
Kali ini sesil benar-benar sudah tidak kuat lagi. sesil terjatuh untuk kesekian kalinya. ternyata berlari dan berteriak itu membutuhkan tenaga yang besar sedangkan sesil, tenaganya habis di pakai untuk berlari. ia pingsan tepat berada di depan gerbang rumah seseorang. ternyata dia kuat berlari sampai tiga jam. itupun ia kuat-kuatkan untuk mencari bantuan dar seseorang
Tak lama kemudian dari kejauhan ada seorang laki-laki tampan memakai kemeja, celana dan sepatu kantor. ia juga menenteng kotak di tangan kirinya. ivander Luke graha atau biasa di panggil vander, umur 20 tahun.di umurnya yang ke 17 tahun ia bisa mendirikan hotel bintang lima yang di beri nama hotel yande, hotel terbesar di Negaranya, hotel itu tak pernah sepi dari pengunjung. karena, hotel itu tepat berada di tempat wisata yang sangat indah saat di lihat dari ketinggian ia juga membuka cabangnya di mana-mana, tak banyak orang yang tau jika ia menjadi pemimpin di hotel tersebut. karena yang keluarganya tau hanyalah ivander seorang pengangguran, sebab pagi dan siang ia pakai untuk tidur, jika sore hari menjelang ia pakai untuk kuliah dan malam harinya ia pakai untuk bekerja. mereka berfikir kalau dia belajar, tapi ternyata malam hari itu ia pakai untuk bekerja keras dan dia melakukan pekerjaan itu hanya untuk satu alasan.
Ia melihat ada seseorang di depan pintu gerbang rumah neneknya. niat hati, ia datang untuk berkunjung tapi, ia malah melihat ada orang yang sedang tertelungkup "dia kenapa? kenapa tidur di situ?." ucap vander yang mengira kalau gadis itu tidur lalu ia setengah berlari mendekat ke arah gadis itu ia sangat penasaran. kenapa gadis itu tidur di sini. ia mencoba membangunkannya dan menepuk tanganya "mbak. bangun mbak." ucap vander tak kunjung di respon oleh gadis itu, ia meletakkan tentengannya di atas tanah lalu membalikkan tubuh gadis itu. "ya ampun, kenapa banyak sekali lukanya." ucap vander, ia keget setengah hidup karena, ia melihat banyak luka di sekujur tubuhnya. ia sangat cemas tapi ia tidak menyadarinya, dan juga gadis itu sangat kacau ia mengambil tentengannya dan menggendong gadis itu, ia berteriak dan menggedor pintu gerbang yang di tutup oleh penjaga menggunakan kakinya. tak lama kemudian penjaga itu datang dan membukakan pintu untuknya dan membungkuk. karena kondisi yang sangat darurat ia tidak menanyai penjaga gerbang itu. karena lampunya remang-remang penjaga gerbang itu tak tau jika tuan muda itu membawa seseorang ia hanya menundukkan kepalanya karena mendengar gedoran pintu yang memekakkan telinga, penjaga itu mengira bahwa tuan mudanya mempunyai masalah yang sangat rumit lalu ia tak berani mengangkat kepalanya.
Vander segera masuk ia berlari menuju pintu depan "oh astaga aku lupa memberitahu penjaga itu." ucap vander ia mau berbalik pun tak mau karena ia melihat penjaga itu sedang berusaha mengunci pintu gerbang, dan berteriak memanggilnya pun juga tak mau karena alasannya kelamaan. lalu ia memutuskan untuk menggedor pintu itu dengan kakinya
BRAK BRAK BRAK BRAK
"Nek, nenek, buka pintunya." teriak vander yang masih menggedor-gedor pintu itu
__ADS_1
Sedangkan nenek parki berada di dalam kamarnya yang sedang tertidur itu bangun, ia keget mendengar suara gedoran dan teriakan itu ia langsung berdiri dan berjalan menuju pintu depan dan tepat berada di belakang pintu ia menajamkan pendengarannya kalau-kalau dia salah dengar "seperti suara ivander. tapi kenapa dia teriak-teriak. biasanya kan dia langsung masuk." gumam nenek parki "ini aneh. sangat aneh." gumamnya lagi.
CEKLEK
Karena tak tahan dengan suara gedoran pintu itu, nenek parki langsung membukakannya. alangkah terkejutnya dia melihat cucunya menggendong seorang gadis "oh astaga malam-malam begini dia.." ucap nenek parki dalam hati ia menggantungkan kata-katanya yang sedikit menyudutkan cucunya itu, dia belum melihat kondisi gadis itu "ini tidak bisa di biarkan." lanjutnya lagi dalam hati "apa yang kau lakukan vander." terkiak nenek parki marah ia belum tau kejadiannya seperti apa
Setelah penjaga itu selesai mengunci pintu ia di kejutkan suara yang menggelegar dari rumah nyonya nenek "tuhkan benar, untung saja aku tadi diam. jika tidak. pasti aku akan terkena dampaknya." ucapnya lagi. lalu ia berlari kembali ke tempat asalnya
Rumah nenek parki jika di lihat dari depan itu terlihat kecil, jika masuk kedalam akan terlihat luas itu sangatlah sejuk dan nyaman untuk di jadikan tempat tinggal. ia juga jauh dari anaknya, sebenarnya ia juga pernah di suruh ikut tapi dia tidak mau dan alasannya adalah "ini salah satu peninggalan dari almarhum kakek kamu ,aku tak bisa meninggalkanya." rumah yang tidak terlalu besar itu di huni oleh neneknya, tak lupa papanya mengirim beberapa art dan tiga orang penjaga. kakeknya ,sudah lama meninggal. papanya juga memperluas kebun belakang rumah neneknya.
Nenek parki menyingkir ketika mendengarkan ocehan dari ivander. ivander langsung masuk begitu saja, tapi ia melupakan satu hal.
__ADS_1
ia meletakkan gadis itu di kursi ruang tamu dan nenek parki jangan tanyakan itu, matanya melotot beserta bolanya akan keluar ketika melihat banyak luka di tubuh gadis itu
"IVANDER..." teriak nenek parki. kata-katanya terputus karena ivander terlihat sangat cemas. ia bersidekap, nenek parki tak pernah melihatnya seperti itu terakhir kali ia melihat ekspresi itu ketika ia masih sekolah dasar
"Nek tolong ambil air hangat dan juga kain ya, aku akan menelepon kak varya dan hesa." ucap vander ia merogoh saku celananya mengambil handphone dan mencari nomor kontak varya sebelum ia menekannya, ia di kagetkan oleh perkataan neneknya
"Baiklah, tapi kau harus menjelaskannya pada nenek." ucap nenek parki dengan tatapan mengintimidasi dan berlalu ke arah dapur dan memanggil pelayan
Vander ia mengurungkan niatnya untuk menghubungi kakaknya, gara-gara dia mengangkat gadis yang penuh luka itu ia melupakan perkataan neneknya dulu "jika kau terlihat atau kau tak terlihat olehku memukul wanita, entah itu sampai pingsan atau tidak kau juga harus di hukum. kau juga harus mengingat ini vander, kau terlahir dari perut ibumu dan kau juga harus menghormati ibumu, nenekmu, kakakmu dan juga selain itu kau juga harus menghormatinya dan lagi kau juga tak boleh bertindak senonoh dengan mereka." perkataan neneknya itu masih terngiang-ngiang di fikiran vander. gara-gara ia kehilangan gadis kecilnya, ia bertindak sesuka hati kepada semua perempuan yang dekat dengannya. gara-gara itu dia juga mendapat pencerahan dari neneknya dan pencariannya ia hentikan sampai detik ini, tapi ia tidak menghiraukan perkataan neneknya "aku tak akan menghormati mereka. hanya gadis kecilku lah yang layak." itu yang ia katakan dalam hatinya. memang ia dulu pernah bertindak senonoh karena ia merindukan gadis kecilnya. ia juga tak peduli dengan wanita yang berada di sekitarnya walau wanita itu sakit ataupun pura-pura. ia bersikap cuek. itu terjadi sampai sekarang
Vander baru ingat kalau sebentar lagi akan ada sidang perdana dan matanya mengikuti kemana langkah kaki nenek parki pergi, setelah nenek parki tak terlihat ia buru-buru pergi ke teras belakang rumah
__ADS_1