Cinta Untuk Rania

Cinta Untuk Rania
Episode 22 : Rania diculik part III


__ADS_3

Putra sampai di TKP, para anggota sudah sampai lebih dulu, mereka bersiap di posisi masing masing menunggu perintah Putra


didalam rumah kecil berdinding kayu itu, Rania masih terbaring dalam kondisi terikat, hari sudah subuh, suara mobil terdengar masuk ke area kebun sawit itu, jalan tanah yang berlumpur membuat suara deru kendaraan semakin terdengar,


Rania berusaha untuk tidak panik, ia berusaha tegar walau air mata sudah membasahi pipinya, ia merasa lelah dan sakit pada pergelangan tangan, tak lama suara pintu kamar terbuka, dua orang pria yang meculiknya tadi malam masuk dan membawa ia keluar rumah


4 orang dalam mobil yang baru datang tersebut turun


"ini uang kalian" ucap salah satu pria sambil menyerahkan sebuah kantong plastik hitam


"oke" kata pria satunya menerima uang tersebut


"bawa masuk ke mobil" ucap pria tersebut


Putra benar benar dalam keadaan marah, ia yang sedari tadi mengintai berusaha menahan emosi agar tidak menembak mati para penculik bagaimanapun ia seorang aparat yang wajib mematuhi aturan.. akan tetapi emosinya memuncak ketika melihat Rania yang dibawa kedua penculik tersebut, terlihat raut wajah Rania yang lemah dan ketakutan, Putra pun segera memberi aba aba anggota untuk segera bertindak


"dorrrrrr" bunyi dentuman suara tembakan peringatan oleh satu anggota


para penculik yang total berjumlah 6 orang terkejut mendengar tembakan mereka tidak menyangka akan ketahuan oleh polisi, segera mereka mengeluarkan senjata rakitan yang mereka bawa


"dorrrrrr" suara tembakan mengenai kaki pria yang memegang Rania

__ADS_1


"arrrghhh" pria tersebut teriak dan jatuh


"pollliisssiii" ucap Arman, anggota sat intel yang melepaskan kembali tembakan ke udara mengharap penculik menyerah


terlihat 4 orang masuk kembali ke mobil dan berniat kabur tetapi jalan sudah ditutup oleh para anggota reskrim lengkap bersenjata


Putra mendekat ke arah Rania yang masih berada di tangan satu pria penculik,


anggota lain juga sudah bersiap siap dalam posisi menembak


Putra melihat Rania dari jarak dekat, ia menatap wajah kekasihnya yang terlihat sembab, air mata mengalir di pipinya dengan mulut yang dilakban


"Lepppaass!!!!" ucap Putra pada penculik


penculik tersebut masih memegang senjata yang mengarahkannya pada petugas, hal ini sudah mengancam keselamatan, membuat Putra tidak mau mengambil resiko keselamatan Rania dan juga anggotanya ia pun melepaskan tembakan tembakan di dada penculik


"dorrrrrrrrr" bunye dentuman senjata yang disusul ambruknya penculik


sementara itu tembak menembak terjadi antara 4 orang penculik dan para aparat


4 penculik bersenjata api rakitan tersebut melakukan perlawanan, suasana benar benar mencekam, aparat terpaksa melakukan tembak di bagian dada

__ADS_1


suasana benar benar mencekam dan tegang, Rania benar benar syok, ia merasa lemas dan ketakutan


Putra segera berlari menghampirinya, ia langsung memeluk Rania yang terlihat pucat, membuka ikatan tali dan lakban di mulut Rania, memakaikannya jaket kemudian menggendongnya ke mobil, mengambil sebotol air mineral dan meminumkannya pada Rania


"tenanglah dulu, semua baik baik saja, ada mas, tunggu di sini sebentar" ucap Putra memeluk Rania dan mengecup keningnya


ia meminta Ricko menemani Rania


ia menutup pintu mobil, ia harus memberikan arahan pada anggotanya


pagi menjelang, warga sudah ramai mengerumuni lokasi, mereka penasaran dengan keributan suara tembakan yang terdengar dan melihat lalu lalang polisi masuk dalam area perkebunan


5 tsk tewas di tempat, 1 tertembak di kaki, di dalam mobil juga ditemukan obat - obatan terlarang.


garis polisi pun sudah terpasang


waktu menunjukkan pukul 8 pagi, Putra masuk ke dalam mobil, meminta Ricko membawa mereka keluar dari lokasi ini


ia tau Rania tidak terluka berat, itu sedikit melegakan, tapi hati Putra sungguh sakit karena Rania benar2 syok, wajahnya amat pucat, air mata masih membasahi pipinya, Putra mengerti kondisinya, untuk seorang warga sipil yang mengalami keadaan seperti tadi pasti merasakan ketakutan, ia memeluk rania dengan tangan kanannya mengarahkan kepala Rania bersandar di dadanya, tangan satunya menggenggam erat tangan Rania di dalam mobil yang melaju keluar dari perkebunan sawit itu


ia bersumpah akan mencari dalang dari kejadian ini, karena telah membahayakan nyawa Rania, masih ada kemungkinan pelaku akan melakukannya lagi, ia takkan lengah membiarkan peristiwa ini terjadi lagi

__ADS_1


__ADS_2