
Dengan bantuan temannya rencana untuk mengelabui nenek dan seisi rumahnya sukses besar, vander meminta temannya untuk datang kerumahnya dan menjemputnya agar tidak ada bukti penyalahgunaan kepercayaan juga bersih dari tuduhan kebohongan besar yang di layangkan untuknya, dia meminta temannya agar berhenti di dekat terminal
"Van, kau yakin berhenti di sini." ucap vano salah satu teman yang di percayai vander sambil menengok ke arah kiri dan kanan terminal terlihat sangat ramai
"Iya kenapa, kau mau ikut?" ucap vander melepaskan sabuk pengamannya
"Enggak, ini sangat ramai. apa nggak sebaiknya kamu aku antar sampai tujuan?" ucap vano khawatir, dia tak mau jika temannya ini menjadi korban penjambretan vander kan sudah menjadi pelaku utama kebohongan dan vano tak mau jika temannya ini mendapat masalah lagi. sungguh teman yang berbakti bukan.
"Nggak usah lah no, kau mau di curigai mereka. kalau mau ya nggak apa-apa." ucap vander santai tanpa memperhatikan temannya yang kesal
"Enak aja kalau ngomong, kamu yang jadi otak ujung-ujungnya pasti aku yang kena." ucap vano cemberut "Awas aja kalau kau sampai telat mengabariku, aku jadikan kamu perkedel." lanjutnya lagi mengancam dan menunjuk ibu jarinya ke arah vander. vano kerap sekali menjadi tumbal jika vander sudah merencanakan hal-hal di luar nalar. apa kalian pikir vander akan taku dengan ancaman vano? tentu saja tidak.
__ADS_1
Vander memutar bola matanya lalu ia membuka pintu mobil dan keluar "Iya-iya udah sana pergi." ucap vander mengusir temannya yang bagi vander cerewet mengalahkan emak-emak sales
BLAM
Vander menutup pintu itu dengan sangat keras dan nafas kedua orang yang ada di dalam mobil itu serasa di pompa
"Sialan kau, kau mau mati ya." Teriak vano dari dalam mobil dan sopirnya juga berjengit kaget memegangi dada dengan satu tangannya lalu menggelengkan kepalanya "Dasar kau teman tidak tau diri sama sekali, awas saja kau kalau tak bisa di hubungi, hei vander berhenti kau." lanjutnya lagi membuka kaca jendela mobil dan Vano mengeluarkan kepalanya menengok ke arah vander pergi
BRUK
"M-maaf paman, saya tidak sengaja." ucap vander terpental untung saja kakinya bisa menopang berat tubuhnya tapi, paman yang membawa barang bawaan itu barang-barangnya jatuh berhamburan
__ADS_1
"Tidak apa-apa nak, paman yang harusnya minta maaf." ucap paman itu membereskan koper besar berisikan baju-bajunya yang berserakan, vander niatnya ingin membantu tapi paman itu mengangkat satu tangannya memberitahu agar tak ikut membantu, vander pun mengerti alhasil ia hanya bisa diam memperhatikan paman itu membereskan baju-bajunya sendiri, ia terlihat tergesa-gesa dan karena hal itu vander jadi tak enak hati
"Saya minta maaf sekali lagi paman, saya tidak sengaja." ucap vander membungkukkan badannya, sungguh dia tak enak hati
"Ah iya tidak apa-apa, paman juga tidak terluka nak tidak usah begini, ya sudah paman pergi dulu ya." ucap paman itu di mata vander dia terlihat sangat aneh, lalu paman itu buru-buru pergi dari hadapannya. vander hanya mengedikkan bahunya dan dia langsung menaiki gerbong kereta itu, sebenarnya kereta yang di naiki vander saat itu adalah milik perusahaan papa vano jadi jika dia ingin berpergian keluar kota manapun dia tinggal bilang kepada temannya
Saat ini dia sedang duduk di kursi penumpang ia tidak mau menaiki kereta khusus yang di pilihkan papa vano untuknya dan alasannya "Saya ingin berbaur dengan semua orang, dayabtak mau di spesialkan dan saya ingin bebas seperti yang lain." dan perkataan vander kala itu langsung di iyakan papa vano
Ketika dia melihat ke arah keluar jendela, dia di kejutkan oleh seorang gadis yang sedang berteleponan tanpa menyapa dan di persilahkan dia lansung duduk di samping vander, sampai di tempat pemberhentian gadis itu masih tetap berteleponan "Dasar gadis telepon, sudah sampai terakhirpun masih saja tetap teleponan." batin vander sampai akhir mengamati mengamati gadis itu. ia turun dan keluar dari gerbong itu setelah itu ia menyetop taksi, vander mengatakan kepada sopir taksi itu untuk turun di Jalan Diponegoro No.2 dan sopir itu hanya menganggukkan kepalanya, tak membutuhkan waktu lama taksi itu sampai di tempat tujuan kediaman mama dan papanya. tanpa ada rasa curiga sedikitpun Vander langsung membayar ongkos taksi itu setelah itu ia turun dan masuk ke dalam rumah mama papanya
KRIING
__ADS_1
Setelah vander meninggalkan taksi suara telepon bapak taksi itu berbunyi, sebelum dia mengangkat telepon itu, bapak sopir menoleh ke arah tempat di mana vander turun, setelah memastikan aman dia merogoh ponselnya di saku celana dan menggeser tombol hijau