Cinta Untuk Aisyah

Cinta Untuk Aisyah
21 ~ Kecewa


__ADS_3

Dengan berat Aisyah terpaksa mengikuti keinginan suaminya untuk periksa ke dokter. Memang lebih baik segera diperiksakan agar mengetahui penyakit apa yang sedang bersarang tubuhnya. Tetapi Aisyah hanya menebak jika asam lambungnya naik.


Dengan raut wajah berbunga, Azam berharap dugaannya memang benar. Setelah ia menunda selama satu tahun akhirnya akan jadi juga barang yang dicicilnya.


"Mas Azam kok senyum-senyum sendiri,? Asa yang aneh?" tanya Aisyah dengan heran.


Azam yang diberi pertanyaan hanya mengulum senyum di bibirnya. "Aku hanya terlalu bahagia saja," jawabnya dengan cepat.


Aisyah pun mengernyit. Saat dirinya sedang tidak enak badan, suaminya masih bisa bahagia?


"Disaat aku sedang sakit, Mas Azam bisa tersenyum lebar?" sindir Aisyah.


Azam langsung menatap wajah Aisyah yang terlihat sedikit pucat. Wajar saja jika Aisyah jika tidak bisa mengenali tanda-tanda yang sedang dirasakannya, karena ini adalah yang pertama untuk Aisyah.


"Udah gak usah cemberut gitu, nanti juga tahu." 


Aisyah masih enggan untuk menatap suaminya karena berpikir jika suaminya bahagia di saat dirinya sedang sakit.


Tak berselang lama mobil yang dikemudikan oleh Azam telah memasuki area parkiran sebuah rumah. Tanpa menunggu lama Azam langsung membukakan pintu untuk sang istri.


"Silahkan turun my little wife," ucapnya dengan senyum yang lebar.


Melihat sikap aneh sang suami, Aisyah hanya bergidik geli. "Apaan sih, Mas?"


"Sudahlah, ayo turun!" Azam pun langsung menuntun tangan Aisyah untuk turun.


Tak ada penolakan Aisyah pun mengikuti langkah sang suami untuk menuju tempat pendaftaran. Namun, setelah sampai ditempat tujuan Asiyah merasa sangat terkejut karena Azam telah membawanya ke ruang dokter spesialis kandungan.


"Apesialis kandungan? Siapa yang hamil, Mas?" tanya Aisyah dengan heran.


Azam membuang napas kasarnya. "Belum pasti sih, tapi tidak ada salahnya untuk dicek terlebih dahulu. Kata mama kalau wanita sering merasa mual dan muntah itu tandanya sedang hamil. Semoga saja kamu hamil ya. Biar gak mubadzir suntikan vitamin yang setiap malam aku berikan," ujarnya.


Mendadak tubuh Aisyah membeku untuk sesaat. Ia pun langsung memegangi perutnya. "Hamil?"


Apakah benar begitu? Jika itu memang benar, Aisyah akan merasa sangat bahagia. Sebentar lagi ia akan segera menjadi seorang.

__ADS_1


"Benarkah?" Aisyah masih mengelus perut dengan senyum yang tak pudar.


"Makanya periksa dulu. Nanti kalau beneran jadi kita bisa langsung pamer sama mama karena pesanan sudah jadi," ujar Azam penuh percaya diri.


Aisyah mengangguk dengan pelan dan mengikuti langkah Azam untuk masuk ke dalam ruang dokter. Didalam seorang dokter sudah menunggu kedatangan Azam dan juga Aisyah, karena sebelumnya Azam sudah menghubungi Heny Mada jika dirinya akan datang.


Dengan ramah dokter Heny menyapa keduanya dengan ramah. Begitu juga dengan Azam dan Aisyah yang membalas sapaan dokter Heny.


"Jadi sudah berapa bulan?" tanya Dokter Heny sebelum memeriksa Aisyah.


Mata Aisyah dan Azam saling berpandangan. 


"Maaf, Dok. Kami kesini mau mengecek lebih. Jadi belum tahu sudah berapa bulan," ucap Azam.


Dokter Heny hanya menahan senyumnya. Ia memahami pasangan muda yang masih terlihat malu-malu kucing ini.


"Baiklah, kalau begitu mari kita periksa. Tapi ngomong-ngomong telat berapa minggu?"


Aisyah yang ditanya hanya nyengir, karena dia sendiri saja lupa kapan terakhir kalinya dia datang bulan.


"Saya lupa Dok. Soalnya gak teratur datangnya," jawab Aisyah dengan malu-malu.


Dokter Heny pun segera mengoleskan gel ke perut Aisyah lalu menggerakkan alat khusus diatas perut sehingga tersambung kearah sebuah monitor.


Dokter Heny masih mencari cari biji kacang yang bersemayam di dalam perut Aisyah. Namun, ternyata dokter Heny tak menemukan tanda-tanda biji kacang bersemayam disana.


Setelah selesai memeriksa perut Aisyah pun segera di tutup kembali. Dokter Heny segera menuju tempat duduknya. Begitu juga dengan Aisyah dan juga Azam yang mengikuti pergerakan dokter Heny.


"Jadi bagaimana, Dok?" tanya Azam penuh rasa penasaran.


Dokter Heny tersenyum kecil menatap kedua pasangan muda yang sudah tidak sabar untuk mendengarkan hasil pemeriksaannya.


"Apa sebelumnya ibu mempunyai riwayat penyakit mag atau asam lambung?" tanya dokter Heny.


"Iya dok. Saya memang ada penyakit asam lambung," jawab Aisyah langsung.

__ADS_1


Dokter Hany mengangguk pelan. "Jadi begini, Mbak. Mungkin rasa mual Anda rasakan itu adalah asam lambung yang naik mungkin karena Mbak Ais mengabaikan jadwal makan dan stres. Untuk saat ini belum ada tanda-tanda janin di dalam perut Mbak Aisyah," jelas dokter Heny meskipun dengan rasa tidak enak.


Aisyah langsung terpaku. Tubuhnya membeku untuk beberapa saat. Begitu juga dengan Azam yang masih terdiam tanpa kata. Ia menghela napas panjang dengan sedikit rasa kecewa. Penantian yang selama ini diharapan belum juga terwujud.


"Oo… begitu ya, Dok?" 


"Iya, nanti saya beri resepnya vitaminnya agar asam lambung tidak naik. Dan tolong diusahakan untuk tidak makan telat ya."


.  . .


Selama perjalanan pulang, Aisyah hanya diam tanpa kata. Ia sama sekali enggan untuk melihat kearah suaminya yang sedang menyetir. Sekali lagi, ia telah mengecewakan pria yang sudah berharap untuk segera memiliki momongan. Namun, ternyata Allah belum mempercayai mereka untuk mengemban amanahnya.


Diam-diam Aisyah menyeka jejak air matanya yang lolos begitu saja.


"Sudah tidak usah menangis, mungkin belum waktunya. Yang penting kita harus tetap berdoa dan tetap berusaha. Kalau bisa setiap malam kita cetak terus. Bagaimana?" Azam berusaha untuk menghibur Aisyah yang menitihkan air matanya.


Dengan berat, Aisyah hanya bisa memaksakan senyum di bibirnya. Sebenarnya ia tahu jika saat ini suaminya juga sedang merasakan kecewa. Namun, suaminya sangat pandai untuk menyembunyikan rasa kecewanya.


"Emangnya agar-agar, pakai dicetak segala?" celetuk Aisyah.


Mendengar sang istri berbicara, Azam pun langsung tersenyum. Wajah Aisyah pun sudah terlihat tenang.


"Kalau gak dicetak gimana bisa  jadi, coba?" sahut Azam.


Aisyah bergidik geli. Ternyata pikiran suaminya tak pernah berubah, masih saja messum. Ya meskipun saat ini usia suaminya sudah bisa dikatakan telah matang, tetap saja pikiran messum masih melekat di kepalanya.


"Oh iya, kamu istirahat aja di rumah. Nanti biar aku yang urus semuanya," kata Azam yang telah membelokkan mobilnya ke gang perumahan.


"Tapi, Mas! Aku bosan di rumah terus. Aku pengen ke kampus." tolak Asiyah.


Namun, Azam tetap tak memberikan izin kepada Aisyah untuk pergi ke kampus. "Sudahlah, menurut saja. Nanti aku suruh Nabila ke rumah," ujarnya.


"Serius?" Mata Aisyah langsung melebar.


Anggukan kepala menjadi sebuah jawaban jika saat ini suaminya sedang tidak berbohong.

__ADS_1


"Makasih, Mas."


...#BERSAMBUNG#...


__ADS_2