bapak kalau capek pulang. Kan di rumah ada istri yang mijitin," seloroh Alex.


Azam menatap tajam kearah Alex. "Sok tahu," decaknya.


"Atau Bapak sedang ada masalah. Kalau masalah bilang aja, kali aja kami bisa bantu." Dengan pede Alex menawarkan bantuan pada Azam.


Azam hanya menarik napas kasarnya. "Ini masalah orang dewasa, dan kalian bocah kemarin sore tahu apa?" tanya Azam seakan meremehkan ucapan Alex.


Aisyah merasa suaminya memang sedang menyembunyikan suatu masalah darinya. Mulai dari sosok wanita misterius dan Azam yang sering ke cafe. Itu berarti Azam sedang menyembunyikan sesuatu darinya.


"Mas, ada masalah?" tanya Aisyah lagi.


"Tugas kalian itu kuliah yang bener, bukan ngurusin masalah orang lain?" komentar Azam.


Tak terima dengan penuturan komentar Azam, Alex pun menyedot minuman di depannya.


"Jangan salah Pak, meskipun bocah ingusan, gini-gini anak yang pintar dan berbakat, lho! Semua masalah pasti kelar. Bapak punya masalah apa? Jangan-jangan Bapak mau poligami ya?" Cerocos Alex dengan mulut tipisnya.


Bak di sambar petir di sore hari, hati Aisyah seperti sedang tertusuk-tusukan


jarum saat mendengar penuturan Alex.


Bagaimana jika apa yang di katakan oleh Alex ada benarnya. Mengingat sikap Azam yang tidak mau berterus terang kepada dirinya.


Tidak! Itu tidak mungkin! Ais menggeleng pelan.


Nabilak segera melotot kearah Alex.


Sementara Alex malah cengar cengir tak merasa bersalah.


"Tolong kalau bicara itu di filter ya! Siapa yang mau poligami? Satu aja tidak habis," ucap sedikit geram.


...TO BE CONTINUE...

__ADS_1


...Like... Like... Like! Komen yang banyak biar rame!...


__ADS_2