
Dokter cantik itu menatapku dengan penuh senyum, kenapa aku merasa ada sesuatu yang aneh, ini gila. Apa aku terkena penyakit jantung? jantungku nggak karuan rasanya
"maaf pak?" sela dokter Rania, membuyarkan lamunan Putra
"Iya dok, tangan kiri saya terluka, terkena sabetan golok," Putra menjelaskan
Rania mengangguk dan mulai memeriksa lengan kiri Putra, "ahh pria ini membuat aku canggung, baru kali ini aku gugup, kenapa ya" gumamnya dalam hati
Rania pun dengan telaten membersihkan luka sobek tersebut.
"luka ini perlu dijahit, maaf baju nya bisa dibuka dulu?" ucap Rania dengan canggung
"baik," Putra menjawab seadanya, ia memikirkan jantungnya yang berdebar kencang
Putra sudah membuka baju kaosnya, terlihatlah tubuh yang proporsional, dada yang bidang dan ototnya yang.. ahh membuat kaum hawa terpana... seketika membuat para perawat wanita berbisik bisik
Rania mulai menyuntikan bius di sekitar lengan, dan memulai menjahit luka tersebut.
__ADS_1
"Ya Allah, kok perasaan aku seperti ini, ada sesuatu yg lain, berdebar debar.. ahh tidak-tidak, ingat Rania kode etik seorang dokter, astafirullah, bismillahhirohmannirohim..."
gumam Rania yang heran dengan apa yang terjadi pada dirinya..
setengah jam berlalu.. tak satupun kata yang mereka ucapkan, hanya keheningan yang terjadi...
"yup selesai, jaitannya cukup banyak, bagaimana bisa anda tidak merasa sakit?" tanya Rania
"wah sepertinya anda dokter baru ya, sampai nggak tau dengan pasien anda siapa" ucap Ricko
Rania tidak menjawab, masih dengan tatapan herannya
Dokter Endi adalah Dokter ahli bedah yang bertugas di rumah sakit ini, karena ada saudaranya yang sedang dirawat inap, maka beliau tidak pulang ke rumah.
"Dokter Rania, perkenalkan ini adalah Pak Putra, beliau kasat reskrim, kalo luka segini udah biasa baginya, iya nggak boss". ucap Dokter Endi pada Putra sambil tersenyum.
"mhm.. "
__ADS_1
"wow.. kayaknya ini luka loe yg paling besar ya.. tumben2an bisa kena sabet gini" ucap dokter Endi
"Gue cabut dulu end, dan kamu makasih bantuannya" ucap Putra pada Endi dan Rania sambil berlalu
Rania hanya diam mematung, "belum juga aku jawab apa-apa, udah main pergi aja ni orang"
"Ran, kamu maklumi aja, si Putra emang gitu, dari jaman SMA, udah gitu modelnya" ucap dokter endi
"iyala dok, Rania juga terlalu mikirin"
"besok ada waktu ran, nonton yuk" ajak Endi
"Maaf mas Endi, besok Rania mau istirahat, belum tidur hari ini, maaf ya" Rania menolak ajakan rendi..
sebenarnya sudah berkali-kali menolak seniornya ini, bahkan Endi sudah pernah menyatakan cinta pada Rania, tapi entah kenapa, Rania memang tidak memiliki perasaan pada Endi, ia hanya ingin fokus pada karirnya.
Akhirnya pagi datang, waktu kerja Rania sudah selesai, ia berniat pulang ke rumah, mandi dan langsung istirahat. Semalaman UGD sangat penuh, mulai dari anak-anak yang batuk pilek sampe para tersangka yang terkena luka tembak.
__ADS_1
Rania sampe di kontrakannya, setelah mandi ia terlelap, menghilangkan penat yang ia alami seharian ini. Tubuhnya sungguh lelah, baru dua hari menjadi dokter tetapi sudah banyak kejadian yang membuatnya sibuk seharian tanpa bisa beristirahat.
Perlahan tidurnya mulai nyenyak, Rania sudah masuk ke alam mimpi....