
Azam merasa bersalah manakala ia melihat Aisyah tertidur di meja makan. Sudah dipastikan jika Aisyah sengaja menunggu dirinya untuk pulang. Dadanya terasa ngilu seperti sedang tergores sembilu. Saat melihat jarum jam yang menempel di dinding, ternyata telah menunjukkan pukul 10 malam. Tanpa disadari dia sudah menghabiskan waktu 4 jam bersama dengan Via. Dengan bodohnya, Azam sama sekali tidak memberi kabar kepada Aisyah.
"Ais, bangun." Suara pelan menyentuh telinga Aisyah.
Perlahan Aisyah menggeliat. Saat dirinya mengerjap pelan. "Mas Azam."
Senyum kecil terukir di bibir Azam. Rasanya berat, tetapi sebisa mungkin Azam tetap biasa saja.
"Maaf ketiduran, Mas. Mas Azam udah lama pulangnya?" Aisyah segera menyalami tangan suaminya.
"Aku baru saja pulang. Maaf tadi aku tidak sempat memberikan kabar jika aku akan pulang malam karena setelah jam mengajar aku ada bimbingan dengan dua orang mahasiswa. Sekali lagi aku minta maaf. Kamu udah makan?"
kepala Aisyah menggeleng dengan pelan. Mana mungkin dirinya bisa makan sebelum suaminya pulang. Meskipun lapar, Aisyah pasti akan menahannya sampai sang suami pulang.
"Belum. Aku nungguin Mas Azam pulang."
Helaan napas panjang terdengar begitu berat. Tentu saja rasa bersalah itu semakin melebar. Azam pun segera mengambil piring peserta lauk pauk yang telah dimasak oleh Aisyah.
"Kenapa harus nungguin aku pulang, sih? Kamu kan harus minum obat. Kamu mau asam lambung kamu semakin parah. Lain kali kalau aku kama pulangnya, kamu makan duluan. Gak usah nungguin aku."
Aisyah hanya mengulum senyum di bibir saat Azam dengan telaten untuk meladeninya. Ada rasa terharu pada pria yang yang selama satu tahun menjadi imamnya itu.
"Makasih, Mas," ucapnya.
Hanya sudut garis bibir yang diangkat, karena Azam masih merasa bersalah.
"Mas Azam gak makan?" tanya Aisyah saat melihat Azam sama sekali tak mengambil nasi untuknya. "Mau diambilin?"
Kepala Azam langsung menggeleng dengan pelan. "Aku masih kenyang. Kamu aja makan yang banyak."
...
Malam berlalu begitu saja. Saat ini mentari pagi telah mengusir gelapnya malam. Menerangi alam semesta dengan kilauan keemasannya.
__ADS_1
Kicauan burung bersahutan seakan merasa bahagia saat menyambut sang fajar untuk. Begitu juga dengan Aisyah yang begitu bersemangat untuk berangkat ke kampus, setelah dua hari tidak hadir.
Berkat vitamin yang diberikan dokter, Asiyah sudah merasa lebih baikan dari hari-hari sebelumnya. Namun, saat melihat nasi di pagi hari, perutnya masih terasa mual dan ingin muntah.
"Wah ... sepertinya ada yang sangat bersemangat, nih?" Suara Azam menggema di telinga Aisyah saat wanita itu sedang menyiapkan sarapan di atas meja. Dengan senyum yang manis Aisyah pun menjawabnya.
"Tentu saja. Karena aku merasa sangat bosan di rumah terus."
πΈπΈπΈ
Seperti biasa, meskipun Aisyah dan juga Azam berangkat dalam satu mobil, tetapi setelah sampai di halte depan kampus, Aisyah memilih untuk turun. Dia masih belum siap jika pernikahannya dengan Azam diketahui oleh banyak orang, termasuk para penggemar suaminya. Tentu saja akan ada pihak yang tidak setuju dengan kenyataan yang sebenarnya. Untuk menghindari sesuatu yang tidak diinginkan keduanya pun sepakat untuk menyembunyikan status pernikahan mereka. Namun, bukan berati keduanya bisa leluasa untuk mencuci mata dengan orang-orang disekitar yang terlihat lebih bening.
"Aku turun ya, Mas," ucap Aisyah membuka mata.
"Kenapa buru-buru? Bukankah kelas masih lama?" tanya Azam sambil menautkan alisnya .
"Aku sudah membuat janji dengan Nabila untuk ke perpustakaan sebentar.".
Aisyah langsung menautkan keduanya alisnya. "Maksud Mas Azam?"
Azam berdecak pelan sambil membuang napas kasarnya. Padahal Aisyah masih sangat muda, tetapi daya ingatnya terlalu rendah.
"Kiss," ucap Azam yang sudah memanyunkan bibirnya.
Aisyah tertawa geli saat melihat bibir sang suami sudah manyun. "Dasar, pria dewasa yang messu!"
Meskipun menggerutu, Aisyah pun memberikan apa yang diinginkan oleh suaminya. Rutinitas wajib sebelum Aisyah turun dari mobil. Sebuah ciumman singkat di pipi Azam sebagai bentuk vitamin agar Azam bersemangat untuk melewati harinya.
Cup!
"Udah ya. Aku udah ditunggu Bila. Daaa ... Pak dosen see you. Assalamualaikum," ucap Aisyah saat tangannya telah membuka pintu mobil.
Setelah berhasil keluar, Aisyah memastikan tidak ada yang melihat dirinya yang keluar dari mobil yang dikendarai oleh Azam. Ia takut jika ada yang melihat dan mengatakan jika dia adalah wanita penggoda. Seharusnya Aisyah tidak perlu merasa takut, tetapi dia hanya belum siap saja jika pernikahannya dengan Azam tersebar luas. Dengan napas lega, Aisyah pun berjalan untuk masuk kedalam gedung yang menjadi tempatnya menuntut ilmu.
__ADS_1
Baru saja bersyukur karena tak ada yang melihatnya turun dari mobil Azam, mendadak Aisyah merasa sangat terkejut saat sebuah bayangan menyamai langsungnya untuk masuk kedalam gedung Universitasnya. Matanya menoleh untuk memastikan siapa pemilik bayangan tersebut.
"Haii ...," sapanya saat Aisyah disapa.
Dengan rasa gugup, Aisyah pun membalas sapaan yang diberikan pada dirinya. "Haii ... juga."
"Kamu dianterin siapa? Kok enggak sampai depan gerbang?"
Aisyah tidak langsung menjawab pertanyaan yang dilemparkan dan langsung bertanya kembali. "Lha, kamu sendiri ngapain jalan kaki? Biasanya bawa mobil?"
"Kamu gimana sih, Ais? Ditanya malah ganti bertanya? Kamu masih sakit?"
Aisyah tersenyum canggung, terlebih saat ini mobil Azam masih berada dibelakangnya. Tidak mungkin jika dia mengatakan diantar oleh suaminya yang ternyata adalah dosen mereka.
"Ah, itu... aku diantar oleh sopir," kilah Aisyah sambil menggigit bibirnya.
'Ya Allah, maafkan lidah ini yang telah berbohong. Sungguh aku belum siap untuk berterus terang. Mas Azam ... maafkan aku.' batin Aisyah.
Tak berapa lama suara klakson panjang seperti memekakan telinga. Azam sengaja membunyikan klakson mobilnya karena pemandangan di depan membuat matanya terasa panas. Bahkan sampai ke urat nadinya. Sungguh dia tidak suka dengan pemandangan yang menyenangkan matanya.
Pria yang berada di samping Aisyah menggerutu kesal kepada pemilik mobil yang mengelakson mereka. Padahal dia dan Aisyah berjalan di trotoar.
"Itu orang kenapa sih? Perasaan kita jalannya udah bener deh!"
Jantung Aisyah berdebar tak karuan. Tentu saja dia tahu kode klakson yang hampir memekakkan telinganya.
"Em ... Re, aku duluan ya. Soalnya aku udah di tunggu sama Nabila. Daa ... Reyhan." Dengan lambaian tangan, Aisyah langsung berlari kecil meninggalkan Reyhan, pria yang sedang berusaha mendekati dirinya.
Reyhan hanya bisa mengernyitkan dahinya seraya menoleh pada mobil hitam yang berjalan pelan dibelakangnya.
"Mobil siapa sih, itu? Apakah mobil itu yang membuat Ais pergi? Apakah Ais diantar oleh pacarnya? Tapi bukankah Ais tidak punya pacar." Renyah bergumam sambil melangkah pelan untuk menuju ke gedung fakultasnya.
...#BERSMABUNG#...
__ADS_1