
Aisyah lebih memilih rebahan di tempat tidurnya sambil memainkan ponsel dan berselancar di aplikasi berwarna hijau itu.
Ia berbalas pesan kepada sahabatnya. Siapa lagi jika bukan Nabila.
Awalnya Nabila merasa khawatir saat mendengar Aisyah sakit. Namun, setelah melakukan video call, Nabila merasa lega karena Aisyah terlihat baik-baik saja.
Setelah sampai di rumah, Azam segera mencari keberadaan sang istri. Ia ingin memastikan jika keadaan Aisyah baik-baik saja.
Tak menemukan keberadaan Aisyah lantai bawah, Azam segera menuju ke lantai atas. Sudah bisa dipastikan jika saat ini Aisyah sedang mendekam di dalam kamar.
Benar saja, saat Azam membuka pintu kamar, terlihat Aisyah tengah sibuk dengan gawainya.
"Katanya sakit? Kenapa malah main hp terus?"
Sontak Aisyah menoleh dan melihat Azam yang telah berada di ujung pintu. Ia benar-benar merasa sangat terkejut.
"Mas Azam," gumamnya pelan.
Aisyah segera bangkit lalu menyalami tangan suaminya. Begitu juga Azam yang mencium kening Aisyah.
Mereka sama sama melempar senyum.
"Mas mau makan?" tanya Aisyah.
Azan menggeleng pelan. "Tidak. Aku mau mandi dulu. Udah lengket." tolak Azam.
Aisyah terdiam sejenak sambil memperhatikan suaminya dengan seksama.
Saat Azam hendak melangkah ke kamar mandi Aisyah segera mencegahnya.
"Tunggu, Mas!"
Azam langsung menoleh.
"Kayaknya aku mencium aroma parfum yang berbeda deh di bajumu." Aisyah mengendus pakaian yang dikenakan oleh Azam.
"Parfum apa?" tanya Azam heran. Sementara dirinya sendiri saja tidak mencium aroma apa-apa selain aroma keringatnya.
__ADS_1
"Aroma apaan sih?" Azam semakin tak mengerti dengan tingkah istrinya.
Aisyah sekarang menatap Azam dengan tajam. "Mas Azam tadi pergi sama siapa?"
Azam segera mendongak. Ia menakutkan kedua alisnya. Apakah parfum Via tadi begitu lekat pada dirinya hingga Aisyah bisa merasakan aroma tersebut.
"Aku nggak ada pergi dengan siapapun, Ais. Pulang ngajar langsung pulang." ujar Azam berbohong.
"Mas bohong! Jelas-jelas baju Mas Azam itu ada aroma parfum yang lembut. Dan itu jelas itu bukan parfum yang biasa mas Azam pakai!"
"Kamu ini ya…! Kamu kan tahu kalau aku itu ngajar di kampus. Ketemu banyak mahasiswa. Mungkin saja aroma parfumnya mereka terbang ke bajuku."
"Ooo… Aku baru tahu kalau aroma parfum itu bisa terbang ya," cibir Aisyah dengan menahan rasa emosinya. Dari mana ceritanya aroma parfum seseorang bisa terbang ke baju orang lain. Jika mereka tidak bersentuhan ataupun berpelukan, parfum itu tidak akan lengket di baju.
Azam langsung salah tingkah. Alasannya yang diberikan tidak bisa untuk meyakinkan Aisyah. Tidak mungkin ia berkata jujur bahwa ia baru saja bertemu dengan Via dan memeluknya. Eh dipeluknya.
"Bukan begitu Ais. Tapi aku memang tidak pergi dengan siapapun. Tolong percayalah!" Azam tetap berusaha meyakinkan Aisyah.
Dengan perasaan berat Aisyah menerima alasan tersebut meski dalam hati ia masih penasaran dengan aroma parfum yang menempel di baju suaminya.
. . .
"Ais, bulan depan kalian sudah ujian semester lho." Azam mengingatkan Aisyah.
"Iya aku tahu, Mas." ucap Ais malas.
Aisyah yang tiduran beralas paha Azam hanya fokus pada acara televisi.
"Ya, syukurlah. Libur semester kita ke Bali yuk?" ajak Azam secara tiba-tiba.
"Bali?" gumam Aisyah.
"Jauh amat, Mas? Mending ke pantai Gunung Kidul aja. Jalannya sekarang udah bagus kok." saran Aisyah
Azam langsung menautkan kedua alisnya. "Kesana lagi? Kan waktu itu kita sudah pernah kesana!" protes Azam
"Di Bali kita ke pantai kan?" tanya Aisyah
__ADS_1
"Iya." jawab Azam cepat.
"Nah itu dia, Mas. Kan sama-sama pantai. Di Gunung Kidul pantainya tak kalah jauh dari Bali. Mas Agung jangan salah ya, sekarang pariwisata di pesisir selatan sana sudah banyak dikunjungi para wisatawan. Bahkan ada yang dari mancanegara juga, lho. Disana itu suasananya masih asri." jelas Aisyah yang merekomendasikan pantai Gunung Kidul untuk menjadi tempat liburan mereka selanjutnya.
Kalau sudah begitu mau bagaimana lagi. Azam hanya terdiam, tidak bisa memprotes keinginan sang istri.
Ya, memang ada benarnya juga ucapan Aisyah. Pesona Gunung Kidul saat ini tengah diincar para wisatawan karena keasriannya. Ditambah lagi yang dulunya hanya ladang gersang, kini telah di sulap menjadi sebuah lintas. Jalan lintas selatan yang akan menghubungkan ke provinsi Jawa timur.
"Ya sudah, aku manut aja." Akhirnya Azam mengalah.
Pagi hari seperti biasa, setelah sholat subuh Aisyah segera bergegas untuk membereskan rumah dan memasak.
Begitu juga dengan Azam yang akan turun tangan membantu istrinya untuk membereskan rumah. Tugas Azam hanya menyapu dan mengepel saja.
Tak ada rasa gengsi untuk Azam saat membantu istrinya untuk mengerjakan pekerjaan rumah, sebab bagaimanapun itu adalah tanggung jawab bersama.
Pagi ini entah sudah beberapa kali Aisyah memuntahkan cairan bening. Rasa mual yang tak tertahan lagi membuatnya ke wastafel untuk muntah. Azam yang melihatnya segera menghampiri Aisyah.
"Kamu kenapa, Ais? Sakit?" tanya Azam yang terlihat sangat khawatir.
"Gak tau, Mas. Tiba-tiba mual pas kupas bawang," ucap Aisyah
Azam dengan telaten memijit tengkuk Aisyah, berharap bisa membuatnya lebih mendingan.
Azam tak tega saat melihat Aisyah terus mengeluarkan cairan bening. Ia pun segera menyeduh teh hangat untuk Aisyah.
"Kita ke dokter ya! Aku gak mau kamu kenapa-napa," bujuk Azam.
Namun, Ais langsung menggeleng. "Gak usah, Mas. Nanti juga baik sendiri seperti kemarin." tolaknya.
Lagi-lagi Azam mengernyit. " Kemarin?" gumamnya.
"Iya, jadi kemarin waktu Mas Azam sudah berangkat ke kampus, perut aku tuh mual. Ya, kayak gini muntah terus. Tapi setelah minum teh hangat sama makan rujak, mualnya hilang." adu Aisyah pada suaminya.
Azam mulai menatap Aisyah dengan serius. Kini pandangan matanya tertuju pada perut rata yang berbalut dengan baju gamis.
"Ais, kita harus ke dokter sekarang!"
__ADS_1
...TO BE CONTINUE...
...❤️❤️❤️...