
"Non jangan khawatir, non harus yakin dan harus berdoa ya." ucap pak Hamid
"Apa nggak ada cara lain selain melompat dari mobil ." ucap sesil menangis
"Tidak ada non hanya itu satu-satunya jalan, non jangan terlalu khawatir ya ingat ,non nanti setelah non keluar dari mobil ini, non harus lari sekencang-kencangnya, jangan pernah menengok ke belakang walaupun non sesil mendengar suara-suara bising dan jangan lupakan pesan bapak non, kalung itu jangan pernah terlepas dari genggaman non sesil. apa non mengerti." tanya pak Hamid dengan menekankan setiap katanya. sesil pun mengangguk mantap
"Baiklah pak, saya akan mengikuti kata-kata bapak." ucap sesil dengan nada suaranya yang sangat yakin dan mantap dan ekspresi itu tak luput dari pengawasan pak Hamid yang sedang menengok ke arah belakang
"Hm sepertinya aku pernah melihatnya, tapi di mana ya?." ucapnya dalam hati sambil mengingat-ingatnya. karena melakukan hal ekstrim itu ia sedikit melupakan sahabatnya.
Dua detik kemudian..
"O iya aku ingat. inod. dia memang benar-benar persis seperti inod." lanjutnya dalam hati yang sudah mengingat sahabatnya "semoga saja itu hanya ekspresi nya saja, tidak dengan kekonyolannya yang suka sekali meledekku." lanjutnya lagi dalam hati. ia sudah mengingatnya. ia miris sekali mendengar ledekan sahabatnya
Ketika mobil sudah melewati belokan, pak Hamid dan sesil menarik nafasnya dalam-dalam. deg deg deg deg itulah yang saat ini sesil rasakan tidak dengan pak hamid
"semoga saja calon menantuku nanti tidak bertemu dengan orang yang salah, setelah ini aku harus menghubungi sergan." ucap nya lagi dalam hati di saat seperti ini ia tidak memikirkan keselamatannya sendiri tapi keselamatan calon menantunya
__ADS_1
"Semoga saja setelah aku melompat dari sini, aku masih bisa berjalan. oh ya tuhan, tadi pak hamid bilang ia menyuruh ku untuk berlari semoga saja aku masih bisa." ucap sesil dalam hati sambil melihat ke arah luar dari dalam jendela mobil "sangat menyeramkan." pikirnya dia baru pertama kalinya melakukan hal ini di sebelahnya itu terdapat jurang yang menurut sesil dalam
"Tunggu aba-aba dari bapak ya non." ucap pak Hamid dan di angguki oleh sesil
"Semoga saja badanku tidak terbelah setelah aku keluar dari sini." ucap sesil dalam hati
"Siap 1, 2.." pak hamid mulai menghitung dan menjeda sejenak. sesil pun tak akan menyia-nyiakan kesempatan yang sangat singkat itu. sesil bersiap-siap melepas sabuk pengaman yang melekat di tubuhnya dan melihat barang-barang yang ada di dalam tasnya tidak tertinggal juga mengecek pintu mobil agar nanti bisa keluar dengan lancar dan memastikan tidak ada yang tersangkut karena ia sekarang memakai dres panjang yang menutupi kaki hingga ke tumitnya
"3." pak hamid memelankan laju mobilnya dan mendorong nya keluar "lari yang kencang non dan jangan pernah menoleh ke belakang." teriak pak Hamid dan di iringi suara teriakan sesil. lalu ia melajukan mobilnya lagi
drug drug drug drug
Suara-suara bising itu menyadarkannya. dia berusaha bangun dan berlari mengabaikan rasa sakit yang berada di sekujur tubuhnya.
ia berlari, berlari dan terus berlari tanpa tau arah dan tujuan menyusuri pepohonan yang berjejer seakan pohon itu sedang berbaris, melewati jalan setapak yang gelap ia tak peduli dengan rasa perih dan nyeri yang ada di tubuhnya. sampai dia lelah dan berjalan dengan tertatih-tatih. nafasnya terasa terputus-putus dia berhenti sejenak dan memegangi dadanya yang mendadak seperti terserang asma, ia bersandar di pohon dan tertunduk
"Tidak, aku tidak boleh berhenti di sini." ucap sesil ia terengah-engah, tubuhnya seperti sudah kehabisan tenaga "ayo sesil bangun, dan berlarilah." ucap sesil ia menyemangati dirinya sendiri ia mencoba berlari lagi tapi tak sekencang tadi.
__ADS_1
"Mama, papa, kakak. sesil tidak kuat lagi untuk berlari, sesil capek." ucap sesil di kala dia akan berhenti ia akan memejamkan matanya
BRUK
Sesil jatuh tengkurap ia pingsan, dia sudah tidak kuat lagi kakinya tak bisa lagi menopang berat tubuhnya, ia memutuskan untuk tidur sejenak di sini, di tanah yang dingin dan penuh dedaunan. bukan di kasurnya yang empuk, ia sudah tak peduli jika nanti ada orang jahat atau binatang buas yang akan menangkapnya, ataupun ia di makan saat itu juga, karena saat ini tubuh sudah mati rasa
ZRAASH
sampai akhirnya hujan turun membasahi tubuhnya, tanah yang semula sudah dingin kini menjadi lebih dingin dan becek. sesil, ia sungguh tak perduli ldan dia tak sadarkan diri sekarang. dia sudah terlalu lelah.
Tiga jam pun berlalu ia membuka matanya " aduh, di mana ini."ucap sesil ia merintih kesakitan ia belum sadar sepenuhnya lalu dia mecoba bangun dan duduk sebentar dia menoleh ke kanan, ke kiri dan bawah "pohon, dan aku duduk di atas tanah becek". batin sesil tiba-tiba dia teringat oleh perkataan pak Hamid
"jadi semalam, bukan mimpi." ucap sesil kaget. dia mencoba bangun "tapi bagaimana keadaan pak hamid." tanya sesil, ia bingung antara kembali atau tidak "tidak-tidak, aku tidak boleh kembali ke sana, aku harus mencari pertolongan." ucap sesil ia berlari beda arah. dia tiba-tiba berhenti karena dresnya yang mekar itu tersangkut ranting ia langsung menarik dres mahal itu dengan sisa kekuatannya. ia tidak peduli jika dres itu akan robek yang terpenting untuk saat ini ia harus berlari dulu. ia mengabaikan kondisinya saat itu rambut yang setengah mengering karena terkena air hujan bercampur keringat, badan yang lengket, luka di sana-sini, baju yang basah dan berlubang di sana-sini, di sertai dinginnya malam. ia terus berlari dengan sisa-sisa tenaganya yang belum pulih sepenuhnya. sampai ia terengah-engah tertunduk memegangi dadanya kembali "tidak, aku tidak boleh pingsan lagi di sini ya Tuhan tolong kuat kan aku." ucapnya dalam hati tak lama ia melihat ada lampu-lampu yang berjejer. seperti terlihat agak jauh "ah, syukurlah ada cahaya." ucap sesil senang. ia setengah berlari. lemas, itu yang dia rasakan saat ini. sambil menahan nafasnya yang terengah-engah. sampai akhirnya lampu-lampu itu dekat ia berjalan dengan gontai. menyandarkan tubuhnya ke tembok pagar. dadanya terasa sesak dia mencoba menghirup udara melalui hidung tapi mulut nya ikut terbuka dan mengeluarkan suara sesaknya. ia seperti tak bisa bernafas untuk saat ini. sepi, sunyi itu yang ia tau di sini
"Kenapa tidak ada orang di sini." ucap sesil dalam hati "tolong." ucap sesil yang teriakannya hanya di dengar olehnya ia tidak sanggup untuk berteriak "tolong aku siapapun itu." ucap sesil menangis mencoba menahan nafasnya yang terasa sesak seakan mau sekarat. ia mecoba berjalan barang kali ada orang di depan sana. ia ingin berteriak sekali lagi, berharap teriakannya kali ini bisa di dengar oleh seseorang yang ada di dalam rumah dan keluar untuk membantunya "toloong." teriak sesil di akhir sisa-sisa nafanya
BRUK
__ADS_1