
Satu Minggu telah berlalu. Kini keadaan Aisyah sudah lebih membaik dan tidak pernah merasa mual di pagi hari. bahkan napsu makannya pun meningkat dua kali lipat dari biasanya. Azam yang melihat perubahan sang istri tidak bisa berkata apa-apa, karena jika disinggung soal porsi makan, Aisyah langsung sensitif. Itu sebabnya Azam memilih untuk tidak mengomentari porsi makan istrinya yang luar biasa.
Karena sedang tidak ada jadwal kuliah, Aisyah memutuskan mengajak Nabila untuk cuci mata ke Mall. Selama satu minggu berkutat dengan tugas kampus dan juga tugas rumah membuat Aisyah juga merasakan bosan.
"Nanti pulangnya jangan sore-sore!" pesan Azam sebelum menurunkan Aisyah di depan pusat perbelanjaan terbesar di kotanya.
"Iya-iya, aku tahu."
Seperti biasa, Aisyah pun langsung mencium tangan Azam sebelum turun dari mobil. Begitu juga dengan Azam yang keccupan singkat di kening sang istri.
Nabila yang duduk di jok belakang memilih untuk langsung turun agar matanya tidak ternodai dengan adegan nyata di depan matanya.
"Ya Allah, aku tahu jika mereka sudah halal. Tetapi tidak perlu juga untuk menunjukkan didepan mataku. Kan jadi ternoda mataku," gerutu Nabila sambil membuang napas kasarnya.
"Daaa ... " Aisyah melambaikan tangan kearah mobil Azam yang juga dibalas lambaian tangan istrinya.
"Udahlah, Ais. Jangan buat mood aku berubah ya!" tegur Nabila yang tidak kuat melihat keromantisan sahabatnya bersama dengan suaminya.
"Kenapa? Ada yang salah?" Alis Aisyah langsung menaut.
"Jelas salah dong! Jangan membuatku iri dengan kemesraan kalian!"
Aisyah baru menyadari jika sahabatnya masih belum ada yang punya. Bukan tidak laku, tetapi Nabila memang tidak ingin menjalin dengan sembarang pria. Dia ingin masih menyeleksi calon imam yang bisa menuntunnya untuk menjadi lebih baik. Namun, sampai saat ini Nabila belum menemukan sosok yang sesuai dengan kriterianya.
"Oh, maafkan aku, Bila. Baiklah, ayo masuk!"
__ADS_1
πΈπΈπΈ
Di sisi lain, saat Azam ingin menuju ke cafe miliknya, tiba-tiba dia mendapatkan pesan dari mamanya yang mengatakan ingin bertemu dengannya. Karena letak cafe dan juga rumah sang mama jaraknya tidaklah jaug, Azam memutus untuk singgah terlebih dahulu. Mungkin saja memang ada sesuatu yang penting.
Tak berapa lama, mobil Azam telah memasuki halaman rumah yang sangat luas. Namun, saat hendak turun Azam menautkan kedua alisnya saat melihat mobil milik Via terparkir di depan rumah.
"Ngapain Via datang kesini?"
Setelah mengucapkan salam, Azam langsung masuk untuk menemui mamanya. Lagi-lagi Azam merasa sangat terkejut saat sang Mama dengan Via telah bercengkrama di ruang tamu.
"Nah, ini dia yang ditunggu-tungu akhirnya datang. Duduk sini, Zam!"
Azam pun mendudukkan tubuhnya di samping sama. Ia tidak tahu hal apa yang akan disampaikan oleh mamanya sehingga mengundang dirinya untuk datang.
"Ada apa, Ma? Kok tumben ada Via disini?"
"Oh, tadi Mama nggak sengaja ketemu Via di. Jadi sekalian aja Mama ajak dia untuk main ke rumah. Toh, udah lama banget yang nggak main ke rumah kan?" jelas Mama Maya.
Azam langsung menautkan kedua alisnya dengan rasa heran. "Kamu ngapain di sini, Vi? Gak kerja?" tanya Azam.
Via yang mendapatkan tatapan datar dari Azam mencoba untuk tidak peduli. "Oh, iya. Aku lupa mengatakannya kepadamu tadi malam, kalau aku lagi ambil cuti selama dua untuk menenangkan diri. Kamu kan tahu kalau saat ini alu tuh lagi diteror sama pria baji. ngan itu," jelas Via dengan raut wajah sedihnya.
Mama Maya yang merasa tidak tega langsung mendekat dan mengelus rambut Via. "Kasihan banget sih kamu, Vi."
Via hanya mengangguk pelan, berharap bisa mendapatkan hati Mama Maya.
__ADS_1
"Kamu gak usah pikiran pria itu karena ada Azam yang akan mengusir mantan baji. ngan itu. Iya kan, Zam?"
"Kok Azam sih, Ma? Azam ini super sibuk. Selain sibuk di kampus, Azam juga sibuk di cafe. Belum lagi sibuk di rumah," ujar Azam yang merasa tidak terima.
"Emang sampai rumah kamu masih mengerjakan pekerjaan rumah?" tanya Mamanya dengan heran.
"Bukan ngerjain pekerjaan rumah, tapi Azam harus bajak sawah biar cepat dapat pesanan Mama."
Seketika itu juga mama Maya tertawa pelan mengingat sebuah pesanan yang sedang diinginkannya. "Oh, pantes aja kalian gak pernah jenguk mama. Ternyata lagi sibuk garap sawah ya. Ya udah gas aja, semoga cepat berhasil ya. Mama udah enggak sabar lagi mau gendong cucu."
Via hanya ikut tersenyum tipis. Bohong jika dia turut bahagia atas kebahagiaan pernikahan Azam. Harusnya saat ini Azam yang membajak sawah.
"Oh iya, Mama sampai lupa sama tujuan nyuruh kamu pulang. Mama punya sesuatu untuk menantu kesayangan Mama. Kamu bawa ya!"
"Sesuatu apa, Ma?"
Dengan raut bahagia, wanita tengah baya itu meninggalkan Azam untuk mengambil sesuatu yang akan diberikan kepada Aisyah.
Kini hanya tinggal Azam dan Via. Sungguh suasana yang canggung karena dalam hati Azam sudah berjanji tidak akan dekat-dekat dengan Via lagi. Namun, semua diluar dugaannya karena harus bertemu dengan Via di rumah mamanya.
"Zam ... " panggil Via. "Kamu bisa gak bantuin aku cari kerjaan lain? Aku mau resign, dan memutuskan untuk tinggal di daerah sini. Bisa enggak?"
"Coba nanti aku usahain. Kamu kenapa mau resign? Bukannya kerja di perusahaan itu adalah impianmu? Dan setelah kamu mendapatkannya kamu ingin melepaskannya? Vi, aku tahu kamu sedang ada masalah dengan pacar kamu. Tapi aku yakin pacar kamu punya alasan tersendiri. Masalah itu harus dihadapi jangan dihindari. Semakin kamu berlari, pacar kamu tetap akan mengejarmu sebelum kamu menyelesaikan masalahnya."
"Dia mantan, Zam. Bukan pacar!" terang Via.
__ADS_1
"Ya apapun sebutannya itu. Pokoknya pesan aku selesaikan dengan baik masalah kalian berdua. Kalian sudah dewasa, aku yakin kalian bisa mengambil jalan tengahnya."
Kali ini Via hanya bisa menahan rasa sesak di dalam dadanya. Ingin sekali berteriak di telinga azan jika masalah itu ada pada dirinya. Jika saja Azam tidak menikahi Aisyah, tidak mungkin jiga Via akan jatuh kedalam pria baji.ngan seperti Ferdy.