
Seorang gadis duduk di bangku taman dengan wajah yang sendu sambil memegang liontin yang tergantung cantik di balik jilbab, menatap ke langit.. berucap sambil meneteskan air mata
"ayah.. bunda.. Rania sudah lulus.. Rania berhasil.. selangkah lagi Rania segera menjadi dokter menggapai impian, semoga suatu saat kita dipertemukan kembali.. InsyaAllah"
ya.. dia Rania.. seorang gadis yatim piatu yang bekerja dengan keras hingga dapat menyelesaikan sarjana kedokterannya...
Rania menghabiskan masa kecil di panti asuhan.. menginjak remaja.. Rania mulai bekerja di rumah makan sambil sekolah.. bekerja part time di berbagai tempat..sampai akhirnya bisa membiayai kuliahnya sendiri.. mengejar mimpinya menjadi seorang dokter.. cita citanya sedari kecil akhirnya menjadi kenyataan.
Di sebuah cafe
"Rania.. kamu jadi dinas di rumah sakit A itu?"
tanya vita, teman rania
"ya jadila.. surat nya juga udah keluar, kamu doakan aku ya ta mudah2an semua lancar2 nggak ada hambatan"
"Pasti aku doakan kamu, kita udah sahabatan dari kecil rania, aku nggak mau kamu tuh kenapa2.. oh iya mami cariin kamu tuh.. jangan lupa 2 minggu lagi aku tunangan.."
"iya.. aku tau, nggak mungkin lupa.. wong harinya kesayangan aku yang bentar lagi naik pelaminan.. nggak kebayang deh kamu jadi istri orang"
"ihh kamu ini.. cepetan nyusul.. incar2 tuh dokter2 di rumah sakit ntar.. hahahaaha"
"yeeee.. sukses dlu sayang baru cari jodoh.. udah ah.. yuk cabut"
" yukk"
Mereka pun berlalu pergi
Vita, sahabat dekat rania sedari kecil. Vita sempat satu sekolah dengan Rania saat SD, walaupun ia merupakan anak dari seorang pengusaha sukses di kotanya tapi ia tak pernah sombong, ia tahu apa yang dialami Rania, bahkan Vita sering sekali menawarkan bantuan untuk Rania, hanya saja, Rania sering menolak. Bagi Rania mendapatkan seorang sahabat seperti Vita sudah lebih dari cukup apalagi ibu Vita juga amat menyanyangi Rania dan menganggapnya seperti anak sendiri. Rania menolak semua bantuan dari Vita dan keluarga, ia tidak ingin merepotkan dan berusaha menggapai impian dengan jerih payahnya.
Rania tidak pernah sekalipun berpikir untuk mencari pacar, baginya mengejar cita-cita adalah yang utama, dia ingin menjadi orang sukses agar bisa membantu adik-adik yang senasib dengannya. Walaupun di kampus banyak sekali yang menyatakan cinta untuknya bahkan tidak sedikit alumni yang sudah menjadi dokter melamarnya
__ADS_1
Flashback on
Suatu malam di hari minggu, hujan rintik-rintik turun, seakan tau ada suatu kejadian yang menyedihkan terjadi.
"Anak-anak ceritanya sudah selesai, ayo semuanya tidur"
ucap ibu murni pada anak-anak pantinya dan dijawab patuh oleh anak-anak.
Ibu murni, sosok seorang wanita yang penuh kelembutan, keibuan, sungguh dengan tulus mencintai dan menyayangi anak-anak asuhnya.
Kejadian tragis di masa lalu yang merenggut nyawa anak dan suami, membuatnya mengabdikan seluruh hidup untuk anak-anak yang tidak memiliki orang tua. Cinta dan kasih sayang yang tulus darinya membuat anak-anak panti tidak kekurangan cinta seorang ibu.
Saat anak-anak sudah berbaring di tempat tidurnya masing-masing, bu murni pun menuju ke dapur, tenggorokannya terasa kering sehabis membacakan cerita pada anak-anak asuhnya. Dia pun meneguk air putih.
Tiba-tiba terdengar suara tangisan bayi
" Suara bayi?" tanya bu murni dengan penuh keheranan
Bu murni pun mencari sumber suara bayi tersebut. Ketika ia membuka pintu depan, kagetlah bu murni melihat bayi terletak di depan pintu rumahnya.
"Astafirrullah.. bayi siapa ini, Ya Allah nak, cup.. cup.. "
Dengan sigap, bu murni menggendong bayi yang memakai liontin mahkota berwarna biru itu sambil menenangkannya, dan ia pun melihat secarik kertas yang bertuliskan, "Rania Asyila Putri, 31 Desember 1996".
Flashback off
Di suatu tempat...
"Lapor Komandan, target sudah bergerak menuju lokasi, mohon ijin melakukan tindakan"
lapor seorang bintara kepada atasannya.
__ADS_1
"Ok siapkan tim, tunggu mereka keluarkan bukti baru ditindak, ketika tikus masuk perangkap, baru kita jerat"
"siap"
"mhm... dapat juga akhirnya"
gumam perwira polisi itu dengan senyum penuh kemenangan.
Seketika TKP pun penuh dengan suara tembakan, 5 tersangka berhasil dilumpuhkan, masing-masing mendapat luka tembak, ada yang di kaki, lengan, bahu, bahkan ada yang meninggal di tempat dengan luka tembak di kepala. Para polisi terpaksa menembak melumpuhkan tersangka-tersangka itu karena melawan petugas, jika tidak dilumpuhkan bisa-bisa mengancam keselamatan Polisi sendiri. 4 tersangka ditangkap dengan penuh luka tembak, 1 orang dinyatakan meninggal di tempat. Para begal yang terkenal sadis ini akhirnya dilumpuhkan, warga sungguh resah karena kelompok ini terkenal sadis dalam melancarkan aksinya. Mereka tidak segan memperkosa dan membunuh para korbannya.
"Rick, para tsk kamu selidik ya begitu selesai dari rumah sakit, dan jangan lupa suruh Ardi buat laporannya, saya nggak mau lama2, semua harus cepat sesuai waktu"
Perintah sang atasan
"Siap pak"
Jawab Ricko, seorang bripda anggota sat reskrim kota A.
Setelah atasan berlalu, Ricko pun menghampiri Ardi
"Di, ntar laporan jangan telat, ini perintah Pak Putra, tau sendiri kan kalo Bapak udah kasi tugas"
"Iya sip, mana berani kalo udah Pak Putra kasih perintah, bisa abis aku, kelar hidup gue kalo nggak beres" jawab Ardi
"Noh udah tau, aku cuss ke Rumah Sakit ya, ngecek tsk"
Ricko pun lanjut menuju ke Rumah Sakit, waktu sudah menunjukkan pukul 2 pagi, walapun mata mengantuk, tugas harus tetap dilaksanakan. Semua harus selesai sebelum pergantian piket pukul 8 pagi nanti. Sesuai perintah Putra, tidak ada satu pun yang berani menolak, karena Putra terkenal dengan sikap tegas dan dinginnya, bisa dihukum jika tidak melaksanakan tugas dan perintah.
Putra Laksana Ramadhan, seorang perwira polisi berumur 30 tahun sekaligus pewaris perusahaan konstruksi milik sang Ayah.
Lulusan Akpol yang menjabat kasat reskrim di kota A, karirnya meningkat pesat karena kepintaran dan kasus yang banyak dipecahkan olehnya. Seorang pria yang berpikir wanita hanyalah pembuat masalah, sehingga di umur 30 tahun belum berpikir untuk menikah. Hal ini yang membuat sang ibunda stress memikirkan nasib anak sulungnya. Apalagi sang adik, Putri, sudah menikah dan punya 1 anak.
__ADS_1