Cinta Untuk Rania

Cinta Untuk Rania
Episode 6 : Mengenal lebih dekat


__ADS_3

"Raniaaaaaa!!!!!"


Putra segera berlari, mengangkat tubuh rania, memeriksa apakah ada bagian tubuh yang terluka


"syukurla, dia hanya syok" ucap Putra dengan lega


entah kenapa ia sangat khawatir pada seorang wanita, ini pertama kali baginya, jangankan memperhatikan seorang wanita, yang jelas-jelas mendekati nya saja bahkan rela memberikan tubuhnya ia merasa jijik.


"izin lapor komadan, 3 tsk sudah dibawa menuju rumah sakit" ujar Ricko melaporkan


"baik, tolong kamu tangani dlu, selidik, saya mau tahu mereka bekerja sendiri atau ada sindikat, nt sy cek kembali"


"siap komandan"


Putra menghela napas, kemudian mengangkat tubuh Rania menuju ke dalam mobilnya,


"cantik".. tanpa sadar ia menatap wajah Rania, memegang pipinya, mengelusnya dengan lembut


"kemana aku harus membawanya, aku tidak tahu ia tinggal dimana"


Putra membawa Rania ke apartemen miliknya, sebenarnya ia memang tinggal di apartemen ini, kadang kadang ia menginap di rumah orang tuanya


Sampai di parkiran, ia membawa Rania, menggendongnya menuju lantai tempat tinggalnya, petugas apartemen saja sampai bingung, soalnya tidak pernah sekalipun Putra membawa seorang wanita bahkan untuk tersenyum saja jarang sekali. sungguh kejadian yang langka.

__ADS_1


pelan-pelan Rania membuka matanya,


"Ya Allah, aku selamat, alhamdulillah" ucapnya bersyukur


"kamu sudah bangun"


"Andaa.....saya dimana?" tanya Rania dengan heran


"tenangkan dirimu nt saya jelaskan" Putra beranjak keluar kamar


Rania melihat sekeliling kamar, kamar yang rapi terkesan maskulin, perabot yang ditata minimalis. kamar yang didominasi warna hitam putih, sungguh menyenangkan dilihat


"minumlah dulu" ucap Putra sambil meberikan segelas teh hangat


"saya hanya bisa membuat ini"


" te.. terima kasih banyak" jawab Rania dengan canggung


setelah menyelesaikan makanannya, Putra pun menjelaskan kejadian tadi sore


"kamu td syok, ketika sya menembak tsk, tiba2 kamu ambruk, pingsan, saya bingung mau bawa kamu kemana, saya juga tidak tau kamu tinggal dimana" Putra menjelaskan pada Rania


"mhmm.. jadi ini rumah bapak? saya sungguh berterima kasih bapak telah menyelamatkan nyawa saya, saya sangat berhutang budi sama bapak" ujar Rania

__ADS_1


"itu memang sudah tugas saya, saya sudah telpon rumah sakit, minta ijin besok kamu tidak usah masuk dlu, sebaikny kamu beristirahat ini sudah malam"


"tapi pak, apa sebaiknya saya pulang ke kontrakan saya saja?" tanya Rania, rasanya ia ingin pulang saja, jantungnya sudah berdebar debar dr td.


"tidak, ini sudah malam, apalagi kondisi kamu seperti ini, kamu tidurlah, kalau membutuhkan sesuatu kamu bisa panggil saya" ucapnya sambil berlalu


"dan satu lagi, jangan panggil saya pak, saya masih berumur 30 tahun"


"ba..baik" jawab Rania ragu ragu


"apa dia memang sedingin itu ya, ngomong saja ketus begitu, tapi setidaknya dia telah menyelamatkan hidupku, aku harus berterima kasih padanya" gumam Rania


sementara si ruang tv


"kenapa jantungku rasanya bersebar-debar, gugup sekali rasanya saat berbicara dengannya, ohh Tuhan apa aku sudah jatuh cinta pada dirinya, inikah namanya jatuh cinta, ingin sekali melihat dirinya"


"aku pasti sudah gila"


ucap Putra sambil merebahkan diri di atas sofa


apartemen miliknya memang punya dua kamar, karena dia tinggal sendiri, kamar satunya dialihkan fungsi untuk gudang, agak menyesal dengan kejadian seperti ini, Putra berpikir untuk membuatnya menjadi kamar tamu.


malam pun berlalu, Rania lelap tertidur di kamar Putra, dan Putra pun terpaksa tidur di ruang tv

__ADS_1


__ADS_2