
Siang ini sepulang sekolah Azam langsung meluncur ke rumah mamanya. Tak lupa dia juga membawa Asiyah. Entah apa yang ingin dibicarakan oleh mamanya sehingga sang mama menyuruh mereka untuk datang. Hati Azam penuh tanda tanya dan menerka-nerka tentang apa yang akan dilakukan oleh mamanya.
"Mas Azam kenapa, kok kayak gugup?" tanya Aisyah yang sejak tadi memperhatikan gerak-gerik suaminya.
Azam yang memang sejak tadi fokus pada jalanan seketika menoleh ke arah Aisyah. Dengan bibir tersenyum dia berkata, "Enggak, aku enggak gugup. Cuma gerah aja."
"Gerah? Perasaan dingin deh!" Aisyah menautkan kedua alisnya.
"Mungkin karena tadi habis makan cabe gerah," timpal Azam.
Aisyah hanya mengangguk dengan pelan. Tanpa ingin bertanya lagi dia memilih untuk diam hingga mobil yang dikendarai oleh Azam telah sampai di sebuah pekarangan rumah yang sangat besar.
Sebagai anak tunggal dari keluarga berada, sebenarnya Azam tak perlu repot-repot bekerja menjadi seorang dosen. Jika mau Azam hanya tinggal mengatakan kepada bapaknya jika dia ingin bekerja di perusahaan. Akan tetapi Azam memilih jalan yang dia inginkan, yaitu menjadi seorang dosen.
"Ayo!" kata Azam setelah mematikan mesin mobilnya.
Kepala Aisyah mengangguk dengan pelan dan mengikuti gerakan Azam untuk keluar dari mobil.
Tiba-tiba saja langkah Aisyah terasa sangat berat saat ingin masuk kedalam rumah mertuanya. Rasa gugup pun tiba-tiba menyerang dirinya. Mendadak dasarnya berdebar tak menentu.
"Ais, ayo!" Azam menyadari jika saat ini sang istri merasa gugup. Dengan lembut, Azam menggandeng tangan Aisyah untuk masuk ke dalam rumah. Dan saat ini kedatangan Azzam telah ditunjuk oleh sang mama.
__ADS_1
"Assalamualaikum," ucap Azam dan Aisyah secara bersamaan.
"Waalaikumsalam," jawab mama Maya—mamanya Azam. "Kalian udah sampai? Sini duduk!"
Azam dan Aisyah pun langsung menyalami wanita yang dipanggil mama. Meskipun usianya hampir mencapai 50 tahun, tetapi auranya bak seperti wanita 25 tahun. Mungkin karena rajin perawatan dan rajin berolahraga sehingga wanita itu terlihat sangat segar bugar.
"Papa mana, Ma?" tanya Azam.
"Papa masih di kantor. Apakah kalian sudah makan siang? Kalau belum, kita makan dulu ya," tawar mama Maya.
"Kamu udah makan kok, Ma, sahut Asiyah.
Azam dan Aisyah saling bersitatap. Keduanya merasa penasaran dengan apa yang ingin dibicarakan oleh sang mama, terlebih sat ini wajah Mama Maya terlihat sangat tegang.
"Sebelumnya Mama tidak ingin membahas masalah ini kepada kalian, tetapi karena sampai sekarang tidak ada perubahan, maka Mama memberanikan diri untuk suka suara. Ais, kamu memang menantu kesayangan Mama. Rasanya Mama tidak tega untuk membicarakan ini tetapi Mama benar-benar harus mengatakan ini kepada kalian." Mama Maya menjeda ucapannya karena rasanya terlalu sesak di dalam dada.
"Kalian pasti sudah tahu apa yang kamu inginkan dari kalian berdua. Usia mama dan papa semakin hari semakin bertambah. Dan sampai sekarang mama dan papa belum mendapatkan apa yang kami inginkan dari kalian berdua. Sampai kapan kalian akan menunda untuk memiliki momongan? Mama sudah tidak sanggup untuk menundanya lebih lama lagi mengingat usia Mama semakin hari semakin bertambah. Mama hanya ingin disisa umur ini, Mama bisa menggendong kayak gimana sebelum dipanggil oleh sang pencipta," ujar Mama Maya dengan mata yang berkaca-kaca. Sungguh ini terlalu berat untuknya mengingat Aisyah adalah menantu kesayangannya, dia juga ingin segera menggendong seorang cucu.
"Ma, kami sedang berusaha," sahut Azam.
"Mama tahu jika kalian sedang berusaha. Tapi sampai kapan kamu akan menunggu waktu itu tiba? Mama sudah tua, Zam!"
__ADS_1
Mata Asiyah berkaca-kaca untuk menahan air mata agar tidak membasahi pipinya. Hatinya seperti sedang tersayat ketika mendengar ucapan dari nama mertuanya yang sangat menginginkan seorang cucu.
"Ma, maafkan Ais yang belum bisa mewujudkan keinginan Mama," ucap Aisyah dengan pelan.
"Kamu tak perlu meminta maaf kepada Mama, justru Mama yang harus meminta maaf kepadamu karena harus mengambil keputusan terberat ini. Mama ingin Azam menikah lagi."
Bola mata Asiyah membulat dengan sangat lebar. Dadanya naik turun karena saat ini jantungnya seperti sedang terkena bom nuklir yang menghancurkan dunia.
"Mah!" sentak Azam. "Mama apa-apa sih? Kami berdua akan segera memberikan apa yang Mama inginkan tetapi tidak dengan cara seperti ini, Ma. Ais bisa memberikan apa yang Mama inginkan, tolong jangan suruh Azam untuk menikah lagi. Cinta Azam hanya untuk Asiyah. Azam tidak mau menikah lagi!" Dengan keras, Azam langsung menolak keinginan Mamanya.
"Zam! Kamu juga harus tau, kamu ini adalah satu-satunya pewaris dalam keluarga ini. Jika kamu tidak memiliki keturunan, lalu siapa yang akan meneruskan keluarga ini, Zam! Azam kamu jangan egois!"
Tak kuasa air mata yang telah dibendung sejak tadi kini meleleh begitu saja. Sungguh hancur hatinya ketika sang mama mertua yang sudah dianggapnya sebagai seorang mama sendiri, tega melakukan ini kepadanya.
"Tapi tidak dengan cara seperti ini, Ma!" Azam masih bersikeras menolak ide konyol mamanya.
"Lalu seperti apa, Zam? Bahkan Mama sering mengirim ramuan penyubur, tapi apa nyatanya? Sampai sekarang Ais juga belum hamil kan? Itu artinya apa, Zam? Apa?" sentak mama Maya dengan penuh rasa kecewa.
*
*
__ADS_1