
Kini bukan hanya hatinya saja yang sakit, tetapi perut Aisyah juga terasa sakit. Rasanya panas dan mules akibat kebanyakan menuangkan cabe di bakso yang dimakannya tadi. Namun, sebisa mungkin Aisyah mencoba menahan rasa panas di perut hingga jam kelas berakhir. Ia tidak ingin menunjukkan wajah lemahnya dihadapan dosen yang baru sedang memberikan materi.
"Ais, kamu sakit?" bisik Nabila yang melihat wajah Aisyah terlihat pucat.
Kepala Ais menggeleng dengan pelan sambil menarik dua garis bibirnya. "Aku gak papa. Cuma panas aja perutku. Nanti juga biakan kok."
"Tapi Ais, wajah kamu terlihat pucat. Izin aja ya. Pasti pak Azam tahu, kok."
Lagi-lagi Aisyah menggelengkan kepalanya. "Aku baik-baik aja, Bil. Tolong jangan katakan apa-apa kepada mas Azam. Aku tidak ingin dia mengasihaniku."
"Tapi Ais—"
"Bil, tolong mengertilah! Aku sedang merasa kecewa kepadanya."
Dan pada akhirnya Nabila pun tidak bisa berbuat apa-apa. Dia mengikuti permintaan Aisyah yang tidak boleh mengatakan kepada dosen Azam jika saat ini Aisyah sedang sakit.
__ADS_1
Sebenarnya Nabila merasa tidak yakin jika dosen Azam yang sangat mencintai Aisyah, dengan mudahnya akan membuka hati untuk wanita lain.
'Sebenarnya siapa sih wanita itu? Aku yakin jika pak Azam tidak selingkuh. Mungkinkah ini hanya kesalahpahaman saja?'
Bagi Aisyah menahan rasa sakit perut tidaklah seberapa dibandingkan dengan rasa sakit di dalam hatinya saat ini. Pria yang selalu menghujani dengan cinta ternyata diam-diam mempunyai wanita lain dalam biduk rumah tangganya. Apakah semua itu karena sampai saat ini Aisyah belum bisa menghadirkan buah cinta dalam rumah tangganya?
Semakin lama pikiran Asiyah semakin tak menentu. Namun, tiba-tiba seseorang membuyarkan lamunannya.
"Hayo ... ngelamun aja! Nanti kesambet, lho!"
Rayhan yang sadar karena Aisyah tetap menjaga jarak dengannya dan membentengi diri, semakin tertantang untuk menangkap Asiyah. Dengan senyum tipis di bibirnya Reyhan berkata, "Ya ampun Ais ... segitunya banget sih? Aku gak mau makan kamu kok."
"Maaf Rey, tapi tidak baik antara perempuan dan laki-laki duduk berdempetan, terlebih bukan mahramnya," ujar Aisyah.
Reyhan tertawa pelan. "Memangnya harus menjadi mahramnya terlebih dahulu agar bisa duduk berdempetan?"
__ADS_1
Aisyah tak menjawab pertanyaan Reyhan yang akhir-akhir ini seringkali mengikuti dirinya. Entah darimana munculnya, tiba-tiba saja sudah ada di depan mata.
"Kalau begitu, gimana kalau kita nikah aja biar jadi mahram," celetuk Reyhan dalam kesunyian di antara mereka.
Seketika mata Aisyah langsung terbelalak lebar. Ia pun langsung menatap tajam kearah Reyhan. "Ngaco kamu, Rey!" Aisyah pun memutuskan untuk meninggalkan Renyah.
"Jadi aku harus bagaimana Ais, agar diantara kita tidak ada celahnya? Aku suka sama kamu, Ais. Tapi aku yakin jika kamu tidak ingin berpacaran. Jadi daripada menambah dosa, bagaimana kalau aku meminangmu," ujar Reyhan dengan penuh percaya diri.
Aisyah yang sudah berdiri akhirnya membagikan badannya untuk menatap ke arah Reyhan yang masih terduduk di sebuah bangku di panjang. "Rey, maaf. Aku tidak bisa menerima perasaanmu, karena aku telah dimiliki oleh pria lain. Aku harap kamu paham atas apa yang aku ucapkan. Aku duluan, ya Assalamualaikum," ujar Asiyah.
Reyhan hanya bisa menatap nanar punggung Aisyah yang semakin menjauh. Bahkan tubuhnya masih membeku untuk mencerna ucapan Aisyah mengatakan jika dirinya telah dimiliki oleh pria lain. Apakah itu artinya Aisyah bersuami?
"Tidak mungkin! Aku yakin jika ini hanyalah alasan Aisyah saja untuk menolak perasaanku."
Karena Aisyah tidak ingin ada yang melihat dirinya sedang menunggu mobil salah satu dosen yang berstatus sebagai suaminya, ia pun memilih untuk memesan taxi online. Namun, meskipun Aisyah merasa marah dan kecewa, ia tetap akan datang ke tempat yang dikatakan oleh suaminya tadi.
__ADS_1
"Aku tidak boleh terlalu kekanak-kanakan. Aku harus tahu siapa wanita itu dan ada hubungan apa dengan mas Azam. Jika benar mas Azam ingin mencari madu, maka aku memilih mundur daripada aku tersiksa," batin Aisyah sambil mengetik sebuah pesan kepada Azam mengatakan jika dirinya sudah menuju ke tempat biasa mereka menghabiskan waktu berdua.