Cinta Untuk Aisyah

Cinta Untuk Aisyah
23 ~ Asam Lambung


__ADS_3

"Al, kamu sadar gak sih, kayak ada mobil yang ngikutin kita, deh!" ucap Nabila setelah menutup pintu gerbangnya kembali.


"Ah, itu perasaanmu aja. Sudahlah ayo masuk! Emang siapa yang mau ngikutin kita? Begal?"


Tak ingin mempermasalahkan, Nabila pun segera mengikuti langkah Alex untuk menuju dimana pintu berada. Mungkin memang hanya perasaannya saja yang merasa ada yang mengikuti, karena saat matanya menyapu jalanan depan, tak ada satupun kendaraan yang berhenti disana.


"Bil, pencet belnya! Lihatlah, tanganku gak bisa diangkat!" seru Alex sambil memperlihatkan keduanya tangannya yang sedang menenteng kantong plastik yang berisi buah tangan untuk Aisyah.


"Dih, manja!" cibir Nabila yang langsung memencet sebuah bel.


Mendengar suara bel berbunyi, Aisyah pun segara membuka pintu. Alangkah terkejutnya Aisyah saat melihat Nabila dan Alex sudah berada di depan pintu rumahnya.


"Ais…" Nabila langsung memeluk tubuh Aisyah.


"Assalamualaikum!" protes Aisyah dengan cepat.


Nabila yang melupakan salamnya hanya nyengir. "Iya maaf. Assalamualaikum, Ais," ulang Nabila.


"Wa'alaikumsalam." jawab Aisyah yang kemudian mempersilahkan kedua temannya untuk masuk kedalam rumah. Aisyah pun sebenarnya juga sedang menunggu kedatangan Nabila, karena sebelum pergi ke kampus suaminya mengatakan jika akan menyuruh Nabilah untuk ke rumah. Dan ternyata Nabila pun datang juga.


"Wah ... bawa apa ini?" tanya Aisyah saat Alex menyodorkan dua plastik putih besar kepadanya.


Dengan rasa bahagia Aisyah langsung menerimanya. Namun, saat melihat apa isinya, tiba-tiba bibir Aisyah langsung mengerucut.


"Kok cuma buah sih? Aku gak bisa makan buah-buahan. Apalagi buah yang masam!" protes Aisyah.

__ADS_1


Bola mata Nabila langsung mendelik. "Kenapa?"


Aisyah yang duduk diantara Nabila dan Alex mendengus dengan kasar. Jika mengingat hasil pemeriksaan tadi, Aisyah masih merasa sangat kecewa. Namun, Aisyah berusaha untuk tetap baik-baik saja.


"Asam lambung aku naik," jelas Aisyah dengan helaan napas panjang.


"Itu pasti gara-gara rujak kemarin. Bila sih, pakai bawa mangga muda segala. Mana satu karung lagi lagi dibawanya," komentar Alex.


"Sembarang! Itu cuma satu plastik, bukan satu karung!" protes Nabila yang tidak terima.


"Ah, sama aja!"


Mata Nabila langsung melotot untuk mantap kearah Alex. Jika tidak ada Aisyah ditengah-tengah keduanya, mungkin saat ini Nabila bisa menginjak kaki Alex sampai puas. Namun, Nabila harus memendam rasa kesalnya. "Lihat saja nanti!" batin Nabila.


"Mulai lagi, deh. Udahlah kalau kalian kesini hanya ingin berdebat, mending aku tidur lagi aja!" timpal Asiyah yang sudah merasa bosan mendengar keduanya beradu mulut.


"Ya udah, kalian kupas aja dan kalain makan. Aku lagi gak mood untuk makan buah-buahan, terlebih saat ini aku pikir aku sedang hamil, eh gak tahunya asam lambung naik!"


Nabila yang awalnya merasa sangat yakin jika Aisyah sedang hamil juga merasa sangat kecewa. "Padahal aku juga berpikir jika kamu tuh sedang hamidun, lho!" Celotehan Nabila.


"Ya sudah, terus coba lagi dan jangan lupa juga terus berdoa, karena usaha tanpa doa hanya akan sia-sia saja," nasehat Nabila.


Wajah Aisyah mendadak tidak bersemangat. Sementara itu Alex merasa canggung jika mereka membahas masalah kehamilan. Bukan tidak tahu, hanya saja Alex merasa risih dengan pembahasan mereka. Untuk kali ini Alex memilih untuk menjadi pendengar daripada ikut berkomentar.


"Awalnya waktu mas Azam juga yakin jika aku sedang hamil. Namun, setelah melakukan pemeriksaan ternyata hanya penyakit lama lagi kumat," keluh Aisyah.

__ADS_1


"Tapi sebenarnya ada bagusnya juga sih, Ais kalau kamu gak jadi hamidun. Soalnya dari artikel yang aku baca usia muda itu rentan terhadap keguguran. Apalagi kalau kondisi fisiknya lemah. Mending di mantengin dulu sistem reproduksinya. Biar hasilnya juga lebih lebih bagus gitu," celoteh Nabila.


"Jadi kamu mau bilang kalau reproduksinya belum manteng, hasilnya enggak bagus. Bil, aku udah 19 tahun lho dan mas Azam juga udah masuk ke angka 28. Apakah masih kurang matang?"


"Ya bukan gitu juga Ais. Maksud aku tuh—"


"Udah ah, kalian ini bahas apaan sih! Kalau produk pak Azam gak bisa top cer, sini aku kasih produkku aja yang lebih top cer!" Alex menyahut.


"Alex!" bentak Aisyah dan Nabila secara bersamaan yang membuat Alex langsung terlonjak dengan suara yang tiba-tiba menggelegar.


Sebenarnya Aisyah juga pernah membaca sebuah artikel yang seperti Nabila ucapkan, tetapi saat ini usianya sudah termasuk usia ideal untuk mengandung.


Aisyah merasa sedih jika mengingat mama mertuanya sudah tidak sabar untuk meminang cucu. Aisyah semakin merasa ketakutan dan bersalah manakala ia belum juga bisa mengabulkan keinginan mama mertuanya. Ia takut jika sewaktu-waktu mama mertuanya berubah pikiran dan malah menyuruh Azam untuk mencari wanita yang bisa melahirkan seorang anak. Dan jika itu benar-benar terjadi, Aisyah pasti akan sangat hancur karena dirinya sudah benar-benar jatuh cinta kepada suaminya.


Menunda kehamilan setahun yang lalu sebenarnya berat untuknya, tetapi mau bagaimana lagi karena saat itu ia masih berstatus sebagai seorang pelajar dan tidak mungkin juga ia mengandung ketika masih duduk di bangku sekolah, sekalipun ia sudah menikah.


Pernikahan Azam dan juga Aisyah terjadi karena sebuah wasiat dari Abah Aisyah yang menginginkan anaknya menikah dengan Azam, anak dari sahabat lamanya.


Karena Azam dan Aisyah adalah anak yang penurut, keduanya pun setuju untuk menikah, meskipun saat itu Aisyah usia Aisyah masih 18 tahun dan masih berstatus sebagai seorang pelajar. Sementara Azam adalah seorang guru bahasa Inggris di sekolah.


Meskipun awalnya mereka sama-sama tidak saling mencintai, tetapi dengan berjalannya dan kebersamaan di antara keduanya, cinta pun tumbuh dengan sendirinya.


.


.

__ADS_1


...#TO BE CONTINUE#...


__ADS_2