
Rania mulai membuka matanya perlahan, ia belum sepenuhnya sadar, ia merasakan kepalanya pusing sekali sehingga berat untuk membuka mata, ia pun merasakan sakit di kedua tangannya yang mulai terasa kaku sampai beberapa saat kemudian kesadarannya penuh, ia tau bahwa ia sedang diculik
Rania mencoba untuk tidak panik, ia mulai mengatur napasnya dan mencoba untuk berbaring dengan benar walaupun kondisi kedua tangannya sedang terikat
Rania merasakan sakit di kedua pergelangan tangan, ia tau sudah dibius sepertinya menggunakan chloroform, yang apabila terhirup akan langsung tidak sadarkan diri selama beberapa jam
Ia melihat sekeliling.. tidak ada suara, tidak ada jendela, yang ada hanya lubang kecil dari dinding kayu bangunan ini
Rania melihat sekilas pada celah dinding di tempat tdurnya.. sangat gelap.. kemungkinan ini masih tengah malam
"ya Allah, lindungilah hamba" ucap Rania
ia masih sungguh tidak mengerti kenapa ia menjadi korban penculikan, ia merasa tak pernah terlibat permasalahan berat
"halo bos, perempuan sudah di tangan" ucap seorang lelaki bertubuh besar yang berbicara di handphonenya
"bagus, nt ada yang menjemput, dan kalian akan dibayar" ucap seorang pria
"baik"
Melissa sungguh bermain cantik, rencana yang disusun benar benar hampir berhasil, ia tidak sembarangan melakukan hal ini
"sudah kau dapatkan?" ucap Melissa pada seorang pria
"sudah bos" jawab pria misterius itu
__ADS_1
"siapkan berkasnya dan mulailah menghubunginya, ingat hati hati, aku tak mau berisiko" ucap Melissa
"baik" jawab sang pria
waktu sudah menunjukkan pukul 2 dini hari Putra yang menelusuri jalan untuk mengecek beberapa cctv di pertokoan agar mendapat info mobil tersebut bergerak kemana tiba tiba mendapat panggilan telpon
"iya lang? jawab Putra
"sorry Put malam2 gini, aku mendapat telpon gelap barusan, dia meminta melihat email, isinya meminta sejumlah dana berbentuk saham dalam jumlah besar, dan mengirim photo wanita dengan tangan diikat, dan menulis nama kamu di bawahnya, aku pikir ada hubungannya dengan kamu" ucap Gilang
"brengsekkk, aku ke menuju ke tempatmu sekarang" ucap Putra melajukan mobilnya yang dikemudikan Ricko ke rumah Gilang
Gilang adalah sepupu Putra yang berusia 30 tahun, Putra memberikan jabatan direktur padanya di perusahaan konstruksi milik Putra. Selama ini Gilanglah yang diberikan kekuasaan untuk menjalankan perusahaan dan memberikan laporan perusahaan pada Putra setiap bulan
Putra yang sudah sampai di kediaman Gilang segera mengecek email perusahaan,
"calon istriku diculik lang, kejadian sekitar jam 7 malam" jawab gilang
"apaaa? gilaa.. terus hubungan sama perusahaan apa? ucap gilang
"aku tidak tau, sampai kamu menlpon td, selama ini tidak ada yang tau aku pemilik perusahaan, brarti kemungkinan ini persaingan bisnis dan orang dekat yang tau dengan diriku" ucap Putra
"jangan sampai mama dan papa tau kejadian ini lang, tolong dirahasiakan dulu" ucap Putra pada Gilang
"oke, ini beberapa daftar perusahaan dan pemiliknya yang ikut tender besar minggu lalu, coba kamu liat liat dan cek dulu" ucap Gilang pada Putra
__ADS_1
memang ada proyek besar yang direbutkan beberapa perusahaan minggu lalu, dan perusahaan Putralah yang memenangkan tender tersebut
"PT Abdi Jaya Sentosa.." gumam Putra
"kamu tau?" tanya Gilang
"ini sahabatnya papa, milik Bambang Sentosa, ayahnya Melissa" jawab Putra
tiba tiba bunyi dering handphone milik Ricko terdengar
"Hallo bang, siap.." ucap Ricko tak lama mengakhiri percakapannya
"ijin Pak, ada info mobil yang dicari masuk ke hutan A daerah kebun sawit, sekitar 1 jam perjalanan dari sini" jelas Ricko pada Putra
dan kemudian handphone Putra pun berdering, Arman anggota intel menelpon
"ijin komandan, info 2 orng diduga penculik, anggota komplotan bajing, brarti mereka dibayar karna perintah ndan,?" jelas Arman pada atasannya itu
"info si pembayar?" tanya Putra kembali
"ijin ndan, Baron pemimpin bajing sudah di tangan saya, mereka cuma disuruh untuk culik saja dan dapat bayaran, yang perintah masih abu2 komandan, korban dibawa ke hutan A daerah kebun sawit, Anggota sudah menuju ke sana" jelas Arman pada Putra
"oh iya ndan, transaksi sekitar menjelang subuh, ijin menunggu perintah bergerak ndan? ucap Arman
"tunggu saya di tkp, jika ada gerakan yang membahayakan korban, langsung bergerak jangan tunggu perintah saya, utamakan seratus persen keselamatan korban" ucap Putra
__ADS_1
Putra pun segera beranjak, ia memikirkan Rania, ia takut terjadi sesuatu yang buruk padanya, ia bisa menyesal seumur hidup jika sampai kehilangan wanita yang dicintainya itu, "semoga Allah melindungimu" ucap Putra dalam hati