
Pak Sharman menutup pintu ruangan pak hamid ia bernafas lega "hHuft ya ampun, aku kira akan ada perang ternyata mereka sedang latihan, tapi kenapa yang kesakitan cuma pak inspektur dan temannya tidak, ah sudahlah, jangan dipikirkan itu urusan mereka, yang terpenting sekarang kerja." gumam Sharman ia kembali ke mejanya.
"Hufft." pak Hamid menghela nafasnya lega kecuali pak Inod ia yang memukul tapi dia terlihat biasa-biasa saja, seperti tak memiliki dosa sedikitpun. pak Hamid memperhatikan itu ia melepaskan rangkulannya dan memukul pelan lengan pak Inod.
"Heh, gimana aktingku barusan hah." ucap pak Hamid menarik turunkan alisnya.
"Kau sudah pantas mendapatkan piala oscar yang tahun lalu." ucap pak Inod dengan wajah lempeng nya lalu ia berlalu dan duduk di kursi.
"A-apa, apa maksud nya ya piala Oscar yang tahun lalu." gumam pak Hamid "Ei nNod, apa aku tak pantas mendapatkan kan piala oscar itu yang sekarang." ucap pak Hamid berlalu ia ikut duduk di samping pak Inod, dan pak Inod hanya mengedikan bahunnya sambil membuka majalah yang berada di bawah meja pak Hamid yang tak mendapatkan jawaban dari mulut pak inod itu cemberut.
"Bagaimana apa kau setuju dengan permintaanku tadi jika tidak, ya tidak apa-apa anakku yang akan mengejar anakmu. Aku pastikan itu sampai ke ujung dunia sekalipun." ucap pak Hamid pak Inod diam fikirannya pun sama dengan pak Hamid tapi iya hanya pura-pura berfikir dan menekan rasa senangnya itu. Supaya tidak menjadi bahan ejekannya.
"Hm okey, tak masalah kita jadi besan." ucap pak Inod, pak Hamid ia tersenyum mendengar perkataan sahabatnya, tetapi senyuman pak Jamid hanya terjadi beberapa saat saja "Tapi." lanjut pak Inod, seketika senyuman pak Hamid itu musnah. Hilang entah kemana mendengar perkataan sahabatnya.
"Apakah ada syarat yang harus di tempuh anakku, oh ya Tuhan semoga saja syarat itu gampang tidak susah." batin pak Hamid mendongakkan kepalanya ke atas belum apa-apa dia sudah berfikir yang tidak-tidak
"Tapi apa Nod." lirih pak Hamid. Ia takut. takut akan ombak tsunami itu akan menelannya hidup-hidup.
"Ini kau baca sendiri." ucap pak Inod ia mengeluarkan kertas yang ada di dalam sakunya, menyerahkan foto copyan surat wasiat dari ayahnya kepada pak Hamid.
"Jika anak perempuanmu belum genap berumur dua puluh tahun dia tidak bisa atau belum berhak memimpin di perusahaan diamond corp. Jika anak laki-lakimu belum genap usia dua puluh satu tahun dia tidak bisa atau belum berhak memimpin di perusahaan. Aku ingin salah satu dari anak laki-lakimu memimpin di kantor pusat dan salah satu dari anak perempuanmu memimpin di kantor cabang, jika sesuatu terjadi dengan salah satu anak perempuan yang kau tunjuk menjadi pemimpin itu jatuh sakit, kecelakaan atau paling parah nya sampai meninggal kantor itu harus di jual dan uang hasil penjualannya di sumbangkan kepada panti asuhan. Sedangkan untuk anak laki-laki yang kau tunjuk. jika dia jatuh sakit, kecelakaan atau meninggal kantor itu akan tetap berada di bawah kendali mu dan selanjutnya akan menjadi hakmu beserta tambangnya, dan inod anakku kau bisa mengumumkannya jika usia anak laki-lakimu berumur dua puluh dua tahun dan anak perempuanmu berusia sembilan belas tahun. surat ini dibuat sesadar-sadarnya oleh Ramansya Arsya Chole
ttd
__ADS_1
Ramansya Arsya Chole
"Nod, dari dulu kau sudah jadi orang kaya ya." ucap pak Hamid kagum. Ia tidak percaya, jika ia mendapatkan durian runtuh beserta akarnya. Ternyata ketakutan dan kekhawatiran yang seperti di telan ombak tsunami tidak membuahkan hasil ia bisa bernafas lega sekarang.
"Itu bukan milikku, itu milik ayahku." ucap pak Inod dengan tatapan sinisnya. pak Jamid tidak menanggapi perkataanya ia masih terkagum-kagum membaca surat wasiat itu.
"Ayahnya pemilik tambang berlian, sedangkan anaknya pemilik tambang batu bara, sedangkan aku. aku pemilik tambang emas. jika kita menjadi satu maka, wow.. ini hebat. sungguh-sungguh hebat." batin pak Hamid sambil mengusap-usap kedua tangannya sambil tersenyum.
"Apa yang di lakukan oleh manusia ini ." batin pak Inod karena perkataannya tidak ada respon sama sekali, ia memperhatikan sahabatnya itu dan ternyata dia bertindak di luar nalar. Kenapa bisa ada manusia seperti itu. lalu ia melihat sahabatnya itu mengeluarkan ponsel dari saku celananya. "Mid, kau mau apa." tanya pak Inod.
"Seperti yang kau suruh, aku akan menyuruh anak buahku untuk memata-matai di sekitar rumah dan perusahaanmu, apakah kau sudah menyuruh orang untuk menjaga dan memata-matai anak-anakmu." ucap pak Hamid pak Inod cuma menggelengkan kepalanya. Bagaimana bisa dia menyuruh seseorang jika di sampingnya saja berkeliaran banyak lalat bisa-bisa anaknya akan di bantai habis-habisan.
"Ini yang aku harapkan dari mu." ucap pak Inod menyungging kan sebelah bibirnya.
"Apa pun itu, asalkan keluargaku tidak ada yang terluka."ucap pak Inod.
"Maaf-maaf saja nod, ini akan sedikit menggores tubuh calon menantuku." ucap pak Hamid.
"Apa maksudmu." ucap pak inod tanpa ekspresi sedikitpun.
"Aku akan memancingnya menggunakan calon menantu yang aku pilih, tapi kau tenang saja aku sendiri yang akan memastikannya berada di tempat yang sangat tepat dan bertemu dengan orang yang tepat." ucap pak Hamid dengan menyunggingkan senyumnya di sebelah bibirnya.
"Apa aku bisa memegang kata-katamu." ucap pak Inod dengan tatapan yang mengintimidasi dan kata penuh penekanan.
__ADS_1
"Tentu saja, ngomong-ngomong apa kau mencurigai sesuatu di dalam kantormu." ucap pak Hamid ia mulai menginterogasinya.
"Ada, di dalam rumah pun juga ada." ucap pak Inod.
"Hm, sepertinya lalat ini sudah seperti sangat mengenalnya." batin pak Hamid ia menganggukkan kepalanya "Siapa." tanya pak Hamid penasaran ia mengambil buku dan bolpoin untuk mencatat poin pentingnya.
"Pak malli sekretaris ku, dan di dalam rumah bi Sare kepala pelayan. Hei apakah di dalam sini sangat aman untuk bercerita tentang masalah ini." ucap pak Inod ia khawatir akan ada yang mendengarnya lalu menyampaikannya ke musuhnya.
"Tentang itu, dari tadi memang ada yang mengganjal di dirimu Nod." ucap pak Hamid dengan tatapannya yang menelisik "Berdiri kau." perintah pak Hamid. pak Inod berdiri dan pak Hamid merogoh saku celana yang di kenakan pak Inod, selanjutnya jas dan kemejanya "Lepas sepatu, dasi dan juga Jasmu." perintahnya lagi, pak Inod pun melepas jas dan juga sepatunya. persis yang ia perintahkan, pak hamid memutar-mutar jasnya membalikkan lengan jas yang di pakai pak inod itu "Lepas juga dasimu Inod." geram pak hamid ia mulai jengkel karena temannya ini lelet sekali. sambil pak inod melepaskan dasinya Hamid memeriksa sepatu pak Inod "Kena kau." ucap pak Hamid ia menemukan alat seperti chip yang di letakkan tepat di bawah tali sepatu pak inod benda itu kecil sekali.
"Apa kau menemukan sesuatu." tanya pak Inod sambil berjongkok menyesuaikan sahabatnya yang duduk di lantai bawah ia sangat penasaran sekali, pasalnya dia pergi kemanapun sekertarisnya selalu tau dan ada saja yang datang tak di undang menjemputnya dengan berbagai alasan.
"Siapa yang memberimu ini." tanya pak Hamid sambil memegang chip kecil di tangannya dan pak Inod tak mengerti apa maksud perkataan sahabatnya itu.
"AkU tidak.." ucap pak Inod terputus.
" Aku tanya, siapa yang memberikan sepatu ini." geram pak Hamid.
"Hm sebentar aku ingat-ingat dulu." gumam pak Inod befikir "Ah ya, itu di kasih pak rhega, rekan bisnis ku ketika aku berulang tahun sekitar empat atau tiga tahun yang lalu. aku agak lupa." lirih pak inod dan pak Hamid mendengarkan itu.
"Bukan, bukan dia. seperti nya lalat ini cukup pintar." batin pak Hamid lalu dia menghubungi Syeran "Syeran. cepat kau datang kemari."
BRAK
__ADS_1
Pintu ruangan itu di buka secara kasar dan mereka yang ada di dalam ruangan itu berjengkit kaget lalu mereka menoleh ke arah orang itu. orang yang cumak memakai celana polisi beserta sepatunya dan bajunya oh ya ampun, ia memakai baju oblong. Ketika ia berada di kamar mandi telepon ruangannya berdering akhirnya mau tidak mau ia memaksanya untuk berhenti dan kalian tau bagaimana rasanya ketika sudah di ujung tanduk. Rasanya sakit sekali, ia membersihkannya yang belum ia tuntaskan.dengan secepat kilat ia mengangkat telepon dan berlari menuju ruangan inspekturnya.