Cinta Yang Kembali

Cinta Yang Kembali
FLB Akhir Awal mula menjadi nakal 04


__ADS_3

BRAK


Dengan satu kali tendangan ia berhasil membuka pintu itu, tak butuh waktu lama gadis bar-bar itu tanpa bilang permisi dan tanpa menunggu di persilahkan sang pemilik kamar ia langsung masuk dia mengedarkan pandangan matanya di seluruh ruangan itu, ia menyunggingkan senyumnya "Bersih seperti biasanya" pikirnya lalu matanya melihat vander yang terlihat kepalanya saja seluruh badanya tertutupi selimut "Enak sekali dia, ini sudah pagi dan matahari sudah terlihat dia masih saja tidur, apa kurang keras aku menendang pintunya?" ucapnya dalam hati sambil menoleh ke arah belakang melihat pintu, ia meletakkan kedua tangannya di pinggang seperti orang yang sedang menantang, tak puas dengan hasil yang dia peroleh dia berjalan mendekati ranjang vander "Astaga, dia tak terusik sama sekali, dia mendengkur bahkan ini sudah hampir jam setengah enam." gumamnya melihat vander tidur menyamping, vander tak bergerak sedikitpun "Vander, bangun." Teriak varya membuka selimut yang hampir menutupi sebagian tubuh vander


"Kakak." ucap vander kaget ia langsung seketika mendengar suara kakaknya yang sangat nyaring menembus telinganya "Kakak kenapa di sini?" lanjutnya lagi


Varya menatap adiknya dengan tatapan mata yang tajam dan kedua tangannya memegang pinggang, ia ingin sekali marah saat ini tapi, ketika ia melihat keadaan adiknya yang sangat mengenaskan ini ia urungkan, dia tak jadi memarahinya. varya malah miris sekali melihat keadaan adiknya saat ini, varya yang tadi menatap adiknya dengan tatapan tajam kini tatapannya menjadi sendu, varya yang tadi kedua tanganya memegang pinggang seperti orang yang sedang menantang ia turunkan, tidak ada lagi varya yang galak dan bar-bar, yang ada sekarang ini adalah varya yang penuh welas asih pada adiknya


"Vander, kenapa kau jadi seperti ini?" geram varya ia mencoba menutupi rasa kasihanya

__ADS_1


"Kau itu adik kakak satu-satunya ini sudah jam setengah enam, kau harus bangun dan berangkat sekolah." lanjutnya lagi berteriak


"Kakak, kenapa kau berteriak seperti ini?" ucap vander menggesekkan telinganya yang berdengung. karena suara kakaknya yang membahana luar biasa


"Kenapa kamu bilang." ucap varya berteriak ia tak habis pikir bagaimana bisa adiknya sampai sesantai ini "Jika kau ingin bertemu dengan yata belajarlah yang rajin, nanti jika kau sudah mendapatkan uang hasil kerja kerasmu carilah dia tapi, tidak sekarang, esok atau lusa. kakak akan membantumu jika kakak sudah diperbolehkan memegang kendali."lanjutnya lagi membelakangi vander


Vander seketika menoleh ke arah kakaknya karena telinganya baru saja menangkap nama yata yang di ucapkan dari mulutnya "Jangan menyebut nama yata lagi." ucap vander menekankan setiap kata-katanya


"Kakak nggak boleh menyebut nama yata lagi dari mulut kakak ataupun yang lainnya, yang boleh menyebut nama yata itu adalah .aku." protes vander sambil menunjuk dirinya sendiri

__ADS_1


"Bocah sialan, aku kira kau sudah bosan dengan yata." Ucap varya menggeplak kepala adiknya pelan dan kata-katanya terjedankarena lirikan mata vander


"Kakak." ucap vander mengelus-elus kepalanya lagi dan lagi kakaknya menyebut nama yata ia sebal sekali sudah dinperingati masih saja melawan


"Iya, kau itu baru berusia tujuh tahun belum saatnya kamu mengenal hal-hal seperti itu. itu belum menjadi ranah kamu." ucap varya memutar bola matanya serta mengacak-ngacak rambut adiknya dan membisikkan kata di akhir kalimatnya. ia menasehati adiknya seperti sendirinya tidak saja


Vander hanya menghela nafasnya kasar entah ia tahu maksud dari perkataan kakaknya atau tidak, keesokan harinya dia menjadi giat belajar dan karena semua mata pelajaran hampir mendekati sempurna ia menjadi bahan pembicaraan di sekolahnya terutama di kalangan para siswi di kelasnya, tak jarang semua guru memujinya bahkan ada teman perempuan vander datang mendekatinya hanya sekedar berbicara tentang pelajaran dan juga hal-hal pribadi


Setelah dia berusia empat belas tahun rasa rindunya kepada teman kecilnya semakin menjadi, sudah sekitar tujuh tahun dia tak mendapatkan kabar apapun dari kakaknya yang dulu pernah berkata akan membantunya, rasanya kata-katanya waktu itu hanya angin lalu.

__ADS_1


Vander yang saat itu sedang masa libur terpaksa mendatangi rumah mama dan papanya yang berada di luar kota, ia melanjutkan sekolah di desa neneknya ia tak mau ikut sekolah dengan kakaknya karena dia tak tega meninggalkan neneknya sendirian, dia tidak bilang neneknya jika dia akan pergi ke rumah mama papanya, dia hanya bilang kalau dia akan belajar bersama dengan teman-temanya dan dia juga berjanji kepada neneknya dia akan pergi sebentar, tidak akan lama


Dengan berbekal tas yang biasa ia kenakan untuk sekolah, dompet yang berisikan uang saku yang di kasih papanya dan juga handphonenya dia berangkat menaiki transportasi umum, sebenarnya papanya sudah menyiapkan sopir pribadi untuknya tapi itu terlalu beresiko sebab ia tak mau neneknya tau jika dia akan pergi sendiri hanya untuk menemui kakaknya


__ADS_2