Cinta Untuk Rania

Cinta Untuk Rania
Episode 18 : Terluka


__ADS_3

Dini hari di UGD disibukkan dengan banyaknya tersangka yang dilumpuhkan oleh aparat, semua dokter jaga dan perawat harus bertindak cepat, terdapat juga anggota yang terluka tembak, dokter Endi yang dihubungi pun segera meluncur ke rumah sakit, Rania sudah selesai menangani salah satu pasien tsk tersebut, ia menuju wastafel hendak mencuci tangan dan wajahnya, ia mendengar pintu UGD terbuka lagi dan melihat beberapa anggota kepolisian membawa tsk lagi yang terlihat sudah kaku, tiba tiba terdengar suara dokter Endi berteriak menyebut nama Putra, Rania segera menuju ke depan, dan ia terkejut melihat Putra terluka


"ya Allah masss!!" ucap Rania


Putra hanya menatap wajah kekasihnya yang terlihat khawatir itu


"mas bisa dengar Rania?" tanya Rania mengecek kesadaran Putra


"mas tidak apa apa" jawab Putra


tanpa lama lama, dengan sigap ia segera mengarahkan Ricko agar membawa Putra ke tempat tidur UGD, Rania memeriksa luka yang terlihat di kepala dan lengan, dengan cepat ia membersihkannya sendiri tanpa menyuruh perawat,


menyuntikan obat bius kemudian menjahit luka dengan hati hati, Rania sama sekali tidak berbicara, ia harus membiasakan diri dengan situasi ini, inilah yang akan ia hadapi jika menikah nanti, pemandangan inilah yang akan menghiasi hari harinya, sudah menjadi resiko, ia hanya bisa mendoakan agar Putra selalu dilindungi Allah dan pulang dalam keadaan selamat.


ia pun memeriksa denyut nadi dan akhirnya bertanya


"mas ada rasa mual dan pusing?" tanya Rania


Putra yang sedari tadi hanya diam memperhatikan Rania yang dengan sigap mengurusnya, ia merasa beruntung memiliki wanita ini di sampingnya, sebenarnya Putra sudah terbiasa dengan luka, ia hanya sedikit sakit saja

__ADS_1


"tidak ada Rania, jangan khawatir sayang" ucap Putra sambil memegang tangan Rania


Rania pun menghela napas, ia menatap wajah Putra dan kemudian sedikit tersenyum, ia memegang wajah Putra dengan tangan satunya


"syukurlah mas tidak apa apa, tapi di kepala ada 4 jahitan, di lengan nambah lagi 5" ucap Rania


"sepertinya harus nginap dulu mas, observasi ...karna kepala mas terkena benda tumpul dengan keras, Rania nggak mau sampai terjadi apa apa" ucap Rania


"sebentar Rania uruskan kamar dan resepkan obat dulu ke apotik"


Rania beranjak pergi, ia mengurus semuanya sendiri tanpa melibatkan perawat


pagi menjelang... Putra sudah berada di kamar inap,


setelah memastikan Putra di kamar, Rania pun pulang ke rumah, ia segera membersihkan diri, kemudian singgah ke apartemen Putra untuk mengambil beberapa helai pakaian ganti, tak lupa ia memasak bubur ayam untuk Putra


ia libur di hari ini dan harus kembali bekerja esok hari, ia memutuskan menemani Putra di rumah sakit


"lho mas kok nggak tidur" tanya Rania saat masuk ke kamar

__ADS_1



"seharusnya kamu yang tidur sayang, karena terjaga semalaman" ucap Putra yang tangannya sudah dipasang infus


Rania pun tersenyum



"Rania harus memastikan mas baik baik saja" ucap Rania sambil membawa bubur


" makan dulu mas,, " ucap Rania menyuapkan bubur untuk Putra


bukannya makan, Putra malah menarik Rania dengan tangan kanan yang bebas dari infus, ia menatap wajah kekasihnya, memegang pipin Rania, mendekatkan wajah kemudian mencium bibir merah Rania dengan lembut


Rania hanya mematung dengan bubur yang berada di tangannya, ia hanya merasakan kehangatan di bibirnya, hembusan nafas yang terasa di wajahnya, ia hanya bisa memejamkan matanya.. ini adalah yang pertama bagi Rania.. ia membiarkan Putra mencium bibirnya..


Putra mulai menjauhkan bibirnya dengan tangan kanan masih memegang pipi Rania, Rania kemudian perlahan membuka matanya..mereka saling menatap


"mas sangat mencintai mu," ucap Putra kemudian memeluk Rania

__ADS_1


"kamu adalah segalanya bagi mas" ucap Putra


__ADS_2