Cinta Yang Kembali

Cinta Yang Kembali
Terpana dengan nona tidur


__ADS_3

"Kau tau kan Van, seperti dia terjatuh dari atas, guling-guling-guling."lanjutnya lagi sambil menggerakkan tangannya dan dia menatap lurus ke arah gadis yang masih tertidur itu. Mereka berdua serempak melihat ke arah dokter hesa dan mendengarkan perkataanya, setelah itu nenek Parki melirik kearah Vander.


"Pasti bocah tengil ini yang mendorong nya." ucap nenek Parki dalam hati dengan menatap sinis ke arah Vander. Ia masih belum mengerti situasinya dan dia masih salah paham dengan cucunya. Vander gelagapan. Nenek Parki tau Vander akan memberinya penjelasan, ia segera bicara sebelum keduluan oleh Vander. Nenek Parki menyelanya duluan.


"Vander, nenek tidak akan memaafkanmu jika gadis ini belum bangun." ucapnya dengan menekankan perkataanya.


Dokter Hesa, ia hanya bisa menepuk jidatnya pelan dan menggelengkan kepalanya "Entah sejak kapan, kedua orang ini mengirimkan sinyal yang berbahaya seperti ini." ucapnya dalam hati ia belum sempat melanjutkan perkataannya. Vander menatapnya dengan tatapan mematikan. Dokter Hesa, tentu saja ia tak takut. Hanya dialah yang berani dengan tatapan yang meresahkan itu, karena dia sudah biasa. Bila yang lain melihatnya, mereka pasti akan mengompol di tempat.


"Kenapa kau berbicara setengah-setengah. Kau tau, nyawaku sekarang berada di ujung tanduk." ucapnya dalam hati. Dokter Hesa yang tau bakalan akan seperti itu ia hanya bisa mengedikkan bahunya.


"Kau harus merawatnya sampai sadar, atau kau akan tau akibatnya." ucap nenek Parki.


"Apa! aku di suruh merawatnya, yang benar saja, bahkan aku tak mengenalnya sama sekali." ucap Vander dalam hati matanya melotot mendengarkan perkataan neneknya.


"Melcy." nenek Parki memanggil pelayan wanita.


"Iya nyonya." ucap Melcy menghampiri nyonya nenek.

__ADS_1


"Kau gantikan pakaian gadis ini, tanya bi Meir di mana dia meletakkan pakaian itu." perintah nenek Parki pada Melcy, Melcy menganggukkan kepalanya Vander yang mendengarkan perintah neneknya ia langsung bersuara sebelum Melcy pergi.


"Melcy aku sudah membawakannya pakaian kau tak perlu keluar lagi mencari bi Meir." ucap Vander sambil menyerahkan tentengan tas itu pada Melcy.


"Hmm cepat juga dia." batin nenek Parki sambil menyunggingkan senyumnya.


"Baik tuan muda." ucap Melcy ia menganggukkan kepalanya dan menerima tas itu kemudian ia melangkah mendekati tempat tidur gadis itu.


"Apa kalian berdua masih ingin tetap disini dan melihat tubuhnya." ucap nenek Parki menekankan perkataanya ia melirik ke arah dua orang pria yang ada di sampingnya, kedua pria itu gelagapan melihat tatapanya dan Vander ia salah tingkah mendengar perkataan neneknya.


"Ah ya baiklah, kita akan keluar." ucap Vander di angguki dokter Hesa ucapan Vander sudah mewakilinya lalu mereka melangkah keluar dari kamar gadis itu dan Vander berhenti sejenak, ia menyempatkan dirinya melihat gadis itu sebelum ia sampai di ambang pintu yang di bukakan lebih dulu oleh dokter Hesa. tanpa ada yang menyadarinya dia tersenyum "Cantik." batin Vander, sudah sekian lama sejak dia di ceramahi neneknya, ia tak pernah lagi menggoda seorang gadis yang hanya sekedar ingin tau kalau dia gadis kecilnya atau bukan. Ia cenderung tertutup dengan mereka terkecuali dengan kakak, ibu dan juga neneknya, lalu dia menutup pintu itu.


Vander masih berdiri di depan pintu yang sudah tertutup itu. "Kenapa dia tidak asing ya? aku seperti kenal lama dengannya." ucap Vander dalam hati, ia melamun memikirkan gadis itu "Dia sebenarnya siapa ya?." gumamnya pelan.


"Hei, kenapa kau." ucap dokter Hesa yang melihat sahabatnya melamun dan ia berinisiatif mengagetkannya. Dokter Hesa berhasil. Vander menjengit kaget.


"Si alan." gumam Vander. "Dia mengagetkanku." lanjutnya dalam hati ia tak mau mengatakannya karena ia akan ditertawai oleh temannya itu. Benar saja dia tersenyum kecil, dan Vander menatapnya dengan tatapan tak suka. Ia bersidekap menyandarkan tubuhnya ke dinding dekat pintu. dokter Hesa yang tau itupun ia langsung bertanya.

__ADS_1


"Kau itu kenapa, kenapa kau berdiri saja disitu, kau tak duduk." tanyanya beruntun dan Vander ia tak menjawab pertanyaan dokter Hesa.


SNIF SNIF SNIF


Tiba-tiba dokter Hesa mengendus-endus ruangan yang di penuhi dengan aroma lezat


"Van, nyium bau ini nggak." ucap dokter Jesa mengendus undus.


"Nyium bau, bau apa." ucap Vander ia tidak mengerti kode yang di berikan dokter Hesa "Apa kau baru saja buang angin alamimu." lanjut Vander dengan tatapan menyelidik "Kalau iya, pergi kau dari sini." ucapnya lagi sambil mencapit kedua hidungnya dengan kedua jari tangannya. Karena dulu dia pernah di kerjai. Ia di suruh menghirup aroma yang katanya segar dan ternyata baunya sama sekali tidak enak dan itu seperti telur busuk. Ia muntah-muntah karena itu dengan bodohnya Vander menurut dengan perkataan nya.


"Enak saja kau kalau bicara." ucap dokter Hesa ia terperangah mendengar perkataan temannya itu. Ia tak habis pikir kenapa bisa temannya berbicara seperti itu "Jangan-jangan dia teringat masa sekolah dulu yang pernah aku kerjai." ucapnya dalam hati ia miris sekali melihat keadaanya dulu saat ini ia hanya bisa menggelengkan kepalanya dan dia pergi ke arah dapur.


"Ei, mau kemana kau." terik Vander


"Aku mencium bau yang bisa memanjakan hidung dan Lidahku kawan." ucap dokter hesa berbalik dan mengangkat satu tangannya. Vander, ia hanya menggelengkan kepalanya. Temannya ini benar-benar.


Sepeninggal dokter Hesa ia duduk melamun memikirkan gadis yang baru saja ia tolong "Apa aku harus mencaritahunya." ucapnya dalam hati lalu merogoh saku celananya.

__ADS_1


Di dalam kamar Melcy sedikit terusik dengan kecantikan nona yang sedang tertidur ini. Bagaimana tidak, cuma di bersihkan dengan air hangat saja wajahnya langsung putih bersih tanpa ada polesan sedikitpun. Sedangkan dirinya, harus cuci wajah dengan sabun kalau tidak wajahnya akan tumbuh jerawat dan dia juga harus memoles wajahnya agar tidak kusam "Apakah aku harus mencuci wajahku dengan air hangat ya." batin Melcy dilema. Ia ingin cantik seperti nona tidur ini tanpa polesan apapun "Jangan ah, nanti bukan tambah bening, tapi malah wajahku di penuhi bebatuan." batin Melcy.


__ADS_2