
Lelah akan rutinitas yang menguras tenaganya, kini Azam bisa menghela napas ketika langkahnya hendak membuka pintu rumah. Memiliki jadwal yang padat dan serta tanggung jawab untuk cafenya, mengharuskan Azam melawan rasa lelahnya. Namun, Azam merasa sangat bersyukur karena lelah yang dirasakan satu hari akan hilang setelah dirinya melihat wajah sang istri .
"Assalamualaikum."
Ucapan salam terdengar, membuat Aisyah yang berada di ruang tengah langsung berjalan untuk menghampiri asal suara tersebut.
"Waalaikumsallam."
Wajah berseri yang akan membuat hati terasa adem. Terlihat Aisyah akan selalu menyambutnya dengan senyuman serta mencium tangannya. Sungguh wanita impian.
"Mas Azam bawa apa?" tanya Aisyah saat melihat Azam menenteng sebuah kantong plastik berwarna hitam.
"Oh, ini? Ini titipan Mama untuk kamu." Azam pun memberikan kantong plastik yang berisi titipan dari mamanya.
"Apa ini, Mas?"
Bibir Azam terangkat tipis saat ditatap oleh istrinya.
"Kata mama ini jamu penyubur. Kamu harus rutin untuk minum jamu ini agar benih-benih kecebong ini segera berkembang," ujar Azam.
Wajah yang semulanya berseri, mendadak langsung ditekuk murung. Dengan langkah pelan Aisyah membawa titipan Mama mertuanya ke dapur.
__ADS_1
Ada denyutan nyeri di dalam dadanya. Rasa bersalah yang tiba-tiba menyerang dirinya karena hingga sampai saat ini Aisyah belum bisa memberikan apa yang diinginkan oleh keluarga suaminya. Wajar saja jika keluarga sang suami sudah sangat menginginkan hadirnya seorang bayi, mengingat Azam adalah anak tunggal dan usianya juga sudah matang untuk memiliki seorang anak.
Melihat aura yang berbeda, Azam segera menghampiri Aisyah. "Ais, maafkan mama yang sangat berlebihan ya."
"Mas Azam enggak perlu minta maaf. Semua ini bukan salah mama. Semua ini salahku karena aku belum bisa memberikan apa yang diinginkan oleh Mama. Aku tahu niat mama itu baik."
"Aku tahu, kamu pasti sangat tertekan. Tapi semua itu atas Allah. Jika Allah belum menghendaki, seberapa besar kita berusaha tetap akan berhasil. Namun, tidak boleh menyerah dengan keadaan harus tetap ikhtiar, berdoa dan berusaha. Karena sejatinya berdoa tanpa ada usaha itu terasa sia-sia. Makanya kita harus terus berusaha, kamu tidak keberatan kan?" Azam pun mentoel dagu Aisyah.
Bibir yang marun, membaut Azam selalu candu. Ingin rasanya Azam mencicipinya.
"Mas Azam mau apa?" tanya Aisyah saat wajah Azam mendekat ke arahnya.
"Kayaknya yang kamu pakai produk baru ya? Aku penasaran bagaimana rasanya," goda Azam.
"Rasanya sama kayak yang lainya. Udah sana mandi dulu!"
Azam tersenyum sambil menawarkan kedua alisnya. "Jadi setelah mandi aku boleh mencicipinya dong?"
"Boleh. Mas Azam cicipi aja sampai puas. Tuh lipstik aku yang baru ada meja riasnya. Cari aja yang warnanya sama kayak warna di bibir ini."
Mata Azam langsung mendelik. "Masa iya kamu nyuruh aku untuk nyicip batang lipstik. Aku kan maunya nyicip yang udah ada di bibir kamu."
__ADS_1
"Udah gak usah banyak protes! Mandi sana!"
πΈπΈ
Dalam keheningan malam, seuntai doa dipanjatkan dalam setiap sujudnya. Berharap sang pencipta memberikan sebuah kepercayaan untuk meniupkan roh ke dalam rahimnya.
βYa Tuhanku, janganlah Engkau membiarkan aku hidup seorang diri ( tanpa keturunan ) dan Engkaulah ahli waris yang terbaik.β (QS. Al-Anbiya ayat 89)
Setelah selesai salat malam, Aisyah melipat kembali mukena yang baru saja digunakannya. Saat ingin kembali ke tempat tidur, mata Aisyah melihat jika ponsel suaminya menyala tanpa suara. Karena merasa penasaran, Aisyah pun berniat untuk melihatnya.
Saat ponsel telah di depan mata, Aisyah hanya menautkan kedua alisnya dengan gemuruh dalam dadanya. Sebuah nama Via mengambang dilayar ponsel suaminya.
Aisyah sendiri tidak tahu siapa Via yang menghubungi suaminya di tengah malam seperti ini. Namun, pikiran Aisyah langsung tertuju pada seorang wanita yang pernah bersama dengan suaminya saat itu. Mungkinkah itu wanita yang bernama Via? Lalu apa hubungannya dengan sang suami? Apakah benar jika saat ini suaminya telah membagi hati dengan wanita lain karena sampai saat ini Aisyah belum bisa memberikan apa yang diinginkan oleh suaminya.
Terasa sangat sesak. Bahkan matanya terasa panas saat melihat wajah lelap dan suami. a
Apakah sang suami benar-benar tega membagi hati?
"Ya Allah, apakah kekhawatiran ini akan menjadi sebuah kenyataan? Sungguh tidak rela jika suamiku berbagi hati dengan wanita lain, meskipun sampai saat ini aku belum bisa memberikan apa yang diinginkan oleh suamiku." Air mata begitu deras membasahi pipi Aisyah. Bahkan saking sesaknya ia sampai sesenggukan.
Azam yang tak sengaja terbangun merasa sangat terkejut dengan Aisyah yang sedang menangis.
__ADS_1
"Ais, kamu kenapa nangis? Mimpi buruk?" Tangan Azam berusaha untuk mendekap tubuh istrinya. Namun, dengan cepat Aisyah menepis tangan Azam.
"Jangan sentuh aku!"