Cinta Yang Kembali

Cinta Yang Kembali
Khawatir


__ADS_3

Tut tut tut..


Vander memencet nomor telepon kakaknya ia ingin meminta tolong padanya dan bunyi telepon itu sudah terhubung dengan kakaknya, tak lama kemudian telepon itu di angkat.


Varya masih sangat mengantuk sekali, kenapa harus ada suara telepon di pagi-pagi buta begini, ia tidak tau siapa yang meneleponnya matanya masih terpejam ia meraba-raba meja di samping mencari handphonenya dan, ketemu. dengan sangat malas ia menjawab telepon itu.


"Hallo." ucapnya dengan suara yang serak.


"Hallo kak ini aku, tolong suruh sekertaris atau siapapun itu untuk datang ke rumah nenek, dan bawakan baju wanita kira-kira ukurannya sama seperti kakak. Jangan di tunda lagi." ucapnya dengan kata penuh penekanan.


Deg deg deg deg


Varya tentu ia kaget setengah mati, jantungnya terasa akan jatuh menimpa lambungnya. Ia sangat lemas, ia butuh minum sekarang,sontak saja ia langsung bangun.


"A-apa," ucapnya. seketika matanya terbuka lebar, ia tidak jadi mengantuk saat ini "Vander, apa yang sedang kau lakukan. Hah. Awas kau, jika kau macam-macam aku sendiri yang akan menendang mu." lanjutnya berteriak.


"Kakak, kakak bisa bicara pelan sedikit tidak sih gendang telingaku akan berlubang jika seperti ini." ucap Vander ia menjauhkan telepon itu dari telinganya.


"Kau.." ucap varya terputus "Dasar adik durhaka." ucap varya dalam hati.


"Kak, aku hanya ingin kakak menyuruh sekertaris kakak membawa baju-baju wanita lengkap, sudah itu saja ya kak aku akan menelepon Hesa." ucap Vander buru-buru.

__ADS_1


Tut


Telepon di matikan secara sepihak oleh adiknya dan Varya ia jengkel setengah hidup


"Dasar adik tak tau diri awas kau ya, jika kau melakukan sesuatu yang tidak-tidak lagi, aku sendiri yang akan mengirimu ke ruang angkasa." gumam varya lalu ia menelpon sekertaris di untuk membeli pakaian dan megirimkanya ke rumah neneknya.


Vander juga harus menelpon Hesa teman sekaligus dokter pribadinya, ia juga harus memastikan keselamatan gadis itu, apakah ada luka serius atau tidak. sedangkan dokter Hesa saat ini, ia sedang berkumpul dengan teman-temannya di ruang perawat bersiap-siap akan mengontrol pasien tak sengaja ia juga mendengarkan berita kecelakaan di tv itu.


"Hallo." ucap dokter hesa.


"Bisa tidak bisa, kau harus datang ke rumah neneku sekarang juga, bawa semua perlengkapan medismu kesini." ucap vander dengan sedikit memaksa, ia tak membalas sapaan temannya.


"Kebiasaan, selalu saja seperti ini." ucap nya dalam hati "Maaf nih Van, bukanya aku tak bisa, karena di jalan batu angin menuju desa awan ditutup."geram dokter hesa sambil menahan nafasnya.


"Ada perbaikan jalan di daerah itu." jawab hesa.


"Hm, ya sudah kalau begitu, kau ikut dengan orang kakak, aku mau kau tiba di sini dalam waktu dua menit dari sekarang." perintah Vander yang tak bisa di ganggu gugat. Hesa, ia mati membeku saat ini.


"A-apa." ucap nya dalam hati. "T-tapi." Hesa yang belum sempat melanjutkan kata-katanya ditelepon itu sudah lebih dulu di matikan oleh vander "Sial, bahkan lift saja membutuhkan waktu dua puluh menit jika aku terjebak di dalamnya." gerutu hesa dokter Hesa mengurungkan niatnya yang akan bersiap-siap memeriksa pasien di karenakan ini lebih darurat dari apapun, kalau ia membantah perkataanya nya bisa-bisa besok saham di rumah sakitnya akan anjlok dan ia tak mau itu terjadi, tanpa pikir panjang dokter Hesa meleset ke ruangannya.


"Dokter Hesa." teriak perawat Ara, perawat Hudson dan Rega kaget mendengar teriakannya. Tak ada jawaban sama sekali dari dokter hesa, yang ada hanyalah lambaian tangannya yang berbicara "Sial, selalu saja seperti ini." gumam perawat Ara, Hudson dan Rega menepuk pelan bahunya. Pasalnya ini bukan pertama kalinya dokter Hesa melalaikan tugasnya.

__ADS_1


Sampai di ruangannya, ia mengambil tasnya lalu pergi ke atas atap rumah sakit, ia sudah mengerti perkataan Ivander jika harus ikut dengan sekertaris kakaknya yang berarti ia harus lewat udara jika jalan yang biasa di lalui di tutup. Tepat ketika dokter hesa membuka pintu yang berada di atas atap helikopter itu mendarat dengan sempurna dan dua orang berbadan besar itu keluar membuka pintu dan mempersilahkan teman tuanya itu untuk masuk.


"Apakah anda baik-baik saja tuan." tanya Marko pengawal kakak Vander, marko yang melihat dokter hesa ngos-ngosan ia langsung bertanya, ia takut kalau teman tuanya itu langsung tak sadarkan diri detik ini juga dan ia akan bersiap-siap untuk menggendongnya, mendengar pertanyaan itu Hesa langsung menoleh ke samping dimana Marko berada.


"Apa kau berharap kalau aku ini tidak baik-baik saja Mark, kau lihat aku ngos-ngosan, kau tau aku seperti di kejar anjing dan di belakangnya ada singa." ucap dokter Hesa dengan nafas yang naik turun sementara itu Marko dan temanya hanya mengernyitkan kan dahinya.


"Mana ada anjing dan singa yang sedang berlarian di dalam gedung rumah sakit, jika ada pun tuan dan nyonya pasti tak akan tinggal diam, kalau ada kenapa mereka yang ada di dalam tidak panik dan keluar dari rumah sakit." batin Marko dan Lifan bersamaan. Ia bingung dengan teman tuannya ini.


Lalu dokter Hesa tidak sengaja melihat lima puluh lebih paperbag yang berada di depanya.,Ia mengabaikan tatapan bingung dari dua pengawal yang beda ras itu


"Hey Lif, itu isinya apa?" tanya Hesa penasaran.


"Oh ini, nona Varya yang menyuruh kami untuk antarkan ke rumah nyonya nenek." ucap Lifan dan Hesa menganggukan kepalanya.


Tak lama kemudian helli itu, sampai di belakang rumah milik nenek Parki. Kebun yang sudah di perluas itu juga di bangun landasan helikopter pribadi miliknya, pak Hendra dan pak Seta selaku pilot dan co-pilot mendaratkan hellikopter itu dengan sempurna, tepat berada di atas landasan helipad, setelah mesin di matikan dokter hesa yang di apit Marko dan Lifan itu keluar.


"Dokter Hesa, aku titip tas-tas ini ya, tolong kau kasihkan ke tuan muda." ucap Lifan sambil menenteng paperbag pesanan tuanya. dokter Hesa yang kakinya sangat ingin menyentuh tanah itu, ia urungkan karena mendengarkan perkataan Lifan.


"Aku akan membantumu membawakan satu, sisanya kau dan temanmu yang akan membawanya, ia menengok ke belakang, mengambil satu paper bag "Kau lihat, aku juga membawa tasku sendiri." lanjutnya lagi sambil menunjukkan tas hitamnya "Cepatlah kalian, waktu kita tidak banyak." lanjutnya lagi ia keluar dan berlari menuju rumah nenek parki di ikuti Marko dan Lifan di belakang.


Di dalam rumah

__ADS_1


Ivander yang saat itu mondar-mandir karena gelisah memikirkan bagaimana nasibnya setelah ini. ia tersenyum mendengar suara helikopter yang mendekat "Akhirnya mereka datang juga." gumam Vander.


__ADS_2