
Baru selesai menelepon, Ivander di panggil oleh neneknya ia pun masuk, lalu nenek Parki menyuruhnya memindahkan gadis itu kekamar tamu dan ia sudah menyuruh pelayan untuk membersihkan kamar itu "Vander, kau atau aku menyuruh pengawal untuk memindahkannya." ucap nenek Parki menyuruhnya, ia gemas dengan cucunya karena berdiri dan melihatnya saja, ia sama sekali tak ada inisiatifnya sendiri dan nenek Parki memberi pilihan pada cucunya.
"Biar aku saja." ucap Vander entah kenapa ia seperti tak rela melihat orang lain menyentuhnya, ia mengangkat dan memindahkan gadis itu kekamar tamu yang sudah di siapkan. Tentu saja itu membuat nenek Parki heran dan bertanya-tanya.
" Siapa sebenarnya gadis itu? kenapa dia jadi secemas ini? hm semenjak ia mendapatkan teguran dariku ia tak mau peduli yang namanya perempuan, atau jangan-jangan dia ini gadis kecilnya." ucapnya dalam hati karena ia tak pernah melihatnya sekhawatir ini pada seorang gadis, yang dia tau Vander tak akan peduli dengan wanita walaupun, wanita itu kesakitan ataupun sedang berpura-pura sakit di depannya. Terkecuali dia gadis kecil yang selama ini ia cari keberadaannya "Vander, sebenarnya siapa gadis ini?" ucap nenek Parki ia sangat penasaran sekali pada gadis itu. Sebab jika nenek Parki menyuruh mengangkat tubuh seorang gadis, Vander sama sekali tak menggubrisnya, Vander akan memilih pergi dari tempat itu.
"Jika aku tau, aku akan memberitahu nenek." ucap Vander sambil meletakkan gadis yang penuh luka itu ke tempat tidur dan nenek Parki menganggukan kepalanya.
"Iya ya benar juga melihat nya seperti ini, aku jadi tidak tega memberinya hukuman." batin nenek Parki.
Setelah itu nenek Parki menyuruh bi Meir membersihkan badanya Ivander pun keluar dari kamar itu, ia sedang memikirkan bagaimana nasibnya sekarang. Ia lupa, dulu dia pernah mendapat ceramah dari neneknya sampai sampai telinganya terasa panas, mungkin saja setelah ini ia akan di hukum oleh neneknya ia tak tau hukuman apa yang sedang menantinya dan ia baru saja ingat kalau dulu dia pernah tau kalau neneknya pernah mengatung-atungkan cambuk di depan matanya kemudian dia membayangkan kalau tubuhnya di cambuki, pasti akan sangat sakit sekali mengenainya, ia bergidik ngeri. Tak lama kemudian ia mendengar suara heli yang terbang di atas. ia tersenyum dan berjalan keluar.
Dari kejauhan Ivander melihat kedua pengawal kakaknya dan dokter Hesa berlari. masing-masing mereka menenteng tas pesanannya, karena saking banyaknya kedua leher pengawal itu ikut menjadi korban tentengan tas-tas titipanya itu.
"Selamat petang menjelang pagi tuan." ucap mereka berdua serempak, Hesa ia tidak ikut menyapa ia hanya diam dan membungkukkan badanya sedikit lalu Ivander menganggukka kepalanya.
"Masuklah, ada nyawa yang harus kau tolong." ucap Vander ia menyipitkan matanya kearah dokter Hesa, dokter Hesa menganggukan kepalanya dan masuk ke dalam rumah. meskipun mereka berteman, mereka juga harus bisa membedakan pekerjaan dan bukan pekerjaan bagi mereka itu ada waktunya sendiri. Tinggallah dua kurcica yang kekar dan berotot yang masih setia dengan tentengan yang berada di leher dan tangan mereka masing-masing. Setelah kepergian dokter Hesa, giliran mereka yang mendapatkan tatapan yang bagi mereka itu sangat mengerikan. Mereka hanya bisa menundukkan kepalanya.
__ADS_1
"Apa itu suruhan dari kakakku." ucap Ivander sambil mengernyitkan dahinya.
"Iya tuan muda." jawab mereka serempak.
"Kami di suruh nona muda Varya untuk memberikan ini pada anda." ucap Lifan ia menyerahkan tentengan yang ada di tanganya pada Vander, dan Vander menerimanya.
" Baiklah, taruh saja yang lain disitu, biar bibi Meir dan Melcy yang membereskannya." ucap Vander ia memeriksa tas itu sambil mengingat apa saja yang di perlukan gadis itu. "Hm, mulai dari pakaian dalam, celana, baju, dan untuk aksesoris nanti saja setelah ia bangun." ucapnya dalam hati ia tak malu karena kakaknya selalu menjadikannya troli berjalan setiap kakaknya belanja pakaian, kedua pengawal yang melihat tuan muda mereka memilah pakaian wanita hanya bisa menundukkan kepalanya kalaupun mereka berdua mengeluarkan suaranya tuan muda itu akan memukul mereka, semua yang di butuhkan sudah ditanganya ia akan membawa itu masuk dan ia teringat dengan orang-orang kakaknya "Oh iya, Marko suruh Hendra dan Seta turun dulu." ucap Vander sebelum masuk ke dalam rumah dan ia baru sadar jika kedua orang yang sedang duduk sila ini agak kesusahan melepaskan tentengan di leher mereka.
"B-baik tuan." ucap Marko berusaha melepaskan tas nya yang berada di leher. "kenapa mendadak susah begini ya, tadi kan bisa masuk. *K*og sekarang susah sih." batin mereka bersamaan. Marko, ia tak peduli dengan tentengannya ia segera melesat memanggil Seta dan Hendra. Kalau sudah mendapat perintah ia harus segera melaksanakannya. Begitulah kira-kira fikirannya.
"Oh astaga." gumam Vander melihat Marko berlari ia menggelengkan kepalanya dan menepuk jidatnya pelan "Lifan, sebaiknya kau ambil gunting untuk melepaskan tentengan yang berada di leher kalian." ucap Vander lalu ia masuk ke dalam kamar
Setelah Vander meninggalkan dua pengawal suruhan kakaknya, ia menyuruh bi Meir untuk membuatkan sarapan. Vander juga menyuruh bi Meir untuk membereskan barang belanjaan yang ada di belakang, mendengar perkataan tuan mudanya ia langsung meluncur ke sana.
"Iya tuan."ia menganggukan kepalanya dan pergi ke depan.
Vander meletakkan tas itu dimeja, ia melihat Hesa sedang memeriksa gadis itu dan juga neneknya "Oh tidak, setelah ini aku harus menyiapkan mental ku." ucapnya dalam hati melihat neneknya menatap gadis itu.
__ADS_1
Sedangkan nenek Parki, ia iba melihat gadis yang penuh luka itu. Sejenak ia melupakan kekhawatiran Vander, ia berjanji dia tidak akan mentolerir kesalahan cucunya dan dia melirik sinis ke arah nya dan vander, belum menyadarinya.
"Nek, Van kalian tidak perlu khawatir, gadis ini tidak apa-apa, dia hanya kecapean dan untuk lukanya, cukup bersihkan dengan cairan antiseptik dan di campur dengan air hangat, basuh dengan perlahan, atau kalau dia sudah sadar, suruh dia mandi dengan air hangat dan campurkan dengan cairan antiseptik biar lukanya cepat mengering aku akan meresepkan obat untuknya." ucap dokter Hesa lalu ia mengeluarkan kertas dan bolpoin mencatat resep obat yang akan di minum gadis itu.
"Tuhkan nek, dia tidak apa-apa. Dia baik-baik saja." sela Vander ia senang mendengar pernyataan dari Hesa lalu ia melihat kearah neneknya.
ZINGG
Ia mendapatkan tatapan mematikan dari neneknya, ia menciut kalau neneknya sudah seperti itu.
GLUP
Setelah sesaat merasa senang,
menelan ludah kemudian.
Ia seperti menelan sebongkah kerikil yang sangat runcing "N-nenek." ucap vander gelagapan. Hesa, ia hanya menjadi penonton dan pendengar. Ia tak mau menyela omongan nenek dan juga temanya sebelum di beri tanda.
__ADS_1
"Apakah itu benar? kau tidak membohongikukan karena bocah tengik ini." ucap nenek Parki, tatapanya tak lepas dari Vander. Jika ia melepaskan tatapannya maka Ivander akan memberikan sinyal rahasianya kepada temanya.
"Tentu saja nek, tadi aku sempat melihat kalau air dan juga kain yang ada di ember itu warnanya coklat seperti lumpur." ucap Hesa melihat baskom berwarna silver berisikan air dan juga waslap yang di pakai untuk membersihkan gadis itu.