
"Ander. aku besok, mau ikut ayahku pergi. apa kau tak mau memberikan sesuatu untukku?." ucap sesil ia tersenyum. vander yang mendengar namanya di sebut itu, ia berhenti berbalik menghadap sesil. jujur saja entah kenapa ia sangat senang sekarang. ia tersenyum menganggap omongan sesil ini hanya candaannya
"Memangnya kau mau pergi kemana?." tanya vander tersenyum sambil bersedekap
"Entahlah. aku tidak tau, pergi jauh mungkin." jawab sesil mengedikkan bahunya sambil berjalan mendekati vander yang agak jauh darinya
Bagi vander omongan sesil itu tak masuk akal. vander tak percaya dengan omongannya, baginya sesil hanya bicara ngelantur atau ini hanya akal-akalannya supaya ia bisa mendapatkan hadiah darinya. lalu ia mengacak-acak rambut sesil "sudahlah jangan banyak bicara. aku sudah lapar, ayo kita masuk." ajak vander sambil tangan sebelahnya mengapit leher sesil dan menariknya
__ADS_1
"Apa kau sungguh tak mau memberiku sesuatu." ucap sesil mendongakkan kepalanya. karena saat ini tingginya hanya sebatas dada vander. ia kewalahan menyeimbangkan langkah vander dan sambil memegang lengan vander. karena ia takut terjatuh jika sewaktu-waktu vander melepaskan tangannya yang mengapit lehernya
"Yata. jika kau besok jadi pergi. aku akan memberikanmu sebuah kalung." ucap vander tersenyum ia berhenti menarik sesil sambil berhadapan dengannya lalu memegang kedua bahunya dan memandangnya
"Benarkah. bisa aku terima sekarang." ucap sesil berbinar
"Tidak. kau akan menerimanya setelah makan siang bersamaku." ucap vander menggelengkan kepalanya lalu ia berjalan menggandeng sesil dan ia tak lagi mengapit lehernya. "Aku pulang." teriak vander ketika ia sudah masuk rumah nenek nya
__ADS_1
"Tidak nek. aku tadi di depan melihat ikan."jawab sesil dengan suara yang menggemaskan sambil tangannya menunjuk ke atas dan menyamping ke arah kolam renang. dan vander ia hanya bisa mengerutkan keningnya karena ia tak jelas sama sekali
"Yata. kolam ikan itu ada di sana." ucap vander sambil menunjuk ke arah kolam ikan itu. ia membenarkan perkataan sesil. sesil ingin sekali menjawab perkataan vander ia sudah menyiapkan jawabannya, tapi ia sudah lebih dulu mendengar suara tawa nenek parki. ia mengalihkan perhatiannya dan lupa dengan apa yang di katakan kepada vander
Nenek parki gelagapan mendengar jawaban vander ia buru-buru befikir dan tentu ia tau apa yang di lakukanya. sebelum ada pertumpahan darah antara cucu dan juga gadis kecil ini ia tertawa "hahaha. ya sudah ayo kita ke meja makan ya." ucap nenek parki berhasil melerainya. sesil ia cemberut. lalu nenek parki menggandeng tangannya, jadi ia di apit oleh nenek parki dan vander. vander, ia sungguh ingin tertawa sangat keras kali ini melihat sesil mencondongkan bibirnya. terlihat sangat menggemaskan. tapi ia tahan karena mata neneknya terus menatapnya. Al hasil ia hanya bisa menutup bibirnya supaya tawanya tidak meledak. Nenek parki sangat sebal terhadap vander. bisa-bisanya dia menyalakan api tanpa mau memadamkanya "Vander. ganti bajumu dulu sebelum pergi ke meja makan." perintah nenek parki memberikan sinyal darurat. sontak saja vander langsung berhenti tertawa. dan ia sudah menurunkan tangan yang tadi menutup bibirnya. ia menganggukkan kepalanya dan berlari pelan menuju kamarnya
Mendengar nenek parki berbicara seperti itu dan vander menuju kamarnya sesil teringat dengan hadiah yang di katakan vander untuknya "Ander. jangan lupa hadiahku ya." teriak sesil.
__ADS_1
Nenek parki lega mendengarnya. sesil tak lagi marah "Tuhan terima kasih engkau telah menolongku." ucap nya dalam hati. kali ini kepalanya tidak jadi pusing karena ia tak mendengarkan pertengkaran kecil di rumah ini
Sebelum tangan vander membuka pintu kamarnya, sesil lebih dulu memberinya aba-aba. vander tersenyum dan membalikkan badannya "iya. nanti, jika kau menghabiskan makananmu. ambil saja di kamarku." teriak vander lalu berbalik membuka pintu masuk kedalam kamar dan menutupnya, ia masih berdiri di balik pintu itu ia tersenyum "Dasar yata ini. mau minta hadiah dariku saja masih banyak alasan." gumam vander dari dalam kamarnya ia masih bisa mendengarkan teriakan sesil yang senang sekali. lalu ia bergegas mangganti bajunya