
Setelah mengantar istrinya pulang, Azam segera menuju ke kampus. Hari ini mungkin jadwal dirinya padat, karena setelah mengajar ia mempunyai jadwal bimbingan terhadap dua orang mahasiswa. Oleh karena itu saat bertemu dengan Nabila ia meminta agar Nabila bersedia menemani Aisya agar tidak merasa kesepian di rumah. Dengan senang hati Nabila langsung menyetujuinya. Sebenarnya tanpa disuruh pun Nabila memang memiliki rencana untuk menjenguk Aisyah bersama dengan Alex.
Karena merasa penasaran, Nabila pun bertanya kepada Azam mengenai sakit Aisyah, karena kemarin keadaannya baik-baik saja. "Sebenarnya Ais sakit apa sih, Pak?" tanya Nabila.
"Mungkin dia kelelahan dan kurang vitamin," jawab Azam yang kemudian terlalu meninggalkan Nabila.
"Iya, kelelahan digempur tiap malam sama Bapak," ucap Alex dengan pelan. "Ais sakit apa sih, Bil?"
"Mana aku tahu." Nabila menyendikkan bahunya dan memilih untuk berlalu ke dalam kelas, karena sebentar lagi kelas mereka akan dimulai
Di dalam kelas, Reyhan memandangi satu meja yang kosong, yaitu meja Aisyah. Dalam benaknya ia sangat penasaran mengapa sampai dua hari Aisyah tidak hadir. Apakah gadis itu sedang sakit?
Ingin sekali bertanya kepada Nabila, tetapi sayangnya mata kuliah telah dimulai. Ia pun bertekad untuk menanyakan keadaan Aisyah setelah kelasnya selesai.
Hampir satu jam, Reyhan menahan rasa penasarannya. Tepat saat sangat dosen meninggalkan kelas ia pun segera menghampiri Nabila yang sedang merapikan bukunya.
"Bil, Ais kemana? Kok udah dua hari gak hadir? Apakah dia sakit?" cecar Reyhan dengan rasa penasarannya.
Nabila hanya menakutkan alisnya. "Kamu tanyanya borongan. Aku jadi bingung mau jawab dari sebelah mana."
"Tinggal jawab aja pakai bingung segala, sih? Memangnya ada apa dengan Aisyah?" tanya Reyhan lagi.
"Ih, dasar kepo amat! " cibir Alex yang kini telah mendekat ke meja Nabila.
Reyhan mendecak kesal saat melihat kedatangan Alex. Entah mengapa Reyhan tidak menyukai satu teman Aisyah yang satu ini. Dia memang laki-laki, tapi mulutnya perempuan. "Bukan kepo, tapi hanya ingin tahu saja mengapa sampai dua hari dia enggak hadir. Sebagai partner kelompoknya, aku juga pengen tahu, dong. Kalau sakit biar dijenguk."
"Intinya sama aja, kepo!" sinis Alex.
__ADS_1
"Susah ngomong sama modelan kayak gini. Sudahlah, aku cari tahu sendiri aja." Reyhan pun akhirnya meninggalkan meja Nabila.
Namun, diluar kelas Reyhan merutuki kebodohan. Mengapa ia sampai melupakan tidak meminta nomor ponsel Aisyah. Jika sudah begini Reyhan bisa apa. Satupun teman satu kelasnya yang menyimpan nomor Aisyah, kecuali hanya Nabila dan juga Alex. Bahkan Cicil yang terlihat dekat dengan Aisyah pun sama sekali tidak menyimpan nomornya.
...🌸🌸🌸...
"Al, jangan lupa pulang sekolah kita ke rumah Ais. Jangan kelayapan di warnet!" Nabila mengingatkan Alex.
"Iya-iya, gue ingat kok. Eh, sejak kapan gue doyan ke warnet. WiFi di rumah gue aja kagak ada habisnya," celoteh Alex.
Nabila mengangguk pelan. Memang seorang Alex anak seorang pengusaha kaya mana mungkin kelayapan di warnet. Toh sekarang warnet juga sudah tidak laku lagi karena perkembangan teknologi yang semakin maju. Dengan modal handphone dan kuota saja sudah bisa berselancar ke internet sambil rebahan.
"Iya juga sih. Ngapain juga kamu ke warnet. Secara Abah-mu kan orang kaya. Mana mengerti kamu warnet itu apa," ucap Nabila.
"Ah, jangan-jangan lu yang sering ke warnet ya. Terus lu buka linknya kakek—" Alex langsung menutup mulutnya.
"Keterlaluan kamu ya!" Nabila yang kesal langsung menginjak kaki Alex sekuat mungkin dan langsung meninggalkannya.
.
.
Jauh dari seberang sana, seorang Reyhan melihat langkah Nabila dan Alex yang meninggalkan kampus. Diam-diam Reyhan mengikuti keduanya. Reyhan yakin jika saat ini kedua teman Aisyah itu sedang ingin ke rumah Aisyah.
Reyhan pun mengikuti motor Alex dengan pelan. Saat motor Alex memasuki sebuah swalayan, Reyhan memilih menunggu di jalan seberang.
"Kita beli apa?" tanya Nabila.
__ADS_1
Alex berpikir untuk sejenak. Sebenarnya ia juga bingung ingin membeli apa. Tidak etis kalau menjenguk orang sakit tidak membawa buah tangan, terlebih Aisyah yang doyan makan. Namun, sekilas Nabila mengingat prasangkanya terhadap Aisyah. Jika memang itu benar, berarti Nabila harus mencari yang segar-segar. Nabila yakin jika saat ini Asiyah sedang hamil muda.
"Kita beli buah-buahan aja! Cuaca kan emang lagi panas." saran Nabila dengan cepat.
"Benar juga, tuh." Alex setuju.
Karena Alex telah setuju dengan sarannya, Nabila segera menuju ke tempat buah berada. Namun, dalam hati Nabila bertanya-tanya, buah apa yang disenangi oleh ibu hamil muda. Karena yang Nabila tahu mangga muda adalah salah satu buah yang diincar oleh ibu hamil muda. Tetapi, di swalayan mana ada mangga muda.
Alex yang mengikuti langkah Nabila, hanya menautkan kedua alisnya saat Nabila memasukkan berbagai macam buah segar ke dalam trolinya.
"Eh, seriusan, Bil? Kita sedang tidak ingin mengadakan bazar di tempat pengungsian kan?" tanya Alex dengan heran.
"Udah diam aja. Tugas kamu itu hanya bayar di kasir!"
seketika Alex terdiam tanpa kata dan terus mengikuti langkah Nabila yang saat ini memang sedang mengarah ke kasir. Alex dia tidak pernah keberatan untuk untuk membayari belanjaan Nabila, karena bagi Alex belanjaan Nabila saat ini tidak ada apa-apanya.
Setelah Alex mengeluarkan beberapa uang bergambar Pak proklamator, Nabila langsung mengucapkan terima kasih kepada Alex.
"Makasih Alex yang baik hati," ucapnya.
"Kalau ada maunya kayak gini. Coba kalau nggak ada, habis kaki gue lu injak-injak."
Nabila hanya tertawa pelan mengingat semua kelakuannya pada Alex. "Iya maaf. Tadi aku khilaf."
Karena sudah membeli oleh-oleh untuk Aisyah, mereka langsung melanjutkan kembali perjalana untuk ke rumah Aisy. Reyhan yang sejak tadi menunggu Alex keluar akhirnya melajukan mobilnya dengan pelan di belakang motor Alex.
Dan tidak butuh waktu lama motor yang dikendarai oleh Alex telah sampai di rumah Aisyah. Dengan cepat Nabila turun untuk membuka pintu gerbang agar motor Alex bisa masuk.
__ADS_1
Lagi-lagi dari seberang sana, Reyhan tersenyum kecil. Saat ini ia telah mendapatkan alamat rumah Aisyah. "Ternyata di sini rumahnya Aisyah."
...#BERSAMBUNG#...