
"hm. kau benar juga ya." ucap pak Hamid sambil berfikir "apa yang harus kita lakukan dengan benda ini syeran." tanya pak Hamid sambil memandangi kamera kecil itu
"bapak tenang saja. saya sudah mereset benda yang anda pegang. jadi saya hanya ingin mencuri dengar sedikit saja."ucap syeran. ia berhasil memasuki keamanan benda kecil itu. "sungguh, kata sandi yang sangat merepotkan." ucapnya dalam hati "jadi. Anda tak perlu khawatir. anda bisa meletakkannya kembali." ucapnya lagi
"apa kau bilang? aku tak perlu khawatir." teriak pak Hamid tidak sadar kalau dia berada di area salah satu musuhnya "aduh mulutku ini. kenapa aku berteriak sih." gumam pak Hamid ia baru sadar. dan hal itu bisa di dengar oleh syeran. ia mengernyitkan dahinya
"anda tenang saja. walaupun anda berteriak sampai suara anda habis, mereka tidak akan bangun sampai besok pagi." ucap syeran
"hm baiklah kalau begitu. aku akan meletakkannya kembali." ucap pak Hamid sambil melengketkan kembali alat itu kembali ke tempat semula
"o iya pak inspektur. saya sudah menon aktif kan peledaknya dan mengalihkannya di komputerku. ternyata peledak yang mereka selipkan itu memakai remot dari jarak jauh. dan itu bisa membuat anda tenang." ucap syeran pak Hamid ia bisa bernafas lega mendengarnya. ia sangat bersyukur mempunyai anak buah yang setia padanya
__ADS_1
"hm syeran kau tau. jika nanti misi ini berhasil aku akan menghadiahkan sesuatu untukmu." ucap pak Hamid sambil memasang cctv dan kamera tersembunyi di setiap sudut. setelah selesai ia berjalan meninggalkan tempat itu ia ingat jika. ia tak pernah lagi memberinya hadiah semenjak syeran lulus sarjana. ia sudah menganggapnya seperti saudara dia sendiri
"apakah itu benar pak." ucap syeran berbinar ia senang jika itu tentang hadiah dari pak inspektur yang sudah menjaganya sejak ia berumur empat tahun
"iya, kau boleh minta apa saja dariku nanti. tapi kau jangan mengecewakanku" ucap pak Hamid yakin
"hm. siap pak saya tidak akan mengecewakan bapak." ucap syeran mantap dan hal itu membuat pak Hamid senang. senang karena ia memiliki bawahan seperti syeran lalu ia menutup telepon ketika ia mendekati ibunya
"ada sedikit ranjau. tapi ibu tak perlu khawatir." ucap pak Hamid nenek parki mengernyitkan dahinya sedangkan pak Hamid tau dengan tatapan ibunya. dia ingin tau sebenarnya ranjau apa yang membuat anaknya itu berlama-lama di dalam sana " ibu. ibu tau kan kalau ibulah yang aku percaya di sini. aku tak mau siapapun tau." ucap pak Hamid ia merengek seperti bocah kecil lalu ibunya hanya menganggukkan kepalanya
"hm baiklah. aku tak akan bertanya padamu." cukup cerdas juga dia. dia bisa memahami situasi saat ini.
__ADS_1
"baiklah. aku akan pulang sekarang. ibu tidurlah." ucap pak Hamid sambil bersiap-siap
"apa kau tak mau menginap di sini?." ucap nenek parki yang mengira jika anaknya akan menginap
"tidak Bu. istriku tidak ada di sini." ucap pak Hamid "jika nanti tugas ku selesai aku akan menginap di sini bersama keluargaku." ucap nya lagi dan nenek parki mengernyitkan kan dahinya lagi "oh astaga." ucap pak Hamid dalam hati ia menepuk dahinya pelan. ia tau bakal terjadi seperti ini. karena tatapan ibunya mengatakan "apakah itu benar. beri aku jawaban yang tepat." begitulah kira-kira. "ibu jika nanti aku menginap di sini mereka akan lebih waspada kepadaku. tapi ibu tenang saja aku sudah memasang cctv dan kemera tersembunyi di setiap sudut." ucap nya sambil berbisik kepada ibunya dan iya hanya menganggukan kepalanya
"sebenarnya apa yang kau rencanakan kali ini." ucap nenek parki meihat gelagat putranya yang mencurigakan dan pak Hamid menghelakan nafasnya kasar kali ini ia harus menceritakannya pada ibunya
"apa ibu ingat inod." ucap pak Hamid dan nenek parki mengingat-ingat itu
"inod. inod prasetyo." ucap nenek parki pak Hamid menganggukan kepalanya. lalu pak Hamid menceritakan kepada ibunya tentang ia di ikuti seseorang juga kemungkinan besar orang itu memata-matai keluarganya dan rencana yang sangat besar untuk menangkap si pelaku yang sebenarnya tapi pak Hamid tidak menceritakan jika ini akan melibatkan dirinya dan putri inod karena ia tak bisa memastikan kalau calon menantunya itu akan baik-baik saja. dan ia juga mengatakan kalau ini berhasil putrinya akan menjadi menantunya
__ADS_1
FLASHBACK OFF