
pipi Rania memerah bila mengingat kejadian ciuman itu, ia merasa malu. bagaimanapun juga itu adalah yang pertama baginya, ia sama sekali tidak pernah berpacaran sebelumnya
wajar bagi Putra ingin mencium Rania, ia begitu cantik dan menggemaskan, lagi pula ia adalah seorang lelaki dewasa yang berusia 30 tahun yang memang seharusnya sudah menikah
mereka akhirnya tertidur setelah semalaman terjaga..
tentu saja mereka tidak tidur seranjang. Kamar rawat inap Putra adalah VIP untuk seorang perwira polisi. Rania tidur di tempat tidur khusus penunggu pasien.
rasa lelah membuat mereka tertidur nyenyak
waktu sudah menunjukkan jam satu siang, Rania terbangun karena ketukan pintu
"permisi" ucap perawat
ternyata ada jadwal visit dokter, dokter edo masuk
"gimana Rania keadaan Pak Putra" tanya dokter Edo yang melihat Putra masih tertidur
"nggak ada tanda tanda cidera berat dok, sepertinya besok sudah bisa pulang" jawab Rania
"oke deh, hampir lupa kalo pacarnya pak kasat juga dokter, heheheehe," ucap dokter Edo sambil berlalu
__ADS_1
tak lama Putra pun terbangun..
"Rania ada siapa tadi?" tanya Putra
"dokter Edo tadi visit.." jawab Rania
"kapan mas boleh pulang?"
"insyaAllah besok mas" ucap Rania
"mhm... nggak papa kalo bisa sama kamu, mas betah kita jadi bisa... " goda Putra
seketika pipi Rania memerah, ia teringat ciuman tadi pagi.. Putra pun tertawa melihat Rania yang malu, padahal mereka sudah sama sama dewasa dan akan segera menikah
Putra pun tertawa terbahak bahak...
sementara itu di tempat lain........
"gimana Mel, sudah ketemu sama Putra, nasib perusahaan papa kamu gimana? tanya mami Melissa
"Putra menghindari Melissa mi, tapi tenang aja, Mel punya rencana malam ini" jawab Melissa
"kamu harus cepat Mel, bisa bisa kita bangkrut dan hidup miskin, kamu mau?" tanya mama Melissa
__ADS_1
"tenang mami, sebentar lagi semua akan beres, kita akan tambah kaya" ucap Melissa
Melissa memang sudah merencanakan sesuatu, ia sangat ingin menjadikan Putra miliknya agar dapat menguasai kekayaan keluarga Ramadhan, cara apapun akan ia lakukan demi menggapai ambisinya itu walau harus menghilangkan nyawa, ia sanggup melakukannya
sehabis magrib Rania pulang sebentar ke kontrakannya, ia akan mengambil baju dinasnya untuk kerja besok pagi, Rania memutuskan untuk menginap di rumah sakit, mengingat Putra yang keras kepala merasa dirinya tidak apa apa dengan luka jahitan itu. Berbeda dengan Rania, ia seorang dokter ia akan memastikan kesehatan pasiennya apalagi pasien itu kekasihnya sendiri
Putra bersikeras mengantar Rania, tentu saja itu ditolak mentah mentah, Putra dalam kondisi di infus, walaupun ia merasa dalam keadaan baik baik saja. Rania memilih menggunakan ojek online. Begitu sampai di rumah ia menghidupkan semua lampu, mengambil baju nya dan barang barang lain. Ia pun mengunci pintu rumahnya dan menunggu ojek online yang dipesannya
Tiba tiba sebuah mobil hitam berhenti tepat di hadapannya, 2 orang laki laki berperawakan besar turun membekap wajah Rania, ia pun kemudian tidak sadarkan diri, para pria tersebut membawa Rania masuk ke mobil, meninggalkan tas dan handphone Rania yang terjatuh di depan pagar rumahnya
Putra yang sedari tadi menunggu Rania merasa khawatir, Rania belum kembali ke rumah sakit, ia menelpon dan tidak diangkat, hingga panggilan yang ke lima kali dan panggilan itu pun diangkat
"Halo"
suara seorang pria yang mengangkat membuat Putra kaget
"Siappaa ini!!!!" tanya Putra
"maaf pak, saya ojek online tadi ada yang pesan atas nama Rania, setelah sampai yang ada cuma tas sama handphonenya pak di depan pagar, saya sudah tunggu setengah jam tp nggak ada orangnya pak" ucap ojek online tersebut menjelaskan pada Putra
"Appaa??" Putra pun terkejut
ia merasa cemas, jantungnya berdebar kencang, dengan cepat ia melepas infus dan berlari menuju mobilnya
__ADS_1