Cinta Untuk Aisyah

Cinta Untuk Aisyah
06 ~ Tak Beretitud


__ADS_3

Ketukan pintu membuat Azam terbangun. Tanpa disadari ia ketiduran di depan laptopnya dengan kepala menempel diatas meja.


Revan segera menghampiri bosnya.


"Maaf Pak, diluar ada seorang gadis mencari Bapak dan mengaku sebagai istri bapak." Revan melapor.


Wajah Azam langsung menegang. Untuk apa Aisyah datang ke Cafe yang jarak tempuhnya memakan waktu dua jam? Pikir Azam.


"Baiklah saya segera keluar. Kenapa tidak suruh dia menemui saya langsung?" tanya Azam yang membuat Revan tak percaya dengan jawaban yang diberikan oleh bosnya.


"Bapak percaya begitu saja jika gadis itu adalah istri Bapak? Siapa tahu hanya orang yang mengaku sebagai istri Bapak. Soalnya masih kayak bocah SMA," ujar Revan.


Ada benarnya juga ucapan Revan. Bisa jadi hanya orang iseng yang mengaku sebagai istrinya. Lagian mana mungkin Aisyah mau menyambangi dirinya sendirian sementara hari sudah malam.


"Oke. Biar saya temui saja orang itu!"


Berhubungan waktu sudah masuk untuk sholat isya' Aisyah memutuskan untuk pergi ke mushola yang berada di samping Cafe. Azam sengaja membangun sebuah mushola kecil di samping Cafe agar memudahkan siapa saja yang hendak menunaikan sholat tidak perlu putar balik untuk mencari masjid.


"Dimana orangnya?" Netra Azam mencari keberadaan orang yang di maksud oleh Revan. Namun, hasilnya nihil.


"Tadi di sini Pak." Revan menunjuk meja yang diduduki oleh Aisyah tadi. "Berarti benar kan Pak, dia hanya orang iseng yang mengaku ngaku-ngaku saja, untung tadi kami tahan."


"Baiklah kalau begitu saya tinggal ke mushola." Azam berlalu, sedangkan Revan memilih berjalan ke kasir sambil mengawasi para pelayan yang masih bekerja.


Selesai sholat Aisyah berusaha untuk menelpon suaminya. Namun, kali ini nomer yang dituju sedang tidak aktif.


"Tuh kan, apa coba maksudnya gak aktif!" gerutu Aisyah dengan kesal.


"Ais." Aisyah terkejut saat mendengar namanya dipanggil. Namun, ia merasa tak asing suara yang baru saja memanggil dirinya. Aisyah pun menoleh ke samping.


"Mas Azam," serunya.


Baru saja bertemu dengan Azam, Aisyah sudah di lempari bertubi-tubi pertanyaan kepada suaminya, hingga sang suami kewalahan ingin menjawab pertanyaan Aisyah darimana.


"Jadi dari mana duluan yang harus di jawab?" Azam malah terlihat bingung..


Apa susahnya menjawab langsung. batin Aisyah.


"Ya sudah, nanti aku jelaskan di ruangan saja. Ayo kita kesana. Kamu pasti lelah," ucap Azam yang langsung menuntun Aisyah untuk menuju ke cafe.

__ADS_1


Keduanya pun kembali lagi masuk ke cafe namun, yang di tuju saat ini adalah ruangan Azam, bukan meja pengunjung. Beberapa mata hanya menatap sinis kearah Aisyah termasuk Ria.


"Mas, kenapa gak angkat teleponku? Gak ngasih kabar kalau gak pulang, gak bilang kalauโ€”" Bibir Aisyah langsung ditutup oleh jari telunjuk Azam.


Seketika Aisyah pun terdiam.


Azam tak ingin sang istri berceloteh ria mengeluarkan unek-uneknya. Terlebih saat ini mereka sedang berada di kantor.


"Kenapa telepon dan pesanku satu pun gak ada yang di balas? Terus sekarang malah gak aktif?" Bukan Aisyah jika tidak akan diam sebelum mendapatkan sebuah jawaban atas pertanyaannya.


Kali ini Azam hanya bisa mendengus dengan pelan karena telah lalai tidak mengecek ponselnya, terlebih saat ini ponselnya dalam keadaan lowbat. Azam hanya pasrah, berharap sang istri mempercayai alasannya.


Sambil menunjukkan ponsel yang sedang lowbat, Azam berkata, "Ais, maafkan aku yang tidak melihat pesan dan panggilan darimu. lihatlah saat ini hp-ku hampir tidak memiliki nyawa. Percayalah, aku benar-benar tidak tahu."


Oke. Kali ini Aisyah percaya. Awas jika ada kebohongan lain.


Setelah merasa suasana tidak horor, Azam kembali bertanya kepada istrinya. "Tumben mau kesini sendiri? Biasanya dipaksa seperti apapun juga nggak mau ikut ke sini."


Dasar suami gak peka!


"Emang kalau aku nyusul suami sendiri gak boleh? Terus kenapa Mas enggak pulang dan kasih kabar coba?" ucap Aisyah dengan kesal.


"Maaf, aku benar-benar lupa." Hembusan napas kasar bisa Aisyah rasakan. Di lihat dari raut wajahnya jika saat ini suaminya sedang menyimpan beban.


"Mas Azam, aku tak tahu sebenarnya apa yang sedang Mas Azam pikirkan. Tapi bisakah Mas membagi beban pikiran itu denganku? Oke, mungkin aku enggak bisa membantu apa-apa, tapi setidaknya aku tahu agar aku tak merasa sedang di permainan."


Aisyah mengusap wajah Azam dengan lembut. Azam pun mendongak menatap mata sayu istrinya. Kini Azam sangat merasa bersalah pada istrinya.


Sebenarnya bukan ingin menyembunyikan sesuatu dari sang istri, hanya saja Azam tak ingin membuat istrinya juga ikut memikirkan masalahnya.


Kruukk


Keduanya saling menatap.


"Kamu lapar?" Azam menempelkan telinganya ke perut Aisyah. "Tuh, cacingnya pada demo."


Azam tertawa, namun tidak dengan Aisyah yang masih menekuk wajahnya.


"Ya sudah aku pesan makanan dulu, ya." Azam berdiri lalu menuju meja kerjanya.

__ADS_1


"Mas, aku gak mau makan di caffe mu ini!" Aisyah masih merasa kesal.


"Kenapa?"


"Pokoknya aku gak mau! Pelayanan cafe mu tidak beretitud! Juga tidak memuaskan pelanggan. Kenapa Mas Azam bisa mempekerjakan orang yang tak punya unggah-ungguh kepada pengunjung sih?" gurutu Aisyah.


Agung tak mengerti atas ucapan Aisyah.


"Maksud kamu apa, Ais?"


Aisyah belum bergeser dari tempat semula. Ia masih menunjukkan wajah kesalnya. Karena Azam tak mengerti atas ucapan istrinya, ia pun memilih untuk kembali ke sofa.


"Jelaskan ada apa?" Azam memegang dagu Aisyah sambil menatap dengan tajam.


Matilah. Batin Aisyah dengan jantung yang telah berdebar kuat.


Sedikit rasa takut jika Azam tersinggung atas ucapannya. Dengan tenang Aisyah menjelaskan betapa dirinya dipersulit untuk bisa bertemu bos mereka bahkan sampai direndahkan.


"Serius?" Azam pun langsung menertawakan cerita Aisyah.


Aisyah semakin kesal lalu melemparkan bantal kecil sofa ke arah suaminya. "Pokoknya aku mau mereka di pecat!"


๐Ÿ๐Ÿ


Lagi-lagi semua mata tertuju ke arah Azam dan Aisyah yang berjalan beriringan dari dalam ruangan Azsm. Terdengar kasak kusuk tak jelas membicarakan tentang Aisyah.


Aisyah semakin tertantang lalu meraih lengan Azam dan dipeluk dengan erat.


"Mas kita makan di angkringan dekat lampu merah sana aja ya!"


Azam hanya mengangguk pelan sekilas melirik Aisyah yang asik dengan ponselnya. Lucu memang, perempuan jaman sekarang masih ada yang suka makan di angkringan.


Padahal jika Aisyah meminta makan di sebuah restoran Azam bisa membayarinya. Bahkan jikapun Aisya meminta restoran beserta isinya pun Azam juga sanggup untuk membelikan, tetapi dengan uang orang tuanya.


Nasi kucing dan sate usus adalah pilihan Aisyah. Selain murah, makanan ini paling digemari para mahasiswa dan anak kos. Meskipun tak selezat makanan restoran bintang delapan, tetapi makanan ini lebih nikmat. Apa lagi jika makan berdua dengan pasangan sambil duduk lesehan. Hem syahdu.


...TO BE CONTINUE...


...๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ...

__ADS_1


...Jangan lupa like dan komen ya โ˜บ๏ธ...


__ADS_2