
"ma... tolong jangan berdebat, jangan seenaknya mengatur hidup anakmu ini" ucap Putra, sungguh ia malas berdebat
"tidak bisa, mau tidak mau kamu harus turuti keinginanan mama, kamu akan bertunangan" kata mama Rika dengan serius
Putra tau jika berdebat dengan mama sekarang, tìdak akan ada solusi, dia memang keras, tapi seorang pria tentu masih bisa berpikir menggunakan logikanya
"kamu akan menemui calon kamu besok!! ucap mama Rika dengan tegas
"baiklah, tidak masalah, tapi ingat, jika Putra tidak menyukainya jangan memaksa!!"
"Kalau kamu tidak mau, besok kamu bukan hanya bertemu tapi akan langsung mama nikahkan"
ucap mama Rika kemudian berlalu keluar dari kamar Putra semata wayangnya..
"maaaa!!!!!"
teriakan Putra tidak diperdulikan mama nya
"ohhh shitttt",.... kali ini dia lebih bersikeras daripada menjodohkan ku dengan melissa.. gumam Putra
mau tak mau ia harus menuruti mamanya, ia tau sifat mama Rika kali ini ia benar benar serius.. ia akan menemui gadis yang akan dijodohkan dengannya, bagaimana iya akan menolak itu urusan nanti
sambil menghela nafas.. ia lebih memilih tidur daripada pusing memikirkan kemauan mamanya yang keras kepala
di ruang keluarga
"gimana ma, mau anaknya?" tanya Papa Ferry
"mau gak mau pa, tuh anak memang seharusnya sudah menikah" jawab mama Rika
"yakin mama? kalau nanti Putra kabur gimana? malu lagi mama nanti" ucap papa Ferry
"terpaksa mama pake rencana B"
"maksudnya?" tanya papa Ferry
"ahh.. ntar juga papa tau, tenang aja pap.. beres, kali ini dia nggak bisa nolak lagi" ucap mama Rika
"terserah mama ah.. mending nonton mancing nih.. lagi seru"
ucap papa Ferry sambil megang remote tv
"ehhh jangan... sinetron mama baru mulai pa... sini remotenya"
"yaaa... nasib.." ucap papa Ferry
sementara itu di rumah sakit
__ADS_1
"dok, anak saya demam nggak turun turun panasnya nangis semalam" ucap seorang ibu sambil menggendong anak bayi berusia 9 bulan yang menangis kencang
Rania pun paham.. ibu mana yang bisa tenang jika melihat anaknya sakit.. dengan tenang Rania pun segera memeriksa bayi tersebut
"demamnya sudah berapa hari bu?"
"ini hari ke 4 dok" jawab sang ibu
"sudah dikasi obat penurun panas?" tanya Rania
"sudah dok, saya kasi s***l drop, tp kok nggak turun2... malah nangis semaleman"
"karena demamnya sudah lebih dari 3 hari, dicek darahnya dulu ya bu.. ibu silahkan ke lab, nanti hasilnya dibawa ke sini lagi" ucap Rania
"baik dok" jawab sang ibu kemudian beranjak menuju ke lab
Rania segera mengambil air mineral dan meminumnya, yahh seperti biasa UGD yang penuh dengan pasien dengan berbagai macam keluhan.. sedikit sekali ada waktu istirahat, jika ada tentu akan Rania pergunakan dengan sangat baik.
ia pun masih memikirkan kejadian di pesta pernikahan Vita, kenapa ia merasa sedih ketika melihat Putra bersama wanita lain, "ooh Rania, segerahla sadar, kamu bukan siapa2 bagi dia" gumam Rania
"kamu udah makan?" tanya dr. Endi membuyarkan lamunan Rania
"ahh dokter... belum, masih nunggu pasien dari lab" jawab Rania
"nih.. makan dulu" ujar dr. Endi sambil menyerahkan sekotak makanan dan sekotak salad buah
"buat beni juga mana?" ucap beni tiba2 muncul
"wah.. maaf2.. cuma ada 2 porsi satu buat dokter Rania dan satunya lagi yaaa buat saya donk, hehehehe?" ucap dokter Endi
"yahhh... dokter gitu deh... mentang mentang naksir dokter Rania kitanya dilupakan.. iya nggak ben" kata Ranti
"nasibbbb" beni menimpali
"bercandaa... masih ada tuh nasi kotakk di ruang saya, ambil sendiri ya"
"dengan senang hati dok,.. semoga pdkt nya sukses yaahhh" ucap beni sambil berlalu hendak ke ruangan dr. Endi
"aminn..." jawab dr. Endi
Ranti yang melihat kelakuan sahabatnya hanya bisa terkekeh.. begitu juga Rania.. ia hanya menganggap semua itu candaan saja..
tak lama pasien seorang ibu dan anak dari lab yelah kembali, setelah mengecek hasil lab dan meresepkan obat, Rania segera bersiap siap untuk pulang ke panti, karena esok ia akan bertemu dengan calon suaminya.
ia pun keluar rumah sakit dan mengeluarkan handphone untuk memesan ojek online
tiba tiba sebuah mobil berhenti di depan nya, seorang pria turun
__ADS_1
"Rania.. ayo saya antar pulang" ucap Putra tanpa basa basi sambil memegang tangan Rania menuntunnya menuju masuk ke mobil
Rania kaget, tak bisa berkata kata dan mengikuti Putra, ia sungguh tidak menyangka lelaki ini kembali hadir di depan matanya
"kita makan dulu" ucap Putra sambil mengemudikan mobilnya
"iya mas" jawa Rania sambil tak percaya
Rania memang belum makan, tapi masih ada sekotak nasi dan salad yang diberikan oleh dr. Endi dalam tas tentengnya, ia pikir akan dimakannya nanti di rumah saja. Rania tak menyangka akan ada Putra yang menjemputnya
"kamu mau pesan apa?" tanya putra
"ayam bakar, sayur asem, mnumnya lemon tea nggak pake gula" ucap Rania
setelah memesan mereka pun menikmati makanannya..
"mas Putra tadi ada keperluan di rumah sakit?" tanya Rania
"mhmm.. iya, ada keperluan sebentar" ucap Putra
sebenarnya ia tadi ke rumah sakit sedang melihat temannya yang sedang sakit, ia memang berniat menemui Rania, tapi saat di pintu UGD ia melihat Endi memberikan makanan pada Rania, entah kenapa ia tidak suka melihat hal tersebut, walaupun Endi adalah sahabatnya sendiri, ia merasa cemburu
"ada yang mau saya bicarakan sama kamu Rania, kamu nggak sedang buru buru kan?" tanya Putra
"nggak mas, tapi ada apa ya, kelihatannya serius banget?" ucap Rania
"mhmm.. begini Rania saya bukan orang yang basa basi, sebelumnya saya minta maaf jika apa yang saya katakan..mhmm.. " ucap Putra
"iya mas, ada apa ya?" tanya Rania,
ia merasa ia tidak sedang dalam membuat kesalahan, kecuali memiliki perasaan pada pria ini
sambil menghela napas
"baiklah.., sebenarnya saya jatuh cinta sama kamu? apakah kamu bersedia jika menjadi teman hidup saya" ucap Putra dengan tegas
ya.. dia memang orang yang tegas dan kuat pendirian, walaupun hal ini membuatnya gugup setengah mati, tapi cinta memang harus diperjuangkan, itulah lelaki yang sejati
whatttt mata Rania membulat dan membesar... ia tak menyangka sungguh benar benar tak menyangka, inilah yang sangat diharapkan olehnya, seorang pria tampan menggunakan seragam dinas polisi duduk tegap di depannya dengan tegas menyatakan perasaannya walaupun keringat sebesar jagung mulai keluar dari dahinya.. Rania sungguh terharu, inilah cinta yang ditunggu tunggu olehnya.. perasaannya berbalas, ia ingin segera menjawab pernyataan cinta itu,
tiba tiba handphone rania berbunyi.. ibu murni yang menelpon, Rania memberi isyarat akan mengangkat telpon pada Putra
"Assalammualaikum ibu" ucap Rania
"wa'alaikumsalam anak ibu sayang, kamu udah siap2 ke panti malam ini? insyaAllah besok keluarga calon kamu datang.." ucap Rania
Rania pun terkejut, ia lupa bahwa ia akan segera bertemu calon suaminya, ia lupa bahwa sebentar lagi ia akan menjadi seorang istri, ia lupa bahwa ia harus memenuhi janjinya pada ibu asuhnya.. seketika air mata memenuhi matanya, menetes membasahi pipinya..
__ADS_1