Cinta Yang Kembali

Cinta Yang Kembali
FLB Awal mula menjadi nakal


__ADS_3

Karena berkat bantuan dokter Hesa dan Melcy dalam waktu setengah jam aneka masakan itu sudah jadi dan mereka sudah menyajikannya dan mereka tinggal memanggil nyonyanya. Hm, biasanya bi Meir membutuhkan waktu satu jam untuk membuat aneka lauk pauk yang berada di meja makan itu. Melcy sekarang kebagian mencuci peralatan masak sedangkan dokter Hesa sudah duduk manis di meja makan. Bi Meir mendatangi nenek Parki diruang tamu, ia mengira nenek Parki masih ada di sana.


Semenjak Vander di tinggal nenek Parki pergi ke kamarnya, Vander menghubungi sekertarisnya mencari tau siapa sebenarnya gadis yang ia temukan sejak dua jam yang lalu. Ia di buat penasaran, sebab gadis itu tak asing baginya. Dia menunggu informasi dari sekertarisnya, karena perasaannya tak menentu ia mondar-mandir, dua puluh menit kemudian, ia berhenti duduk di ranjang samping tempat di mana gadis yang ia tolong, ia memandang wajah gadis itu "Jika itu benar kamu, aku tak akan melepaskanmu seperti dulu." ucap Vander lirih sambil merapikan rambut gadis itu, lalu ia membaringkan tubuhnya di samping gadis itu. Mungkin karena lelah, tiba-tiba saja matanya mengantuk dan ia memejamkan matanya sebentar.

__ADS_1


Flashback ON


Ivander yang berusia tujuh tahun, ia baru pulang dari sekolah di sambut hangat dengan suara tawa yang melengking dari gadis kecilnya. "Selalu saja seperti ini ia bermain dan tertawa sendiri di area kolam ikan, apa begitu mengasyikan. kemana kakak?"ucap Vander dalam hati ia menggelengkan kepalanya sambil memperhatikan di dalam mobil lalu turun ia juga masih memperhatikannya ia juga celingak-celinguk melihat sekitar.

__ADS_1


Sesil, atau Vander biasa memanggilnya Yata umur empat tahun itu sedang bermain dengan ikan di kolam. Ia juga mengobok-obok kolam itu, tepatnya di samping depan rumah nenek parki. Ia sangat senang, jika di bilangin ia tak pernah mau mendengarkan, dan karena itu dulu Vander pernah mendorongnya, menceburkan dia ke kolam ikan, hasilnya dia kena marah papa dan mamanya. Pernah juga karena kolam itu di obok-obok oleh sesil entah tangannya ada racun tikusnya atau tidak, besoknya ikan-ikan itu banyak yang mati. Vander, tentu sangat jengkel dengannya, dan untung saja ikan itu harganya cumak sepuluh ribuan, kalau saja itu sampai jutaan bisa kejang-kejang dia. Sesil melihat Vander keluar dari dalam mobil melompat berlari ke arahnya meninggalkan ikan-ikan itu di dalam kolam. Akhirnya ikan-ikan itu bisa bernafas lega, karena si pengganggu sudah pergi.


"Kenapa kau berlari? apa kau tak takut jatuh? dimana kakak, kenapa kau bermain sendiri?." tanya Vander bertubi-tubi sambil menyentil dahi Sesil.

__ADS_1


"Au, Ander kau itu kejam sekali, selalu saja menyakitiku. mereka semua belum pulang." protes sesil tak terima. Ia kesakitan. Vander lupa kalau mereka mempunyai kakak yang sangat sibuk kakak mereka belum pulang dari sekolah, mereka juga biasanya bermain di temani dengan kakak-kakaknya.


"O iya inikan masih jam sepuluh, aku duluankan yang pulang." ucap Vander dalam hati sambil melihat jam tanganya "Ya sudah, ayo kita masuk, dan yata, kau itu susah di bilangin." ucapnya lagi pada Sesil ia berjalan melewati Sesil. Sesil yang mengira Vander benci kepadanya itu ia diam dan tersenyum. Ia tak ragu lagi mengatakannya. Entah kenapa awalnya ia berat sekali mengatakan ini kepadanya dan ia tak mau meninggalkan tempat ini. Tapi melihat reaksi Vander ia begitu yakin mengatakannya.

__ADS_1


__ADS_2